INILAH.COM, Jakarta - Belakangan ini Partai Golkar
berkeinginan menjadi oposisi. Padahal sejak Orde Baru sampai hari ini,
Golkar dikenal sebagai partai pendukung pemerintah. Apa yang terjadi?
Masih
mungkinkah partai berlambang pohon beringin itu menjadi oposisi? Budaya
oposisi tidak ada dalam diri Golkar, kalau pun dipaksakan jadi oposisi,
Golkar mesti banyak belajar.
Sebagian analis menilai, kalau benar
Partai Golkar menjadi oposisi, bakal melahirkan sesuatu yang dilematis.
Apapun yang dilakukan Golkar bisa dinilai sebagai upaya melakukan balas
dendam terhadap apa yang menimpa Orde Baru yang selama ini identik
dengan partai berlambang pohon beringin itu.
Anggapan lain jika
Golkar menjadi oposisi, akan muncul pandangan bahwa partai ini berupaya
untuk mengembalikan kekuasaan di masa lalu dan mengatasnamakan
orang-orang yang berkuasa di masa lampau. Atau Golkar bisa dianggap sok
suci dan idealis sementara masa lalunya di Orde Baru kelam kelabu.
Dalam
hal ini, Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengatakan,
partainya telah mewacanakan akan mengambil posisi politik sebagai parpol
oposisi. Selama sejarah politiknya Golkar tidak pernah menjadi parpol
oposisi. Hal inilah yang mendasari pemikiran beberapa internal Golkar
soal peluang untuk beroposisi.
Barangkali Golkar bisa jadi partai
oposisi yang kritis untuk menyehatkan demokrasi, dengan catatan Beringin
berani menghapus budaya korupsi dalam dirinya sendiri. Tapi memang
selama ini Golkar belum pernah mencoba sebagai oposisi. Dan terpenting,
tujuan untuk berada di luar pemerintahan itu positif sehingga partai
berlogo pohon beringin ini mustinya siap untuk melakukannya.
Apalagi
Partai Golkar kini mulai berfikir untuk mengambil terobosan politik
baru. Golkar sudah waktunya berani disebut sebagai kekuatan penyeimbang
dan bukan pendukung pemerintah sehingga perlu mencoba menjadi oposisi
atau berseberangan dengan pemerintah. Maukah? Jawabannya masih
teka-teki. [berbagai sumber]
