Headlines News :
Home » » Tak Gelar Open House Mega Masih Berkabung, Pengaruh TK Tetap Kuat

Tak Gelar Open House Mega Masih Berkabung, Pengaruh TK Tetap Kuat

Written By Unknown on Rabu, 07 Agustus 2013 | 23.45

INILAH.COM, Jakarta - Sebuah pesan melalui BlackBerry Messenger Selasa pagi 6 Agustus 2013, beredar. Isinya berupa informasi bahwa Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Republik Indonesia pada hari Raya Lebaran pekan ini, tidak akan melakukan "Open House".

Tegasnya publik yang berempati, disarankan agar tidak perlu datang ke kediaman Megawati di Jl.Raya Teuku Umar, Menteng Jakarta, untuk silahturahmi. Pesan dikirim dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.
Alasan pengirim pesan, putri Proklamator Bung Karno itu, masih menjalani masa berkabun selama 100 hari atas berpulangnya Taufiq Kiemas. Sang suami yang eks Ketua MPR-RI, meninggal dunia 8 Juni 2013 di Singapura dan dimakamkan keesokan harinya di TMP Kalibata, Jakarta Selatan.

Penjelasan bahwa Megawati masih berkabung, sekalipun Taufiq Kiemas sudah lebih dari 40 hari meninggal dunia, secara substantif menyiratkan, Mega sangat menaruh respek kepada almarhum. Rasa respek itu justru bertambah setelah Taufiq sudah tak akan pernah hadir disampingnya hari ini, esok dan di hari-hari mendatang
Taufiq Kiemas sudah tiada dan sudah tak berkiprah lagi di dunia politik, tetapi pengaruh Taufiq pada kehidupan Mega, tetap kuat. Masa perkabungan menjadi semacam periode kontempelasi bagi Megawati. Kepergian Taufiq Kiemas menyiratkan sebuah kehilangan besar bagi Mega.

Dengan masa berkabung yang cukup panjang itu, Mega seakan ingin mengirim pesan, baginya Taufiq tidak sekadar suami, politikus papan atas, melainkan merupakan belahan jiwanya. Kalau sudah menjadi belahan jiwa, termasuk jiwa politik, maka peran dan posisi itu tak akan pernah tergantikan.

Makna tak tergantikan itu bagi kaum politisi dan pengamat, secara implisit membuka penafsiran bahwa semasa hidupnya Taufiq menjalani sebuah kehidupan rumah tangga (politik) dengan Mega secara solid. Pertanyaan sekarang, lantas siapa orang yang paling berpengaruh pada kehidupan politik Mega? Siapa anggota keluarga, politisi yang bisa mengatakan "tidak" kepada Mega?

Pertanyaan ini mungkin tak akan pernah memperoleh jawaban. Mega sekalipun, belum tentu bersedia atau siap menjawabnya. Sebab jawaban jujur atas pertanyaan ini dapat menjadi "master key" untuk memahami dan mengetahui kekuatan sekaligus kelemahan dari PDIP.

Kepergian Taufiq Kiemas dan siapa orang yang paling berpengaruh pada Mega memamg sedang menjadi pergunjingan hangat di kalangan politisi. Kepemimpinan di PDIP tidak lagi seperti anggapan banyak orang, di partai tersebut terdapat "Dua Matahari", "Dua Kapten" atau "Dua Komando". PDIP serta merta menjadi personifikasi Mega, begitu pula sebaliknya. PDIP saat ini menduduki posisi dan citra yang lebih bagus dibanding partai-partai main stream lainnya.

Posisi penting itu telah membentuk persepsi bahwa PDIP merupakan partai yang berpeluang memenangkan Pemilu Legislatif. Jika kemenangan di Pemilu Legislatif berhasil mencapai angka 20%, maka sesuai UU Pilpres, PDIP berpotensi mengajukan calonnya sendiri. Tanpa berkoalisi PDIP bisa mencalonkan Capres dan Cawapres.

Kalaupun PDIP tidak menang dengan memenuhi Parliamentary Threshold (ambang batas minimum kursi di DPR sebesar 20%), PDIP diprediksi sebagai partai yang mampu mengungguli semua peserta Pemilu. Dua persepsi ini menjadi rujukan dari semua kekuatan politik di Tanah Air, bagaimana menghadapi Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden yang akan digelar kurang dari setahun lagi. PDIP berada "di atas angin".

PDIP berada dalam posisi seperti itu, sebab hampir semua partai papan atas saat ini sedang dilanda oleh berbagai konflik kalau tidak mau disebut skandal. Dalam konteks yang berkaitan, PDIP juga menjadi inceran oleh apa yang disebut "Jokowi Factor".

Jokowi, kader PDIP yang belum setahun menjadi Gubernur DKI Jaya, saat ini sangat populer. Oleh hampir semua lembaga survei disebut sebagai sosok yang memiliki tingkat elektibilitas tertinggi, di antara semua tokoh yang danggap potensil menjadi Presiden atau Wakil Presiden 2014. Bahkan elektabilitas Jokowi mengalahkan bossnya sendiri, yaitu Megawati Soekarnoputri.

Akibatnya cukup banyak pihak-pihak yang ingin mendekati Jokowi. Tetapi untuk keperluan itu mereka harus melewati Megawati. Sebab yang berhak menentukan ke mana dan bagaimana langkah selanjutnya Jokowi sebagai kader partai adalah Ketua Umum PDIP.

Jadi ada yang berharap agar Mega berada dalam posisi lemah sehingga tidak bisa menentukan posisi dan karir politik Jokowi. Harapan itulah nampaknya meleset. Sebab Mega tanpa Taufiq Kiemas pun tetap kuat.
Ketidak sediaan Mega mengadakan "Open House", membuat mereka yang berharap dapat melobinya di hari Raya Lebaran, kehilangan peluang. Dengan Mega tidak mau bertemu atau ditemui oleh siapapun, kecuali keluarga, menunjukkan Mega lebih percaya dengan kekuatannya, termasuk kekuatan yang ditinggalkan oleh almarhum suaminya.

Pasca-masa berkabung 100 hari, "faktor Jokowi", dan "faktor Mega" diperkirakan bakal menjadi nilai yang lebih besar ketika ada yang mau melakukan hitungan-hiungan politik menghadapi Pemilu 2014.

Makanya tidak terlalu heran apabila "faktor Jokowi dan Mega" pun bakal menjadi semacam kartu joker yang selalu diincer para penjudi (politik). Yah karena persaingan politik itupun, tak banyak beda dengan adu keberuntungan dalam permain judi atau perjudian.

Menjadi soal yang penting sekarang, apakah keputusan Mega yang tidak melakukan "Open House", merupakan indikasi, menghadapi Pemilu 2014 yang nota bene merupakan ajang perjudian politik, sengaja menutup pintu PDIP atau "Close House" rumah di Teuku Umar ? Silahkan menebak, menghitung dan berspekulasi sendiri. [mdr]

Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI