INILAHCOM, Jakarta - Partai Golkar mengakui elektabilitas
Aburizal Bakrie (Ical) sebagai capres masih di bawah elektabilitas
partai. Hal ini disebabkan karena figur Ical berbeda dengan figur Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) yang bisa lebih menonjol dari Partai Demokrat.
"Memang diakui, pak Ical tak sehebat SBY, karena faktanya di Demokrat SBY yang jadi penopang suara Demokrat," ujar Wakil Bedahara Umum (Wabendum) DPP Partai Golkar Bambang Soesatyo di Gedung DPR, Selasa (18/2/2014).
Menurutnya, elektabilitas Ical masih jauh dari partai. Namun saat ini Golkar melihat ada tren yang positif dari elektabilitas Ical menjelang Pilpres 2014.
Hal ini ditunjukkan dengan naiknya elektabilitas Ical meski peningkatannya itu tidak signifikan seperti capres-capres lainnya.
"Ini sedang kita upayakan semuanya agar Golkar bisa 20 persen. Ini pak Ical ada tren yang meningkat meski agak lambat," imbuhnya.
Bambang mengatakan, lambannya peningkatan elektabilitas Ical disebabkan karena figur Ical tidak sekuat seperti SBY di tahun 2004 dan 2009. Namun hal ini sangat wajar mengingat Golkar bukanlah parpol yang mengutamakan sosok figur untuk menaikan elektabilitas partai.
"Kalau di Golkar itu tidak ada sejarahnya di gendong figur. Yang ada Golkar menopang figurnya," tandasnya. [gus]
"Memang diakui, pak Ical tak sehebat SBY, karena faktanya di Demokrat SBY yang jadi penopang suara Demokrat," ujar Wakil Bedahara Umum (Wabendum) DPP Partai Golkar Bambang Soesatyo di Gedung DPR, Selasa (18/2/2014).
Menurutnya, elektabilitas Ical masih jauh dari partai. Namun saat ini Golkar melihat ada tren yang positif dari elektabilitas Ical menjelang Pilpres 2014.
Hal ini ditunjukkan dengan naiknya elektabilitas Ical meski peningkatannya itu tidak signifikan seperti capres-capres lainnya.
"Ini sedang kita upayakan semuanya agar Golkar bisa 20 persen. Ini pak Ical ada tren yang meningkat meski agak lambat," imbuhnya.
Bambang mengatakan, lambannya peningkatan elektabilitas Ical disebabkan karena figur Ical tidak sekuat seperti SBY di tahun 2004 dan 2009. Namun hal ini sangat wajar mengingat Golkar bukanlah parpol yang mengutamakan sosok figur untuk menaikan elektabilitas partai.
"Kalau di Golkar itu tidak ada sejarahnya di gendong figur. Yang ada Golkar menopang figurnya," tandasnya. [gus]
