INILAH.COM, Jakarta - Polemik Kapal Perang Indonesia (KRI) Usman Harun,
tidak ingin menjadikan Indonesia dengan Singapura bersitegang lagi.
Indonesia tidak mau konfrontasi dengan Singapura, harus ada komunikasi.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa ingin Singapura paham dan mengerti dengan penamaan KRI Usman Harun itu.
"Ini kedepannya kita harus komunikasi dan harus mengelolanya dengan baik. Saya yakin Singapura juga akan dapat memahami pendekatan seperti itu. Jadi kita komunikasi terus," kata Marty di sela-sela Rakornas di JCC Jakarta Selatan, Selasa (11/2/2014).
Cukup tahun 1962-1966 hubungan diplomatis itu memanas. Dia optimis, persoalan ini tidak membuat hubungan Indonesia-Singapura memanas.
Marty mengatakan, penamaan kapal tersebut tidak bermaksud untuk menyinggun pemerintahan negeri itu.
"Saya rasa harus makin mengelola dengan baik, Indonesia-Singapura adalah tetangga yang memiliki kepentingan bersama dengan konsumtif yang saling menghormati, menguntungkan," ujarnya.
Ada persoalan memang, terutama berbeda pendapat. Namun dia mengatakan itu hanya dinamika saja.
"Bahwasanya ada dinamika, saya kira kita telah kelola dan kedepan kita ingin proyeksikan pandangan, tidak ada maksud untuk bermusuhan termasuk penamaan kapal, tidak ada maksud untuk tidak bersahabat," tandasnya. [gus]
Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa ingin Singapura paham dan mengerti dengan penamaan KRI Usman Harun itu.
"Ini kedepannya kita harus komunikasi dan harus mengelolanya dengan baik. Saya yakin Singapura juga akan dapat memahami pendekatan seperti itu. Jadi kita komunikasi terus," kata Marty di sela-sela Rakornas di JCC Jakarta Selatan, Selasa (11/2/2014).
Cukup tahun 1962-1966 hubungan diplomatis itu memanas. Dia optimis, persoalan ini tidak membuat hubungan Indonesia-Singapura memanas.
Marty mengatakan, penamaan kapal tersebut tidak bermaksud untuk menyinggun pemerintahan negeri itu.
"Saya rasa harus makin mengelola dengan baik, Indonesia-Singapura adalah tetangga yang memiliki kepentingan bersama dengan konsumtif yang saling menghormati, menguntungkan," ujarnya.
Ada persoalan memang, terutama berbeda pendapat. Namun dia mengatakan itu hanya dinamika saja.
"Bahwasanya ada dinamika, saya kira kita telah kelola dan kedepan kita ingin proyeksikan pandangan, tidak ada maksud untuk bermusuhan termasuk penamaan kapal, tidak ada maksud untuk tidak bersahabat," tandasnya. [gus]
