INILAH.COM, Jakarta - PDI Perjuangan tuding Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) kerahkan intelijen untuk mengikuti Megawati
Soekarnoputri dan menyadap Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo alias
Jokowi.
Hal itu dikatakan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto, di Jakarta, Kamis (20/2/201). Menurutnya, orang yang bisa mengerahkan intelijen secara terorganisir adalah pemerintahan yang berkuasa saat ini.
"Yang bisa mengerahkan alat negara itu (intelijen) siapa lagi kalau bukan pemerintahan (SBY). Apa kami di oposisi bisa mengerahkan itu," tegas Hasto.
Menurutnya, intelijen itu digerakan bukan untuk kepentingan salah satu partai politik yang sedang berkuasa, namun lebih kepada kepentingan pribadi.
"Bukan Demokrat, tapi yang ada di pemerintahan sekarang. Yang berusaha mempertahankan rezim. Yang punya kewenangan operasi intelijen itu," tandasnya. [mes]
Hal itu dikatakan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto, di Jakarta, Kamis (20/2/201). Menurutnya, orang yang bisa mengerahkan intelijen secara terorganisir adalah pemerintahan yang berkuasa saat ini.
"Yang bisa mengerahkan alat negara itu (intelijen) siapa lagi kalau bukan pemerintahan (SBY). Apa kami di oposisi bisa mengerahkan itu," tegas Hasto.
Menurutnya, intelijen itu digerakan bukan untuk kepentingan salah satu partai politik yang sedang berkuasa, namun lebih kepada kepentingan pribadi.
"Bukan Demokrat, tapi yang ada di pemerintahan sekarang. Yang berusaha mempertahankan rezim. Yang punya kewenangan operasi intelijen itu," tandasnya. [mes]
