INILAH.COM, Bondowoso - Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB) Bondowoso, Ahmad Dhofir, menegaskan tugasnya
sebagai ketua partai bukan memenangkan pemilihan gubernur Jawa Timur.
Menurut Dhofir, pemenangan PKB dalam pemilu adalah prioritas utama. Dari pemilu ke pemilu, suara PKB selalu mengalami penurunan. Pemilu 1999, PKB menyabet 29 kursi di DPRD Bondowoso. Pemilu 2004, turun menjadi 24 kursi. Pemilu 2009, kehadiran Partai Kebangkitan Nasional Ulama membuat PKB hanya memperoleh enam kursi.
Dhofir berniat mengembalikan kursi PKB di DPRD Bondowoso setidaknya 24 kursi. Ia sudah menjamin PKB akan menang di Bondowoso.
"Kalau tidak menang, saya tidak akan mau dilantik menjadi anggota DPRD, sekalipun saya terpilih," katanya.
Oleh sebab itu, Dhofir memilih memasang langkah taktis dalam pilgub. Ia mengikuti arus besar warga Nahdliyyin. Mayoritas warga NU di Bondowoso dianggapnya masih mendukung Soekarwo ketimbang Khofifah Indar Parawansa. Maka, ia memilih tidak berseberangan dan tetap mendukung Soekarwo ketimbang mengikuti garis resmi pengurus pusat
partai yang mendukung Khofifah.
"Fokus saya pemenangan pemilu 2014. Persoalan jabatan gubernur atau bupati itu buah dari kemenangan partai. Percuma punya bupati dan gubernur, tapi partai tidak lolos Parliamentary Thresholds (ambang batas parlemen)," kata Dhofir. [beritajatim]
Menurut Dhofir, pemenangan PKB dalam pemilu adalah prioritas utama. Dari pemilu ke pemilu, suara PKB selalu mengalami penurunan. Pemilu 1999, PKB menyabet 29 kursi di DPRD Bondowoso. Pemilu 2004, turun menjadi 24 kursi. Pemilu 2009, kehadiran Partai Kebangkitan Nasional Ulama membuat PKB hanya memperoleh enam kursi.
Dhofir berniat mengembalikan kursi PKB di DPRD Bondowoso setidaknya 24 kursi. Ia sudah menjamin PKB akan menang di Bondowoso.
"Kalau tidak menang, saya tidak akan mau dilantik menjadi anggota DPRD, sekalipun saya terpilih," katanya.
Oleh sebab itu, Dhofir memilih memasang langkah taktis dalam pilgub. Ia mengikuti arus besar warga Nahdliyyin. Mayoritas warga NU di Bondowoso dianggapnya masih mendukung Soekarwo ketimbang Khofifah Indar Parawansa. Maka, ia memilih tidak berseberangan dan tetap mendukung Soekarwo ketimbang mengikuti garis resmi pengurus pusat
partai yang mendukung Khofifah.
"Fokus saya pemenangan pemilu 2014. Persoalan jabatan gubernur atau bupati itu buah dari kemenangan partai. Percuma punya bupati dan gubernur, tapi partai tidak lolos Parliamentary Thresholds (ambang batas parlemen)," kata Dhofir. [beritajatim]
