INILAH.COM, Jakarta - Sebuah pesan melalui BlackBerry
Messenger Selasa pagi 6 Agustus 2013, beredar. Isinya berupa informasi
bahwa Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Republik Indonesia pada hari
Raya Lebaran pekan ini, tidak akan melakukan "Open House".
Tegasnya
publik yang berempati, disarankan agar tidak perlu datang ke kediaman
Megawati di Jl.Raya Teuku Umar, Menteng Jakarta, untuk silahturahmi.
Pesan dikirim dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.
Alasan
pengirim pesan, putri Proklamator Bung Karno itu, masih menjalani masa
berkabun selama 100 hari atas berpulangnya Taufiq Kiemas. Sang suami
yang eks Ketua MPR-RI, meninggal dunia 8 Juni 2013 di Singapura dan
dimakamkan keesokan harinya di TMP Kalibata, Jakarta Selatan.
Penjelasan
bahwa Megawati masih berkabung, sekalipun Taufiq Kiemas sudah lebih
dari 40 hari meninggal dunia, secara substantif menyiratkan, Mega sangat
menaruh respek kepada almarhum. Rasa respek itu justru bertambah
setelah Taufiq sudah tak akan pernah hadir disampingnya hari ini, esok
dan di hari-hari mendatang
Taufiq Kiemas sudah tiada dan sudah tak
berkiprah lagi di dunia politik, tetapi pengaruh Taufiq pada kehidupan
Mega, tetap kuat. Masa perkabungan menjadi semacam periode kontempelasi
bagi Megawati. Kepergian Taufiq Kiemas menyiratkan sebuah kehilangan
besar bagi Mega.
Dengan masa berkabung yang cukup panjang itu,
Mega seakan ingin mengirim pesan, baginya Taufiq tidak sekadar suami,
politikus papan atas, melainkan merupakan belahan jiwanya. Kalau sudah
menjadi belahan jiwa, termasuk jiwa politik, maka peran dan posisi itu
tak akan pernah tergantikan.
Makna tak tergantikan itu bagi kaum
politisi dan pengamat, secara implisit membuka penafsiran bahwa semasa
hidupnya Taufiq menjalani sebuah kehidupan rumah tangga (politik) dengan
Mega secara solid. Pertanyaan sekarang, lantas siapa orang yang paling
berpengaruh pada kehidupan politik Mega? Siapa anggota keluarga,
politisi yang bisa mengatakan "tidak" kepada Mega?
Pertanyaan ini
mungkin tak akan pernah memperoleh jawaban. Mega sekalipun, belum tentu
bersedia atau siap menjawabnya. Sebab jawaban jujur atas pertanyaan ini
dapat menjadi "master key" untuk memahami dan mengetahui kekuatan
sekaligus kelemahan dari PDIP.
Kepergian Taufiq Kiemas dan siapa
orang yang paling berpengaruh pada Mega memamg sedang menjadi
pergunjingan hangat di kalangan politisi. Kepemimpinan di PDIP tidak
lagi seperti anggapan banyak orang, di partai tersebut terdapat "Dua
Matahari", "Dua Kapten" atau "Dua Komando". PDIP serta merta menjadi
personifikasi Mega, begitu pula sebaliknya. PDIP saat ini menduduki
posisi dan citra yang lebih bagus dibanding partai-partai main stream
lainnya.
Posisi penting itu telah membentuk persepsi bahwa PDIP
merupakan partai yang berpeluang memenangkan Pemilu Legislatif. Jika
kemenangan di Pemilu Legislatif berhasil mencapai angka 20%, maka sesuai
UU Pilpres, PDIP berpotensi mengajukan calonnya sendiri. Tanpa
berkoalisi PDIP bisa mencalonkan Capres dan Cawapres.
Kalaupun PDIP tidak menang dengan memenuhi Parliamentary Threshold
(ambang batas minimum kursi di DPR sebesar 20%), PDIP diprediksi
sebagai partai yang mampu mengungguli semua peserta Pemilu. Dua persepsi
ini menjadi rujukan dari semua kekuatan politik di Tanah Air, bagaimana
menghadapi Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden yang akan digelar
kurang dari setahun lagi. PDIP berada "di atas angin".
PDIP berada
dalam posisi seperti itu, sebab hampir semua partai papan atas saat ini
sedang dilanda oleh berbagai konflik kalau tidak mau disebut skandal.
Dalam konteks yang berkaitan, PDIP juga menjadi inceran oleh apa yang
disebut "Jokowi Factor".
Jokowi, kader PDIP yang belum setahun
menjadi Gubernur DKI Jaya, saat ini sangat populer. Oleh hampir semua
lembaga survei disebut sebagai sosok yang memiliki tingkat elektibilitas
tertinggi, di antara semua tokoh yang danggap potensil menjadi Presiden
atau Wakil Presiden 2014. Bahkan elektabilitas Jokowi mengalahkan
bossnya sendiri, yaitu Megawati Soekarnoputri.
Akibatnya cukup
banyak pihak-pihak yang ingin mendekati Jokowi. Tetapi untuk keperluan
itu mereka harus melewati Megawati. Sebab yang berhak menentukan ke mana
dan bagaimana langkah selanjutnya Jokowi sebagai kader partai adalah
Ketua Umum PDIP.
Jadi ada yang berharap agar Mega berada dalam
posisi lemah sehingga tidak bisa menentukan posisi dan karir politik
Jokowi. Harapan itulah nampaknya meleset. Sebab Mega tanpa Taufiq Kiemas
pun tetap kuat.
Ketidak sediaan Mega mengadakan "Open House",
membuat mereka yang berharap dapat melobinya di hari Raya Lebaran,
kehilangan peluang. Dengan Mega tidak mau bertemu atau ditemui oleh
siapapun, kecuali keluarga, menunjukkan Mega lebih percaya dengan
kekuatannya, termasuk kekuatan yang ditinggalkan oleh almarhum suaminya.
Pasca-masa
berkabung 100 hari, "faktor Jokowi", dan "faktor Mega" diperkirakan
bakal menjadi nilai yang lebih besar ketika ada yang mau melakukan
hitungan-hiungan politik menghadapi Pemilu 2014.
Makanya tidak
terlalu heran apabila "faktor Jokowi dan Mega" pun bakal menjadi semacam
kartu joker yang selalu diincer para penjudi (politik). Yah karena
persaingan politik itupun, tak banyak beda dengan adu keberuntungan
dalam permain judi atau perjudian.
Menjadi soal yang penting
sekarang, apakah keputusan Mega yang tidak melakukan "Open House",
merupakan indikasi, menghadapi Pemilu 2014 yang nota bene merupakan
ajang perjudian politik, sengaja menutup pintu PDIP atau "Close House"
rumah di Teuku Umar ? Silahkan menebak, menghitung dan berspekulasi
sendiri. [mdr]
