INI True story. Ketika Catholic Relief for
Sevices (CRS), sebuah founding yang berpusat di Huston, Texas AS,
memberi kepercayaan kepada Yayasan Padi Kasih menyewa empang di
Cengkareng untuk memberdayakan kelompok masyarakat multietnik dan agama.
Ada etnik Tionghoa, Madura, Betawi, Timor Leste (ketika itu masih masuk
bagian dari NKRI), dan Bugis-Mandar.
Warga masyarakat
tersebut sama-sama menggarap empang itu dengan pola bagi hasil. Setiap
bidang empang diberikan kepercayaan kepada beberapa orang yang berbeda
etnik dan agamanya. Betapa indahnya kebersamaan kala itu, ketika udang
di empang itu dipanen semua pekerja merasa puas karena udangnya
gemuk-gemuk dan pasti harganya baik. Mereka seperti lupa kalau sekat
agama, etnik, dan suku yang tadinya membedakan dirinya.
Di luar
dugaan, tiba-tiba di beberapa tempat di Jakarta terjadi kerusuhan besar
(Mei 1977). Sejumlah rumah-rumah warga Tionghoa di beberapa tempat di
Jakarta dibakar. Wajar kelompok etnik Tionghoa saat itu banyak yang
resah. Bahkan ada yang mengungsi ke Singapura atau negara tetangga lain.
Namun
para pekerja empang dari etnik Tionghoa sama sekali tidak menunjukkan
tanda-tanda kecemasan. Teman-teman seperjuangannya yang muslim berdiri
di depan rumah mereka untuk memproteksi kelompok yang bermaksud buruk
terhadapnya. Mereka meronda di depan rumah temannya hingga betul-betul
aman. Kebersamaan di antara mereka betul-betul sangat indah. Ini
menunjukkan the humanity is only one.
Pemandangan yang
serupa terjadi ketika Gus Dur wafat beberapa tahun lalu. Banyak air mata
tumpah membasahi pipi laki-laki dan perempuan, orang tua dan anak-anak
remaja, pipi warna putih dari saudara-saudara kita keturunan Tionghoa
dan pipi warna hitam dari saudara-saudara kita dari tanah Papua, dari
kepala yang bersurban putih para ulama dan blankon putih para pendeta
Hindu.
Air mata seperti tidak mengenal jenis kelamin, batas usia,
perbedaan agama, dan etnik. Semua air mata sama beningnya. Dari mana pun
datangnya, apapun jenis kelamin, etnik, dan agamanya. Sampai saat ini
makam Gus Dur ramai dikunjungi oleh peziarah lintas agama dan budaya
serta masing-masing mendoakannya dengan khusyuk. Ini membuktikan bahwa the humanity in only one.
Ketika
Tsunami menyerang Aceh dan sekitarnya, mayat bergelimpangan di
mana-mana. Peristiwa ini menggugah para relawan dari berbagai etnik dan
agama membantu para korban dan keluarga korban di Aceh. Tanpa dikomando
para relawan tersebut bagaikan tak kenal lelah menggotong mayat-mayat
untuk dikuburkan. Sekat-sekat etnik dan agama tidak muncul di daerah
ini.
Ini disebabkan karena rasa kemanusiaan yang mendalam sesame
anak bangsa dan sesama hamba Tuhan. Bahkan relawan dari mancanegara
berdatangan memberikan bantuan kemanusiaan terhadap para korban Tsunami.
Betul-betul rasa kemanusiaan itu menembus batas-batas geografis,
cultural, dan agama. Lagi-lagi di sini terbukti lagi bahwa the humanity is only one.
Ketika
bangsa ini hidup di bawah tekanan penjajah kolonial, warga bangsa dari
Sabang sampai Merauke melupakan perbedaan etnik dan agamanya seraya
mengangkat senjata dan apa saja yang bisa dijadikan senjata untuk
mengusir penjajah.
Rasa nasionalisme dan patriotism membangkitkan
adrenalin warga bangsa untuk membela bangsanya sampai titik darah yang
terakhir. Agama dan cinta Tanah Air saling memperkuat untuk membebaskan
bangsa dari belenggu penjajahan. Puncaknya ketika para Founding Fathers
bangsa kita merumuskan naskah proklamasi dan konstitusi, kelihatan
sekali kebersamaannya sebagai warga satu nusa satu bangsa dan satu
bahasa.
Meskipun umat Islam menduduki mayoritas mutlak tetapi
tidak muncul dalam konstitusi sebagai umat Istimewa. Kemayoritasan umat
Islam tidak berpengaruh di dalam konsep konstitusi. Sekecil apapun
jumlah sebuah kelompok mempunyai kedudukan yang sama dengan kelompok
lain sebesar apapun kelompok itu. Inilah Indonesia dengan symbol
Bhinneka Tunggal Ika. Betul-betul kebersamaan itu indah. Kebersamaan
tidak boleh dikalahkan oleh pertikaian. [mdr]
