INILAH.COM, Jakarta - Partai politik yang tergolong
matang atau dewasa saat ini, dilihat dari sudut usia, hanya ada tiga,
Golkar, PPP dan PDIP. Karena kebetulan hanya ketiga partai itu saja yang
sudah berkiprah di politik sejak 1970-an.
Sementara
satu-satunya partai yang masih kental kadar nasionalisme yang didasarkan
pada ajaran Bung Karno, hanyalah PDI Perjuangan. Kebetulan PDIP saat
ini dipimpin oleh Megawati, salah seorang puteri Bung Karno.
Sebagai
anak biologis Bung Karno, kebetulan hanya Mega satu-satunya puteri sang
Proklamator yang terjun ke politik secara totalitas. Keputusan Megawati
terjun di dunia politik, terjadi pada saat pemberantasan paham Soekarno
(Bung Karno) sedang gencar-gencarnya dilaksanakan.
De-Soekarnoisasi
oleh rezim Orde Baru (1966- 1998) dengan mengatakan secara implisit
Soekarnoisme tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Alasannya
antara lain, di era Bung Karno, Indonesia menjadi salah satu negara
terpuruk di dunia. Bung Karno sangat doyan dengan slogan (politik).
Rakyat butuh makan makanan. Bukan makan slogan.
Keterpurukan
ditenggarai terjadi karena Bung Karno menjadikan politik sebagai
panglima. Seharusnya, demikian para penentang Bung Karno, yang harus
jadi panglima adalah ekonomi.
Sehingga dari sudut keberanian dan
integritas, keputusan Megawati pada 1987 itu, patut diacungi jempol. Di
saat mayoritas bangsa Indonesia, terutama generasi muda sudah dicekoki
indoktrinasi anti-Bung Karno, Megawati justru menjadi advokat politik
ala Bung Karno.
Dengan meneruskan perjuangan Bung Kanro, Megawati
telah menunjukkan bahwa dia bukan saja seorang anak yang ingin menikmati
kekuasaan yang diperoleh oleh ayahnya. Tetapi Megawati juga siap
menghadapi penguasa yang sedang gencar-gencarnya melakukan penisbian
atas paham Bung Karno.
Kalaupun kakaknya Rachmawati Soekarnoputri,
adiknya Sukmawati Soekarnoputri, akhirnya terjun ke politik dengan cara
mendirikan partai pro Soekarno, tetapi magnitude mereka kurang kuat.
Sebab keduanya baru muncul belakangan.
Demikian pula sekalipun
adiknya Guruh Soekarnoputra juga masuk PDI bersama Megawati di tahun
yang sama, tetapi sosok Guruh lebih dikenal sebagai seorang seniman. Dan
seniman di Indonesia - maaf, belum dianggap sebagai politikus sejati
melainkan sekadar selebriti!
Oleh sebab itu ketika dalam Pemilu
Reformasi April 1999, PDI merebut suara terbanyak, kemudian mengubah
nama partai menjadi PDI-Perjuangan, yang terlintas di mata publik adalah
Megawati sudah berada di jalur cita-citanya. Yakni ia meneruskan
perjuangan cita-cita Bung Karno dan menghidupkan kembali legacy Presiden
pertama RI tersebut.
Cita-cita Bung Karno yang paling jelas
adalah menjadikan Indonesia sebagai negara besar yang diperhitungkan
bangsa-bangsa di dunia atau serta ikut menentukan konstalasi politik
dunia. Megawati berhasil menjadi Presiden RI baru pada pada 2001. Pada
Pemilihan Presiden di Sidang Istimewa MPR RI Oktober 1999, Megawati
hanya menjadi Wakil Presiden.
Dalam Pilpres yang
pemilihannya masih melalui lembaga MPR, Megawati digembosi oleh "Poros
Tengah" yang digagas Amin Rais dkk. Sehingga yang terpilih Abdurrahman
Wahid (Gus Dur). Akibatnya agenda Megawati langsung memperjuangkan
cita-cita Bung Karno, tertunda.
Megawati menjadi Presiden, karena
posisinya sebagai Wapres, terpromosi, akibat Presidan Gus Dur
dilengserkan oleh MPR-RI (Majelis Permusyarawatan Rakyat Republik
Indonesia) setelah selama kurang lebih 1,5 tahun berkuasa. Jadi naiknya
Megawati ke kursi Presiden RI terjadi karena faktor "kecelakaan".
Selama
3,5 tahun Megawati berkuasa, ia gagal mencapai cita-cita almarhum
ayahnya. Megawati lebih banyak melakukan konsolidasi. Megawati
meninggalkan Istana 20 Oktober 2004 dalam suasana seperti isteri yang
meninggalkan kamar tidurnya, tanpa mencapai klimaks.
Oleh sebab
itu dalam Pilpres di 2009, Megawati kembali maju dalam persaingan.
Tujuannya, untuk mencari kepuasan. Dalam arti ingin melihat bagaimana
cita-cita Bung Karno tercapai. Rindu melihat Indonesia dipandang sebagai
negara yang punya martabat.
Sehingga dalam Pilpres 2014, bahasa
tubuh Megawati mengirim sinyal, bahwa janda mendiang Taufiq Kiemas ini
masih ingin mencari kepuasan. Karena Megawati sadar, Indonesia bukannya
makin dekat dengan apa yang dicita-citakan almarhum ayahnya. Tapi
semakin jauh.
Ia seperti terobsesi menjadi mirip almarhumah Indira
Ghandi, wanita pertama Perdana Menteri India yang membuat negaranya
tetap disegani. Ayah Indira, Nehru Perdana Menteri pertama India,
merupakan sahabat Bung Karno.
Namun di saat Megawati ingin mencari
kepuasaan itu, usianya di 2014 sudah mencapai 67 tahun. Usia seperti
ini mengingatkan tahun-tahun terakhir almarhum Bung Karno. Usia yang
sudah kurang produktif. Pemimpin yang sudah merasa serba tahu segalanya.
Ketika
Bung Karno mengalihkan kekuasaannya lewat Surat Perintah Sebelas Maret
(11 Maret 1966) kepada Jenderal Soeharto, usia Bung Karno pada waktu itu
sudah mencapai 65 tahun! Usia inilah mungkin yang menjadi kendala bagi
Megawati untuk maju dalam Pilpres 2014.
Beruntung Megawati sudah
punya kader yang usianya baru 51 tahun, Joko Widodo (Jokowi). Dari
suara-suara yang ada di masyarakat Jokowi yang baru satu tahun menjabat
Gubernur DKI, juga mendapat dukungan yang relatif cukup luas.
Sampai
dengan akhir 2013, Megawati terus memperlihatkan kepercayaannya kepada
Jokowi. Selain sering hadir bersama dalam satu acara, bepergianpun
Megawati selalu dalam kendaraan yang sama dengan Jokowi. Selain itu,
Jokowi sering diajak makan di kediaman Megawati, Jl.Teuku Umar, Jakarta
Pusat.
Tapi belakangan pemandangan seperti ini berkurang.
Pernyataan dukungan Megawati terhadap Jokowi untuk menjadi Capres 2014,
juga makin jarang didengar. Sejumlah kader PDIP menangkap kesan, ada
perubahan secara mendasar dalam sikap Megawati menghadapi Pilpres 2014.
Megawati
mulai terpengaruh oleh sanjungan. Terutama yang datang dari partai yang
sejatinya berkepentingan menjegalnya. Megawati pun mulai tergoda.
Situasi ini kemudian memicu lahirnya gerakan internal yang menamakan
diri Pro Joko Widodo (Projo). Dimana mereka tidak menginginkan PDIP
mencalonkan figur lain kecuali Jokowi.
Namun nampaknya persoalan
lain yang muncul dalam benak Megawati - soal kadar nasionalisme ala Bung
Karno. Megawati ragu apakah Jokowi merupakan pemimpin yang membawa
titisan Bung Karno? Keraguan Megawati masuk akal. Sebab dari berbagai
sudut manapun dilihat, tak sedikitpun yang ada dalam penampilan Jokowi,
mencerminkan adanya "semangat Bung Karno" dalam dirinya.
Megawati
sesunguhnya hanya percaya pada dirinya. Paling banter kepada Puan
Maharani dan Prananda Prabowo. Keduanya merupakan anak biologis
Megawati. Sebagai anak biologis, tentu saja mereka mewarisi darah Bung
Karno.
Yang menjadi kendala, kalau Puan Maharani ataupun Prananda
yang dipilih Megawati sebagai Capres, tak ada jaminan mereka pun akan
mampu memperjuangkan cita-cita Bung Karno. Bahkan pertanyaan paling
penting, apakah Puan atau Prananda sudah bisa merepresentasikan
"kharisma Bung Karno"?
Benar bahwa saat ini sebagian rakyat memang
rindu kehadiran pemimpin berkharisma seperti Bung Karno. Tapi kharisma
itu belum terlihat pada kedua anak Megawati.
Sekalipun Puan dan
Prananda merupakan keturunan Bung Karno, rekam jejak mereka sebagai
generasi penerus pejuang cita-cita Bung Karno, belum terekam dalam
memori publik. [mdr]
