INILAH.COM, Jakarta – Ajang Lebaran, bagi kalangan elit
seringkali tak lepas dari urusan pencitraan. Selain berharap barokah dan
silaturahmi saat Idul Fitri, para politisi menjadikan momentum untuk
meraih simpati dari para pendukungnya. Apalagi tahun politik kian dekat.
Sebenarnya
ajang pencitraan sudah dilakukan sejak Ramadan atau saat berpuasa.
Beragam program dilakukan untuk menjaring perhatian massa. Dari mulai
memasang spanduk ucapan selamat berpuasa atau berlebaran, acara sahur
atau buka bersama masyarakat miskin, penyediaan bus mudik gratis hingga
pemberian zakat.
Memang bulan ini memang suci, semua
berharap barokah dan obral pahala. Tapi para elit politisi ini berharap
mendapat manfaat ganda. Ya, pahala dan pencitraan untuk menghadapi
pemilihan umum legislatif atau presiden di 2014.
Di
sepanjang jalan, atau di jalur yang dilalui pemudik, banyak ditemui
spanduk-spanduk lengkap dengan foto dan nama para politisi. Kalaupun ada
ucapan Lebaran, hal itu hanyalah sebuah kemasan karena isinya tidak
tersampaikan pada spanduk tersebut. Sehingga seperti itu nyaris tidak
memberi makna.
Pemasangan spanduk di jalan-jalan hanyalah
sebuah bagian dari pemasaran politik kepada publik. Nyaris tanpa manfaat
bagi masyarakat dari kehadiran spanduk seperti itu. Malah sebaliknya
para politisi dan partai politik yang mendapatkan manfaat dan berharap
ada peningkatkan popularitas mereka.
Momentum Lebaran
seharusnya dimanfaatkan elit untuk mengubah orientasi kinerja baik di
tingkat eksekutif maupun legislatif. Pembuatan kebijakan yang pro rakyat
jelas langkah progresif sebagai bukti permintaan maaf kepada publik.
Selain
itu, sikap untuk tidak korupsi, kolusi dan nepotisme juga bagian tak
kalah penting sebagai upaya kesadaran elit meminta maaf kepada publik
negeri ini. Jadi, elit jangan terjebak pada permintaan maaf yang semu
dan absurd seperti saat ini. Selamat berhari raya… [mdr]
