INILAH.COM, Jakarta - Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PKS
Fahri Hamzah meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) menerapkan sistem baru
dalam ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Ajang baru dimaksud yakni
dengan cara debat terbuka dan bukan melalui iklan kampanye.
Menurut dia, cara tersebut akan lebih efektif untuk mengetahui segala hal seperti visi, misi dan juga track record para capres daripada membiarkan mereka jor-joran beriklan untuk memperkenalkan diri ataupun berlomba-lomba melakukan survei yang tidak mendidik masyarakat untuk memilih.
"KPU harus menyiapkan perdebatan autentik untuk pemilu legislatif dan juga utamanya pemilu presiden," ujar Fahri, di Jakarta, Jumat (26/7/2013).
Fahri mengatakan saat ini masyarakat hanya mengetahui calon presiden melalui iklan saja dan juga survei-survei popularitas saja tanpa bisa mengetahui lebih dalam visi, misi maupun track record mereka. Padahal dengan cara debat terbuka capres, masyarakat akan memiliki wawasan lebih soal kandidat yang akan maju di pilpres nanti.
"Yang bisa membuat masyarakat lebih cerdas dalam memilih calon-calon pemimpin dalam pemikiran dan gagasan membawa Indonesia menjadi jauh lebih baik," tuturnya.
Fahri menilai, popularitas yang didasari iklan dan survei tidak bisa menjadi indikator untuk memilih capres. Sebab dalam kondisi saat ini yang dibutuhkan adalah pemimpin yang bisa memberikan kontribusi terbaik dalam pemikiran dan tindakan.
"Kemampuan pemimpin itu bisa kelihatan bukan dari hasil suveri atau dari iklan, tapi diukur melalui perdebatan-perdebatan. Iklan dan survei itu manipulatif, sementara debat itu real," tegasnya.
Fahri menambahkan di era demokrasi ini masyarakat harus diberikan informasi yang terang terkait kandidat capres dan bukan hanya disajikan dengan iklan dan hasil survei tentang popularitas kandidat capres 2014.
Sebab jika hanya menampilkan iklan-iklan dan survei, maka yang diuntungkan adalah pihak yang memiliki dana besar untuk bisa membuat iklan.
"Ini tentunya bukan satu hal yang substansial yang bisa dijadikan landasan oleh masyarakat dalam memilih pemimpin. Rakyat seperti tidak diberikan pilihan karena yang muncul hanya capres-capres yang memiliki kekuatan dana saja," kata Fahri.
Padahal, tambah dia, banyak sekali anak bangsa ini yang memiliki kemampuan dan harus diberikan kesempatan untuk menjadi calon presiden.
"Seperti PKS, bukannya kami tidak memiliki kader-kader yang layak untuk menjadi capres, tapi kami tidak sanggup mendanai demi mengusung calon presiden jika cara-caranya hanya melalui iklan atau survei yang lazim dilakukan para capres yang sudah mendeklarasikan diri," tandasnya.[yeh]
Menurut dia, cara tersebut akan lebih efektif untuk mengetahui segala hal seperti visi, misi dan juga track record para capres daripada membiarkan mereka jor-joran beriklan untuk memperkenalkan diri ataupun berlomba-lomba melakukan survei yang tidak mendidik masyarakat untuk memilih.
"KPU harus menyiapkan perdebatan autentik untuk pemilu legislatif dan juga utamanya pemilu presiden," ujar Fahri, di Jakarta, Jumat (26/7/2013).
Fahri mengatakan saat ini masyarakat hanya mengetahui calon presiden melalui iklan saja dan juga survei-survei popularitas saja tanpa bisa mengetahui lebih dalam visi, misi maupun track record mereka. Padahal dengan cara debat terbuka capres, masyarakat akan memiliki wawasan lebih soal kandidat yang akan maju di pilpres nanti.
"Yang bisa membuat masyarakat lebih cerdas dalam memilih calon-calon pemimpin dalam pemikiran dan gagasan membawa Indonesia menjadi jauh lebih baik," tuturnya.
Fahri menilai, popularitas yang didasari iklan dan survei tidak bisa menjadi indikator untuk memilih capres. Sebab dalam kondisi saat ini yang dibutuhkan adalah pemimpin yang bisa memberikan kontribusi terbaik dalam pemikiran dan tindakan.
"Kemampuan pemimpin itu bisa kelihatan bukan dari hasil suveri atau dari iklan, tapi diukur melalui perdebatan-perdebatan. Iklan dan survei itu manipulatif, sementara debat itu real," tegasnya.
Fahri menambahkan di era demokrasi ini masyarakat harus diberikan informasi yang terang terkait kandidat capres dan bukan hanya disajikan dengan iklan dan hasil survei tentang popularitas kandidat capres 2014.
Sebab jika hanya menampilkan iklan-iklan dan survei, maka yang diuntungkan adalah pihak yang memiliki dana besar untuk bisa membuat iklan.
"Ini tentunya bukan satu hal yang substansial yang bisa dijadikan landasan oleh masyarakat dalam memilih pemimpin. Rakyat seperti tidak diberikan pilihan karena yang muncul hanya capres-capres yang memiliki kekuatan dana saja," kata Fahri.
Padahal, tambah dia, banyak sekali anak bangsa ini yang memiliki kemampuan dan harus diberikan kesempatan untuk menjadi calon presiden.
"Seperti PKS, bukannya kami tidak memiliki kader-kader yang layak untuk menjadi capres, tapi kami tidak sanggup mendanai demi mengusung calon presiden jika cara-caranya hanya melalui iklan atau survei yang lazim dilakukan para capres yang sudah mendeklarasikan diri," tandasnya.[yeh]
