INILAHCOM, Jakarta - Apa prestasi Joko Widodo yang
spektakuler selama dia jadi kepala daerah, Wali Kota Solo dan Gubernur
DKI Jakarta itu? Kalau para politisi dan pengamat kebijakan public
melacak bukti-bukti itu dengan parameter keberhasilan birokrasi, niscaya
tak bakal ketemu.
Sebagai contoh, apa yang dibangun dan
dilakukan Jokowi, panggilan popular JokoWidodo, dalam mengatasi banjir
menahun di Kampung Sewu dan Jagalan Kota Solo? Pasti sulit ditemukan.
Faktanya, sampai musim hujan tahun ini, Kampung Sewu dan Jagalan tetap
banjir. Bentuk dan model banjirnya masih sama dengan yang terjadi ketika
Jokowi menjadi Walikota Solo.
Apalagi yang dibangun Jokowi dan
kemudian menjadi icon Kota Solo? Coba sebut Solo Techno Park, kini
dijadikan tempat parkir prototipe Mobil Esemka yang belum diproduksi
secara missal dan komersial. Tempat ini semula dirancang sebagai symbol
kebanggaan baru warga Kota Solo.
Mungkin juga Solo Techno Park
dibayangkan bisa menggantikan symbol kebanggan lama seperti Kraton
Kasunanan, Pasar Klewer, Museum Pers, dan sejumlah simbol kebanggaan
masa lalu yang memang bertebaran di Kota Solo.
Tragisnya, mobil
Esemka-nya sendiri mulai mengelupas dari ingatan banyak orang Solo.
Mobil itu kini dianggap hanya sebagai komoditas politik yang dikemas
untuk melambungkan nama Jokowi.
Kalau mengatasi banjir di Kampung
Sewu dan Jagalan saja takpernah tuntas, apakah Jokowi bisa menunaikan
janji kampanyenya mengatasi banjir multi kompleks di DKI Jakarta? Tanpa
mendahului kehendak Tuhan, janji itu kemungkinan besar baru bisa
diwujudkan 10 tahun yang akan datang oleh Gubernur DKI Jakarta yang
baru, pengganti Jokowi.
Kalkulasinya mudah: untuk bisa mengatasi
banjir di Jakarta, Jokowi harus berhasil dulu mengembalikan kawasan
Puncak Bogor sebagai daerah resapan. Untuk menuntaskan Puncak saja
Jokowi butuh waktu lima tahun dan sangat bergantung kepada Bupati Bogor
Rachmat Yasin.
Setelah selesai mengatasi daerah resapan air di
Puncak, Jokowi harus membangun waduk besar di Gadog dan Ciawi. Ini juga
butuh waktu lama. Mungkin bisa lima tahun kalau Rachmat Yasin dan Jokowi
punya kemampuan mengeksekusi seperti ketika Presiden Soeharto membangun
waduk Gajah Mungkur Wonogiri dan Waduk Kedungombo Boyolali, Jawa
Tengah.
So apa yang membuat Jokowi begitu perkasa
menduduki puncak rating survei dan begitu dicintai masyarakat lapis
bawah? Di masyarakat lapis atas, Jokowi berhasil memasarkan wajah lugu
dan sederhana, yang dipoles dengan tutur kata santun, tenang, tidak
meledak-ledak serta tak sungkan-sungkan mengakui kekurangan pada
dirinya. Gaya seperti ini cukup ampuh untuk ‘mengelabui’ masyarakat
menengah atas yang sudah muak melihat wajaht ampan tapipenjahat, bicara
cerdas tapi pendusta.
Lalu untuk membeli hati rakyat lapis bawah
apa? Jokowi ‘menebusnya’ dengan beras 3 kg dan 5 kg. Di Solo, selama
jadi walikota, Jokowi rajin keliling kampung. Di bagasi mobilnya selalu
tersedia beras 3 kg dan 5 kg. Jokowi memberikan beras itu kepada
siapapun yang dia temui dan dianggap membutuhkannya.
Dengan
membawa beras 3 Kg dan 5 Kg di perkampungan miskin, Jokowi hadir
bagaikan malaikat penyelamat. Konon, di Jakarta juga begitu. Setiap kali
blusukan ke perkampungan kumuh, Jokowi selalu membawa beras untuk
dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Apa yang dilakukan
Jokowi sebetulnya meniru Khalifah Umar bin Khatab. Berkeliling kampong
dengan membawa bahan makanan pokok untuk diberikan kepada rakyatmiskin
agar mereka tak kelaparan. Sayangnya, hanya sisi ini yang dilakukan
Jokowi. Sisi yang lain, apakah Jokowi juga amanah tak tergoda hantu
korupsi dan kolusi? Apakah Jokowi tak tergoda wanita cantik selain
istrinya? Wallahu’alam.
Pertanyaan pertama, tugas penegak hukum
yang harus mengeceknya. Misalnya, KPK perlu mengecek kebenaran laporan
Pimpinan Masyarakat Mega Bintang Mudrick Sangidu soal dugaan korupsi
yang dilakukan Jokowi dalam proses pengalihan aset Pemda Kota Solo.
Pertanyaan kedua, tak perlu kita bahas. Karena itu ghibah, namanya.
Kalau
ternyata Jokowi juga terbukti tersangkut kasus korupsi, maka dia patut
diduga juga telah mencontoh prilaku Umar bin Khatab dengan motif sekadar
pencitraan dan membeli hati rakyat! Sebab, menjadi tidak singkron
antara sikap gemar berbagi yang dilakukan Jokowi dengan tindakan
merampok harta negara yang nota bene harta rakyat. Semoga Jokowi tidak
korupsi…!
