Headlines News :
Home » » Menggoda Si Loreng ke Kancah Politik

Menggoda Si Loreng ke Kancah Politik

Written By Unknown on Selasa, 11 Februari 2014 | 10.56

INILAH.COM, Jakarta - Magnit Panglima TNI Jenderal Doktor Moeldoko cukup seksi di mata partai politik. Setelah Partai Golkar memasukkan namanya menjadi nominasi salah satu calon wakil presiden Aburizal Bakrie, kini putera Kediri ini justru dicalonkan menjadi calon presiden oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Partai politik peninggalan Orde Baru seperti Partai Golkar dan PPP sudah mengelus jenderal yang baru lulus Doktor di Universitas Indonesia (UI) akhir pekan lalu itu. PPP yang menggelar Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II di Bandung, Jawa Barat akhir pekan lalu, memasukkan nama Moeldoko di deretan tujuh nama calon presiden yang diusung.

Mukernas merupakan forum tertinggi kedua setelah muktamar. Keputusan yang tentunya memiliki dampak politik tidak sederhana, meski dalam politik kedinamisan menjadi suatu keniscayaan.

Ketika dikonfirmasi perihal penyebutan namanya oleh sejumlah partai politik sebagai kandidat capres maupun Cawapres, Moeldoko justru mengaku hingga saat ini belum ada satupun partai politik yang menghubungi dirinya. "Tidak ada (yang mendekati)," kata Moeldoko ditemui disela-sela rapat kerja Komisi I DPR RI dengan Panglima TNI di gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Senin (10/2/2014).

Dalam kesempatan tersebut Moeldoko justru merendah. Menurut dia, dirinya tidak memiliki model sebagai calon prresiden. Ia merasa tidak pantas menjadi presiden. "Model begini kok jadi calon presiden," ucapnya merendah seraya tersenyum.

Figur tentara sejak era orde baru menjadi kekuatan sentral dalam pentas politik nasional. Era Soeharto, tentara menjadi jalur utama sebagai penopang pemerintahan Orde Baru dengan tiga jalur yang populer yakni ABRI, Birokrasi dan Golkar (ABG).

Pasca reformasi, agenda dwi fungsi TNI/Polri menjadi titik balik tentara kembali ke barak. Hal itu diwujudkan dengan keberadaan UU No 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Wakil Ketua Komisi I DPR RI TB Hasanuddin menyayangkan sikap sejumlah partai politik yang menggoda TNI untuk kembali bermain dalam politik praktis dengan menarik Panglima TNI aktif menjadi capres. "Demi netralitas TNI , mari kita hentikan pemikiran-pemikiran seperti ini," cetus pensiunan jenderal bintang tiga ini.

Mantan sekretaris militer era Presiden Megawati Soekarnoputri ini mengingatkan agar semua pihak tidak menjerumuskan institusi tentara dalam politik praktis untuk kali keduanya. "Biarkan TNI maju dan berkembang menjadi tentara profesional dan tentara pejuang demi tegak dan jayanya NKRI," ingat putra Banten ini.

Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI