INILAH.COM, Jakarta - Pesta demokrasi pada Pemilu 2014
bakal lesu dan rakyat tidak lagi bergairah. Mayoritas rakyat sudah tidak
percaya terhadap partai politik dan para pembesar negara, karena
korupsi merajalela. Mengapa?
Indonesia dengan mayoritas
Muslim di dalamnya, jelas menghadapi krisis kepercayaan dari rakyat
terhadap penyelenggara negara. Kesenjangan kaya-miskin menajam dan
korupsi sudah membudaya sampai ke desa-desa.
Ketika korupsi dari
Jakarta merembes sampai ke desa di seantero Indonesia, rakyat tersadar
bahwa demokrasi hanya menghasilkan industri korupsi. Pemilu tak lebih
sebagai industri politik yang koruptif.
Maka menjelang Pemilu
2014, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik (parpol)
terus merosot. Kali ini bahkan hanya 9,4 persen masyarakat yang percaya
dengan parpol, demikian survei nasional yang dilakukan Cirus Surveyor
Group yang dilakukan pada periode 20 hingga 30 Desember 2013.
Survei
nasional yang melibatkan 33 provinsi dengan 2.200 responden itu
menemukan 40 persen masyarakat tidak percaya dengan parpol. "Hanya 9,4
persen masyarakat percaya dengan partai politik," kata Direktur Riset
Cirus Surveyor Group Kadek Dwita Apriani, di Jakarta, baru-baru ini.
Survei
Political Communication Institute (Polcomm Institute) juga menegaskan
bahwa mayoritas publik tidak mempercayai partai politik (parpol). Publik
yang tidak percaya parpol yaitu sebesar 58,2 persen. Kemudian yang
menyatakan percaya 26,3 persen, dan menyatakan tidak tahu sebesar 15,5
persen. Tingkat kepercayaan publik ini dipengaruhi oleh krisis yang
dialami sejumlah partai politik.
Survei itu dilakukan 20 Januari
sampai 3 Februari 2014 dengan 1000 responden di 15 kota besar. Survei
juga dilakukan pada 15 media massa yaitu 5 media cetak nasional, 5 media
televisi, dan 5 media online.Metode riset dilakukan dengan dua tahap
yaitu content analysis dan discourse analysis. Adapun margin of error
yaitu 5 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Hasilnya, publik
kecewa karena korupsi politik merajalela. Apatisme politik meninggi dan
kepercayaan pada parpol merosot tajam.
Para analis mencatat
setidaknya terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan krisis
kepercayaan masyarakat terhadap parpol. Pertama, banyaknya kader parpol
yang terjerat kasus korupsi. Kedua, konflik internal partai yang muncul
di publik. Ketiga, adanya pelanggaran etika yang dilakukan kader parpol.
Pengamat
psikologi politik UI, Hamdi Muluk menambahkan, masyarakat kecewa, dan
telah belajar dari pengalaman sebelumnya, dimana banyak janji-janji
partai politik atau kader parpol yang basi dan tidak dipenuhi, bahkan
rakyat dibohongi. Akibatnya, rakyat cenderung golput atau tidak memilih
pada Pemilu 2014 nanti.
Oleh sebab itu, selama parpol berisi
politisi maling, maka demokrasi kita bakal kering dan garing. Jangan
salahkan jika rakyat mengambil sikap diam, emoh memilih dalam pemilu
atau mengambil sikap apriori. Sebab penyakit sosialnya sudah ketemu:
parpol dan politisnya tidak amanah, malah korupsinya kian bernanah.
Parah dan payah. [berbagai sumber]
