INILAH.COM, Jakarta - Nama Wali Kota Surabaya Tri
Rismaharini belakangan mencuat. Tiba-tiba perempuan berjilbab ini
menjadi perbincangan hangat. Beberapa media pun menjadikan Risma menjadi
aktor penting sebagai obyek berita. Normalkah?
Tanda
pagar (tagar) #SaveRisma kini populer. Setidaknya di sejumlah media
sosial, tagar itu diperbincangkan. Photo perempuan berjilbab itu juga
tidak sedikit dijadikan profil gambar di BlackBerry mereka yang
berempati dengan bekas Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemerintah Kota
Surabaya ini.
Stigma Risma dizalimi pun mencuat. Rupa-rupa rumor
yang beredar. Seperti lantaran menolak pembanguan jalanan tol di Kota
Buaya itu, tidak akurnya dengan Wakil Wali Kota, Wisnu Sakti Buana,
putera tokoh senior PDI Perjuangan almarhum Sutjipto.
Tidak
sekadar citra terzalimi, kesan Risma peduli dengan wong cilik juga
muncul. Pernyataan empati terhadap pelacur menjadi pernyataan yang
menggedor nurani siapa saja yang mendengarnya. Termasuk bumbu tangisan
Risma yang kerap muncul. Baik saat tayangan di salah satu stasiun
televisi hingga saat mendapat dukungan dari kalangan akademisi di
Surabaya.
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo
menepis persoalan yang menimpa Risma khususnya terkait dengan Wakil
Walikota Surabaya diklaim telah selesai. "Saya datangi kediaman Bu
Risma, masalah itu clear. Soal ada pernik DPRD dan Kepala
Daerah, itu wajar, semua daerah ada," ujar Tjahjo saat ditemui di gedung
DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (19/2/2014).
Terkait
rumor kisruh antara Risma dengan Wakil Wali Kota, Tjahjo menegaskan
Wisnu yang juga Ketua DPC Surabaya mendukung penuh kebijakan Risma.
Menurut dia, latar belakang Wisnu menjadi Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya
mengisi jabatan Wakil Wali Kota yang lowong ditinggal Bambang DH. "Clear, gak ada masalah," tegas Tjahjo. Dia menyebutkan Risma tidak akan mundur dari posisinya sebagai Wali Kota Surabaya.
Tjahjo
mengendus, polemik muncul di interal Risma sengaja dihembuskan yang
bertujuan membuat PDI Perjuangan tidak solid. Apalagi, kata Tjahjo saat
ini memasuki tahun politik. "PDI Perjuangan sudah cukup solid wajar
kalau ada yang tak suka. Dan saya tahu (pelakunya). Level nasional yang
bermain," ungkap Tjahjo tanpa merinci siapa yang dimaksud.
Sementara
dihubungi terpisah Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul
mengatakan munculnya nama Risma di ruang publik tak lebih sebagai upaya
menjadikan sosok Risma seperti penokohan terhadap figur Jokowi. "Mau
dibikin kayak Jokowi lagi," cetus Ruhut.
Demam Risma yang telah
bergeser ke level nasional dari level lokal Surabaya sejatinya merupakan
dinamika politik lokal. Ha serupa kerap terjadi di berbagai daerah yang
tidak mendapat mendapat porsi pemberitaan yang luas.
Semestinya,
sebagai pemimpin Risma menampilkan kepemimpinan yang kuat dan tangguh.
Mengumbar tangis di ruang publik satu sisi memang ampuh membawa sikap
empati pihak lainnya. Padahal di sisi lain, tangisan pemimpin tak lebih
sikap lembek dan lemah seorang pemimpin. [mdr]
