Headlines News :
Home » » Elit Partai Jadi Rental Perahu Memacu Revolusi

Elit Partai Jadi Rental Perahu Memacu Revolusi

Written By Unknown on Kamis, 20 Februari 2014 | 05.13

INILAHCOM, Jakarta - Seorang sahabat lama dari Solo, Her Suprabu, gundah. Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Solo ini merisaukan apatisme masyarakat dalam menyambut pemilihan umum yang tinggal 51 hari lagi.

Menurutnya, voters terutama kelompok pemilih muda sudah tak peduli dengan program-program yang ditawarkan partai politik. Mereka juga cuek bebek terhadap koar-koar para calon legislatif yang sudah mulai berkampanye.

Apa yang dirisaukan Her Suprabu tampaknya sudah menjadi fenomena umum di kota-kota besar. Terutama kota-kota yang mayorita penduduknya berlatar belakang pendidikan cukup tinggi. sebagai contoh Solo dan Bogor.

Di Solo, kata Her Suprabu, kini berkembang kelompok-kelompok pemilih ‘Wani Piro’. Mereka tak berpartai tetapi mereka bersedia mencoblos partai dan caleg dari partai apapun asal berani membayar mereka dengan tarif yang disepakati.

Di Bogor dan beberapa daerah di Jawa Barat, kelompok pemilih semacam ‘Wani Piro’ di Solo juga cukup kuat. Namanya kelompok ‘Cilok Dikecapan’ artinya wani nyolok asal aya gocapan. Mau mencoblos asal ada uang lima puluh ribuan. Bahkan menurut survei yang dilakukan pengamat politik Burhanuddin Muhtadi, angka ‘Cilok Dikecapan’ ini menembus 62%. Di Jawa Tengah masih di bawah 50%.

Angka-angka yang diperoleh dari survei itu bukan benda mati. Tetapi benda hidup yang cenderung meningkat. Hal ini seiring dengan prilaku partai politik dan para politisi yang cenderung koruptif dan manipulatif.

Terbongkarnya kasus dugaan korupsi yang dilakukan sejumlah pimpinan partai politik: Anas Urbaningrum (Mantan Ketua Umum Partai Demokrat), Luthfi Hasan Ishaq ( Mantan Presiden PKS), figur-figur populer Partai Golkar Akil Mochtar dan Ratu Atut Chosiyah, para pentolan PDI Perjuangan seperti Emir Moeis dan lain-lain, PAN Wa Ode Nurhayati, dan sederet tersangka koruptor dari hampir seluruh partai politik di negeri ini, kian menyuburkan rasa ketidak percayaan publik terhadap partai.

Ketidak percayaan terhadap orang partai dan partai politik ini, kian bertambah parah ketika para elite partai itu berubah profesi menjadi rental perahu. Mereka secara kompak, mulai dari orang nomor satu DPP hingga ketua DPD-DPC, bisa meminjamkan partai sebagai perahu politik kepada siapapun yang ingin menjadi kepala daerah, sepanjang calon kepala daerah itu membayar uang sewa.

Istilah yang digunakan partai itu macam-macam. Di partai yang mengklaim berazas Islam uang sewa perahu itu disebut mahar. Sementara di partai-partai yang mengklaim nasionalis uang sema itu sebut biaya politik (political cost).

Karena para elite partai sudah berubah menjadi pengusaha rental perahu, maka jangan heran kalau tiba-tiba melihat wajah preman atau perampok uang negara tampil sebagai calon kepala daerah atau calon anggota legislatif. Rakyat tak bisa lagi berharap banyak akan tampilnya seorang negarawan di deretan daftar para calon kepala daerah atau daftar calon anggota legislatif. Sebab, yang tampil di daftar calon-calon orang terhormat itu bisa negarawan bisa juga bajingan.

Jadi, sejatinya negara ini telah dikuasai para pengusaha rental perahu dan para pedagang sapi. Karena itu, di panggung politik macam apapun akan selalu bau busuk aroma politik transaktional, politik jual beli, sewa menyewa. Dan, celakanya di negeri ini betapa pun hebatnya kadar kenegarawanan seseorang, dia tak bisa dengan mudah tampil sebagai calon kepala daerah, calon legislatif, apalagi calon presiden jika tak memiliki partai sebagai kendaraan politik.

Memang masih ada partai politik yang memberikan kesempatan kepada anak bangsa nonpartisan untuk ikut konvensi bakal calon presiden. Sebut saja Partai Demokrat pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Atau Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan Muhaimin Iskandar yang memberikan peluang kepada tokoh dari luar partai.

Tetapi apa yang dilakukan Demokrat dan PKB ini masih dicurigai sekadar pencitraan partai menjelang pemilihan legislatif. Sekadar menjadikan tokoh-tokoh yang direkrut itu untuk dijadikan pengumpul suara (vote getter).

Pertanyaan besar yang muncul di benak rakyat, apakah bangsa ini masih mampu menghadirkan negarawan tulen untuk kita pilih sebagai nakhoda negeri ini lima tahun ke depan?
Ternyata reformasi tak cukup untuk membangkitkan Merah Putih berkibar tinggi-tinggi. Negeri ini 
membutuhkan revolusi besar satu kali lagi!
Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI