Headlines News :
Home » » Singapura, Soekarno dan Takutnya Pemimpin Kita

Singapura, Soekarno dan Takutnya Pemimpin Kita

Written By Unknown on Selasa, 11 Februari 2014 | 17.32

INILAH.COM, Jakarta – Julukan apa yang pantas kita sematkan kepada seorang anggota DPR yang gagal mengerti kehendak rakyat yang memilihnya?

Tak perlu memilih sebutan apapun, karena pasti dia tak hendak lagi dipilih rakyat untuk mewakili.
Benar, barangkali saja anggota DPR itu hanya salah menangkap elan yang tengah berkobar. Tetapi bagi seorang politisi, bukankah salah menangkap suara dari bawah adalah pertanda kurang eratnya dia dengan rakyat? Jika tak memiliki kohesi yang baik dengan publik, mana mungkin ia bisa dipercaya mengemban suara dan kepentingan orang banyak.

Sebab, jujur atau tidak, politisi adalah kalangan yang percaya ‘vox populi’ itu ‘ vox Dei’. Suara masyarakat itu ibaratnya firman Tuhan. Berkaitan dengan kursinya, bagi politisi salah menangkap suara rakyat itu tak pelak ibarat gagal menyambar ‘pulung’ kekuasaan.

Di tengah wacana publik yang geram dengan kesombongan Singapura, tampaknya Tubagus Hasanuddin salah mengambil sikap. Mengomentari sikap pemerintah dalam kisruh KRI Usman Harun yang dipersoalkan Negeri Singa itu, wakil Komisi I DPR itu menilai pemerintah telah berlaku reaktif.

“Kalau Singapura ngambek, jangan direspons berlebihan,” kata Hasanuddin, Senin (10/2/2014) lalu. “Tak perlu pakai tensi tinggi.”

Selintas pernyataan itu seperti begitu bijak. Tetapi mengingat sikap pemerintah dalam soal itu sejajar, bahkan seolah wujud representasi kegeraman yang berkembang di masyarakat, justru sikap Hasanuddin yang perlu ditelisik.

Paling tidak, sebagai representasi rakyat di Senayan, mengapa sikapnya begitu berbeda dengan arah arus utama suara rakyat? Bagaimana mungkin Hasanuddin gagal menyerap aspirasi publik di era cyber seperti saat ini? Sementara, bahkan tanpa diminta layar Facebook, Twitter, dan aneka sosial media kita selalu dipenuhi suara-suara mereka, para pemilih itu.

Barangkali, dasar argumen Hasanuddin adalah menjaga perdamaian dengan Singapura. Tetapi tak mungkin Hasanuddin lupa, perdamaian hanya bisa terjadi antara dua pihak yang setara dalam martabat. Dan kita bisa menera, menimbang secermatnya bagaimana Singapura memandang Indonesia dalam satu dekade terakhir ini. Tak mungkin mereka melakukan aneka ulah, dari memelihara koruptor yang lari ke sana, berkali memasuki kawasan perairan dan wilayah udara kita, hingga mempetieskan perjanjian ekstradisi, bila memandang kita--tetangganya, sekufu dalam marwah.

Kita tahu, beribu tahun lalu Flavius Vegetius Renatus menuliskan adagium si vis pacem para bellum. “Jika kau mengidamkan perdamaian, persiapkan kemungkinan untuk berperang.”

Tetapi meski benar secara esensi, perdamaian seperti itu bukan sejati. Bukankah hubungan yang sehat dan modern seharusnya berintikan ’si vis pacem, para pactum,’? Jika Anda ingin hidup damai, sepakatlah untuk memelihara perdamaian. Singapura, negara modern yang kaya itu, tampaknya belum memegang erat diktum kehidupan beradab itu.

Satu hal yang tampaknya Pak Hasanuddin lupa. Anak negeri ini tengah memerlukan keberanian, di tengah para pemimpin mereka yang tampak selalu ketakutan akan liyan. Warga negara ini tak melihat ada teladan yang bisa mereka ikuti. Akhirnya, generasi ini, seperti kata Kahlil Gibran, “...mereka putra-putri sang hidup, yang rindu akan diri sendiri..” Rindu akan Indonesia yang penuh marwah, sebab mereka tahu, itu pernah ada di sejarah negeri di masa lalu.

Dari sejarah mereka berkaca. Pada suatu ketika, seiring perjalanan hajinya, Soekarno mendarat di Singapura. Wilayah seupil itu ketika itu merupakan bagian Malaysia, negeri yang dalam bayangan Bung Karno dibuat hanya demi kepentingan neo kolonialisme imperealisme (Nekolim) semata. Di hadapan warga Indonesia di sana, di bandara Singapura itu, pada musim haji 1955 itu Bung Karno memulai pidato dengan pekik membahana.

”Merdeka ! Merdeka!” teriaknya. Teriakan kebebasan di satu wilayah yang belum termerdekakan, baik dari Malaysia maupun Inggris yang menjajahnya.

Kita tak tahu seberapa dalam pekik berdaya magis itu tertanam di kepala Lim Yew Hock, Rajaratnam, Dhanabalan dan para pendiri Singapura lainnya. Yang jelas, pada 1965 Singapura resmi berpisah menjadi negara sendiri. Bukankah secara tak langsung Singapura harus berterima kasih kepada Soekarno yang telah menginspirasi?

Paling tidak, sebelum mereka tahu dari penulis peraih Pulizter, Katherine Anne Porter, dari Soekarno mereka tahu bahwa dalam hidup keberanian adalah hal terutama. [dsy]
Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI