INILAH.COM, Palu - Polda Sulawesi Tengah mengibarkan Bendera
Merah Putih setengah tiang dan kantor polisi di seluruh wilayah ini
selama tiga hari.
Hal ini bentuk duka citas atas meninggalnya Bhayangkara Dua Putu Satrya saat mengejar terduga teroris di Kabupaten Poso, Kamis (6/2/2014).
Pejabat Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah Kompol Rostin Tumaloto mengatakan, pengibaran bendera yang menandakan suasana berkabung.
"Ini akan dilaksanakan selama tiga hari kedepan," kata Rostin, Sabtu (8/2/2014).
Jenazah Putu Satrya Wirabuana sudah diterbangkan ke Bali untuk dimakamkan ke kampung halamannya di Jembrana.
Sebelumnya jenazah anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah Subden Gegana itu disemayamkan di Markas Komando Brimob Polda Sulawesi Tengah di Kota Palu.
Putu Satrya meninggal dunia karena tertembak di bagian dada hingga tembus ke jantung.
Baku tembak itu terjadi saat tim Brimob Polda Sulawesi Tengah Subden Gegana yang berjumlah 17 personel melakukan patroli di Gunung Padang Lambara tiba-tiba diserang kawanan sipil bersenjata hingga akhirnya saling balas tembakan yang memakan korban jiwa dari kedua belah pihak.
Semenjak terjadinya aksi baku tembak antara polisi dan kelompok terduga teroris di Kabupaten Poso, penjagaan di Mapolda diperketat dengan memeriksa identitas dan barang bawaan pengunjung.
Saat ini aparat masih memburu kelompok sipil bersenjata di Kabupaten Poso yang diperkirakan bersembunyi di hutan belantara.
Kelompok radikal tersebut diduga kuat anak buah Santoso yang saat ini masih buron.[man]
Hal ini bentuk duka citas atas meninggalnya Bhayangkara Dua Putu Satrya saat mengejar terduga teroris di Kabupaten Poso, Kamis (6/2/2014).
Pejabat Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah Kompol Rostin Tumaloto mengatakan, pengibaran bendera yang menandakan suasana berkabung.
"Ini akan dilaksanakan selama tiga hari kedepan," kata Rostin, Sabtu (8/2/2014).
Jenazah Putu Satrya Wirabuana sudah diterbangkan ke Bali untuk dimakamkan ke kampung halamannya di Jembrana.
Sebelumnya jenazah anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah Subden Gegana itu disemayamkan di Markas Komando Brimob Polda Sulawesi Tengah di Kota Palu.
Putu Satrya meninggal dunia karena tertembak di bagian dada hingga tembus ke jantung.
Baku tembak itu terjadi saat tim Brimob Polda Sulawesi Tengah Subden Gegana yang berjumlah 17 personel melakukan patroli di Gunung Padang Lambara tiba-tiba diserang kawanan sipil bersenjata hingga akhirnya saling balas tembakan yang memakan korban jiwa dari kedua belah pihak.
Semenjak terjadinya aksi baku tembak antara polisi dan kelompok terduga teroris di Kabupaten Poso, penjagaan di Mapolda diperketat dengan memeriksa identitas dan barang bawaan pengunjung.
Saat ini aparat masih memburu kelompok sipil bersenjata di Kabupaten Poso yang diperkirakan bersembunyi di hutan belantara.
Kelompok radikal tersebut diduga kuat anak buah Santoso yang saat ini masih buron.[man]
