INILAH.COM, Bengkulu - Menteri Komunikasi dan Informatika
(Menkominfo) Tifatul Sembiring mengakui prihatin karena jumlah Golongan
Putih (Golput) dalam Pemilu terus meningkat.
"Tren golput di Pileg (pemilihan legislatif) dan Pilkada (pemilihan kepala daerah) meningkat," kata Tifatul di Hotel Grage Horizon Bengkulu , Sabtu, (8/2/2014).
Untuk itu, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini meminta kepada insan pers memberikan edukasi kepada masyarakat supaya berpartisipasi sebagai pemilih.
"Sepertinya urusan edukasi kurang dapat perhatian, kontrol sosial masih digunakan untuk alat politik. Karena, sebagian owner media juga merangkap sebagai politisi," jelas dia.
Ia mengungkapkan, angka golput di Indonesia setiap tahunnya meningkat. Misalnya, pada Pileg tahun 1999 angka golput sekitar 10,2 persen. Kemudian, Pileg 2004 juga meningkat menjadi 23,3 persen.
"Tahun 2009 sampai 29 persen masyarakat tidak menggunakan hak pilihnya. Ini partisipasi masyarakat menurun," ujarnya.
Hal ini juga terjadi di Pemilihan Gubernur Sumatera Utara, angka golput menjulang tinggi hingga 5,3 juta. Lalu, Pilkada Jawa Tengah angka golput mencapai 51,01 persen.
"Begitu juga di Deli Serdang partisipasi masyarakat hanya 41 persen, sedangkan golput mencapai 59 persen," ucapnya lagi.
Menurutnya, di Ibukota Jakarta angka golput mengalami penurunan pada tahun 2007 mencapai 35,2 persen, namun di tahun 2012 menjadi 32 persen.
"Tahun 2012 Pilkada DKI, Jokowi-Ahok mencapai 37 persen dan golput 32 persen," tandasnya.[man]
"Tren golput di Pileg (pemilihan legislatif) dan Pilkada (pemilihan kepala daerah) meningkat," kata Tifatul di Hotel Grage Horizon Bengkulu , Sabtu, (8/2/2014).
Untuk itu, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini meminta kepada insan pers memberikan edukasi kepada masyarakat supaya berpartisipasi sebagai pemilih.
"Sepertinya urusan edukasi kurang dapat perhatian, kontrol sosial masih digunakan untuk alat politik. Karena, sebagian owner media juga merangkap sebagai politisi," jelas dia.
Ia mengungkapkan, angka golput di Indonesia setiap tahunnya meningkat. Misalnya, pada Pileg tahun 1999 angka golput sekitar 10,2 persen. Kemudian, Pileg 2004 juga meningkat menjadi 23,3 persen.
"Tahun 2009 sampai 29 persen masyarakat tidak menggunakan hak pilihnya. Ini partisipasi masyarakat menurun," ujarnya.
Hal ini juga terjadi di Pemilihan Gubernur Sumatera Utara, angka golput menjulang tinggi hingga 5,3 juta. Lalu, Pilkada Jawa Tengah angka golput mencapai 51,01 persen.
"Begitu juga di Deli Serdang partisipasi masyarakat hanya 41 persen, sedangkan golput mencapai 59 persen," ucapnya lagi.
Menurutnya, di Ibukota Jakarta angka golput mengalami penurunan pada tahun 2007 mencapai 35,2 persen, namun di tahun 2012 menjadi 32 persen.
"Tahun 2012 Pilkada DKI, Jokowi-Ahok mencapai 37 persen dan golput 32 persen," tandasnya.[man]
