INILAHCOM, Jakarta - Karir politik Gubernur DKI Jakarta
Joko Widodo ternyata tidak melalui desain, plot dan rekayasa yang matang
serta simultan, melainkan apa yang disebutnya karena ‘kecelakaan’
sejarah atau kebetulan. Bagaimana ceritanya?
Ketika
menjadi pembicara dalam kuliah umum dengan tema 'Menuju Good Governance:
Reformasi Birokrasi dan Peran Mahasiswa' yang digelar di Universitas
Paramadina, Jakarta kemarin, Jokowi bercerita mengenai ‘kecelakaan’ saat
pengangkatan dirinya menjadi Wali Kota Solo. Jokowi menyebut dirinya
‘kecelakaan’ saat dilantik menjadi Wali Kota Solo dan bertahta selama
sembilan tahun.
Menurut Jokowi, pada 2012 ia kembali diminta untuk
maju menjadi calon gubernur DKI Jakarta. Ketika itu, ia tidak memiliki
ambisi untuk menang. "Diminta ke Jakarta, awalnya cuma mau jadi
penggembira. Tapi ‘kecelakaan’ lagi (terpilih jadi gubernur), ya bismillah," ujarnya.
Dengan kata lain, sudah dua kecelakaan sejarah terjadi pada hidup Jokowi: menjadi Wali Kota Solo dan Gubernur DKI. Akankah ada kecelakaan ketiga nantinya bagi Jokowi sebagai capres?
Sebab kini Jokowi adalah
salah satu capres terpopuler dari PDIP. Kalau ia benar-benar dicalonkan
sebagai capres oleh Megawati PDIP, tentunya ada potensi untuk kecelakaan
ketiga kali. Jika ini terjadi, Jokowi bakal bisa menjadi legenda
politik di republik ini. Sebab di negara maju sekalipun, di Perancis
atau AS, misalnya, tidak ada seorang gubernur pun yang belum
menyelesaikan masa tugasnya langsung jadi capres.
Apalagi kalau
Jokowi kemudian menang dan terpilih sebagai presiden, itulah kecelakaan
sejarah yang luar biasa dalam hidup tokoh yang berwajah ‘marhaen’ itu,
dari Wali Kota Solo, Gubernur DKI langsung jadi Presiden RI.
Terlepas
dia kini mendapat sokongan dan dukungan media, konglomerat, bahkan
Amerika Serikat di belakangnya, Jokowi bagaimanapun sebuah fenomena
politik dengan segala kejutan, anomali dan keganjilannya.
Tentu,
rakyat tidak boleh menggantungkan harapan, apalagi nasib, hanya
kepadanya, sebab Jokowi jadi capres atau tidak, masih misteri. Malah,
jangan-jangan tidak jadi, lantaran ada perubahan obyektif atas situasi
dan kondisi? [berbagai sumber]
