INILAHCOM,
Jakarta - Gubernur DKI Joko Widodo atau Jokowi diminta fokus kerja
membenahi Jakarta, jangan lagi melakukan pencitraan demi Pemilu Presiden
2014.
Peneliti dari POINT Indonesia Karel Susetyo mengatakan Jokowi selama memimpin ibu kota hobinya blusukan untuk pencitraan. Ini tiada lain sebagai manuver politik.
"Sekarang fokus bekerja saja, jangan banyak melakukan manuver politik untuk pilpres," kata Karel kepada INILAHCOM, Jumat (21/2/2014).
Ia menegaskan Jokowi dan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok harus ingat janji politik mereka ketika kampanye Pilgub 2012, yakni memimpin DKI selama lima tahun.
"Harus diingat bahwa kontrak Jokowi-Ahok dengan rakyat Jakarta itu lima tahun. Kalau kontrak berhenti di tengah jalan, berarti Jokowi-Ahok melakukan wanprestasi politik," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, berdasarkan hasil survei Lembaga Survey Indonesia Network Election Survey (INES), elektabilitas Jokowi justru menurun karena hobi blusukannya.
Menurut Direktur Eksekutif INES Irwan Suhanto, penurunan tersebut diakibatkan oleh persoalan utama Jakarta seperti macet dan banjir, tidak mampu ia atasi meskipun dengan blusukan. Dari temuan survei, ternyata ada 67% responden yang tidak suka dengan kegemaran blusukan Jokowi yang dianggap tidak ada hasil.
"Ini akibat janji Jokowi saat pilgub dulu berkata banjir dan macet itu gampang diatasi, tinggal manajemen anggarannya saja. Tapi hal itu hampir tidak terealisasi, sehingga timbul kekecewaan," katanya.
Sebelumnya pada Januari lalu, Pusat Data Bersatu (PDB) juga mengeluarkan hasil survei yang menunjukan jika elektabilitas Jokowi mengalami penurunan. Pendiri Pusat Data Bersatu (PDB) Didik J. Rachbini mengatakan, penurunan itu karena adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi.
Bahkan saat itu Didik meramalkan jika ada kemungkinan usai banjir yang melanda Jakarta, elektabilitas Jokowi akan kembali turun. [yeh]
Peneliti dari POINT Indonesia Karel Susetyo mengatakan Jokowi selama memimpin ibu kota hobinya blusukan untuk pencitraan. Ini tiada lain sebagai manuver politik.
"Sekarang fokus bekerja saja, jangan banyak melakukan manuver politik untuk pilpres," kata Karel kepada INILAHCOM, Jumat (21/2/2014).
Ia menegaskan Jokowi dan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok harus ingat janji politik mereka ketika kampanye Pilgub 2012, yakni memimpin DKI selama lima tahun.
"Harus diingat bahwa kontrak Jokowi-Ahok dengan rakyat Jakarta itu lima tahun. Kalau kontrak berhenti di tengah jalan, berarti Jokowi-Ahok melakukan wanprestasi politik," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, berdasarkan hasil survei Lembaga Survey Indonesia Network Election Survey (INES), elektabilitas Jokowi justru menurun karena hobi blusukannya.
Menurut Direktur Eksekutif INES Irwan Suhanto, penurunan tersebut diakibatkan oleh persoalan utama Jakarta seperti macet dan banjir, tidak mampu ia atasi meskipun dengan blusukan. Dari temuan survei, ternyata ada 67% responden yang tidak suka dengan kegemaran blusukan Jokowi yang dianggap tidak ada hasil.
"Ini akibat janji Jokowi saat pilgub dulu berkata banjir dan macet itu gampang diatasi, tinggal manajemen anggarannya saja. Tapi hal itu hampir tidak terealisasi, sehingga timbul kekecewaan," katanya.
Sebelumnya pada Januari lalu, Pusat Data Bersatu (PDB) juga mengeluarkan hasil survei yang menunjukan jika elektabilitas Jokowi mengalami penurunan. Pendiri Pusat Data Bersatu (PDB) Didik J. Rachbini mengatakan, penurunan itu karena adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi.
Bahkan saat itu Didik meramalkan jika ada kemungkinan usai banjir yang melanda Jakarta, elektabilitas Jokowi akan kembali turun. [yeh]
