INILAHCOM, Jakarta - Nama Pramono Edhie Wibowo dalam
setahun terakhir masuk jajaran elit politik di Partai Demokrat. Namanya
kerap dikaitkan dengan kebesaran ayahandanya, Sarwo Edhie Wibowo, sang
jenderal mantan komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).
Legacy
sang ayah sebagai militer tulen mengalir pada diri Pramono Edhie.
Apalagi jabatan terakhirnya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad)
diselesaikan dengan mulus. Seperti para tokoh Presiden RI sebelumnya,
sebut saja Megawati Soekarnoputri yang mewarisi trah Soekarno.
Demikian
pula Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang merupakan titisan dari
ayahnya KH Wahid Hasyim, tokoh gerakan nasional dan pendiri Majelis
Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) serta kakeknya KH Hasyim Asyari,
pendiri Nahdlatul Ulama.
Ketokohan Sang Ayahanda, Sarwo Edhie,
diakui telah mengalir pada diri Pramono Edhie. Latar belakang sebagai
tentara dan darah kepemimpinan dari sang ayah itulah yang diyakini
menjadi pemicu ketokohannya. Darah tentara secara ideologis dan biologis
telah melekat dan identik dengan figur Pramono. Ia juga menjadi simbol
keberlangsungan trah Sarwo Edhie dalam kancah politik nasional.
Tradisi
kerja dan turun ke lapangan, telah bertahun-tahun melekat dan menjadi
jati diri Pramono di korps militer. Hal yang wajar bila elektabilitas
Pramono Edhie pelan tapi pasti naik secara konsisten.
Walaupun
tergolong baru terjun ke politik praktis, nama Pramono Edhie menyodok.
Setidaknya hal tersebut terlihat dari elektabilitas namanya di jajaran
peserta konvensi Partai Demokrat.
Memang, ketokohan Pramono
seringkali dikait-kaitkan dengan Cikeas, yang merujuk keluarga Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY). Hal yang wajar dan normal mengingat Pramono
adalah adik kandung Ibu Ani Yudhoyono, istri SBY meski posisi ini kerap
tidak menguntungkan bagi pensiunan jenderal ini. Tudingan nepotisme
kerap diarahkan pada Mas Edhie, demikian ia kerap disapa.
Hubungan
darah dengan Ibu Ani Yudhoyono juga menjadikan Pramono kerap dicurigai
sebagai anak emas oleh Partai Demokrat sebagai kandidat presiden yang
akan diusung oleh Partai Demokrat. Tudingan yang tentunya perlu
dibuktikan kebenarannya.
Selain itu, tudingan Pramono Edhie bakal
disiapkan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat setelah masa transisi dari
SBY juga mencuat di publik. Rumor yang sengaja dihembuskan untuk
mengerdilkan pria kelahiran Magelang, 5 Mei 1955 ini.
Bagaimana
nasib politik mantan Pangdam III/Siliwangi dan Pangkostrad ini dalam
Pemilu 2014 mendatang? Lalu bagaimana pula rencana perubahan yang dibawa
Sang Jenderal ini di tubuh Partai Demokrat dan bangsa ini? Apa
pandangannya terhadap calon pemimpin yang akan membawa Indonesia di masa
mendatang?
Inilah yang akan dibahas dalam diskusi INILAH
Demokrasi di INILAHCOM Grup, Minggu (23/2/2014). Diskusi juga akan
menghadirkan pengamat Salim Said dan dipandu moderator dari tim redaksi
INILAHCOM. [mdr]
