INILAH.COM, Jakarta - Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat mengatakan
belum bisa memastikan apakah akan ikut atau tidak dalam Konvensi Capres
Partai Demokrot. Ia mengaku belum mengetahui mekanisme yang akan
diterapkan dalam pola proses seleksi konvensi tersebut.
"Konvensi itu kan bisa terjadi kalau ada yang mau dan dibolehkan, tapi ada yang mau tidak dibolehkan, ya tidak terjadi konvensi, atau dibolehkan tapi gak berani maju kan tidak terjadi juga," ujarnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (1/8/2013).
Jumhur mengaku sampai dengan saat ini belum menerima undangan konvensi dari Partai Demokrat, dan dirinya juga belum tahu apakah nantinya peserta konvensi akan melalui pendaftaran terbuka atau lewat mekanisme undangan.
"Katanya terbuka, tapi belum ada tata cara keikutsertaannya. Saya rasa jauh lebih ideal terbuka. Tapi kalau diundang ya tidak salah kalau yang diundang katakankah yang menyatakan diri berminat. Kalau yang menyatakan berminat, potensial menang, dan masih netral tapi tidak diundang saya rasa akan kurang indah kalau akhirnya cuma milih-milih," jelasnya.
"Tapi feeling saya akan terbuka, ya baik diundang maupun pendaftaran terbuka intinya bisa memuaskan banyak kalangan," tambahnya.
Beberapa waktu terakhir, nama Jumhur memang ramai disebut-sebut akan maju sebagai Capres. Jumhur pun telah mendapat dukungan dari beberapa elemen buruh, salah satunya adalah Aliansi Nasionalis Indonesia (ANINDO).
"Organisasi buruh itu lebih efektif dan memiliki massa konsisten yang tidak dimiliki oleh kader-kader partai politik. Aspirasi kekuatan besar itu harus diperhatikan dan diakomodir agar menjadi kenyataan," ujar Ketua Umum DPP ANINDO Edwin H Soekawati.
Menurut Edwin, kaum buruh adalah salah satu kekuatan real politik presure. Bahkan ia menyebut kemenangan SBY di Pilpres 2009 lalu, tak lepas dari dukungan buruh kepada SBY. "Sebab solidaritas buruh sangat kuat dan tidak dimiliki oleh partai-partai," ucapnya.[bay]
"Konvensi itu kan bisa terjadi kalau ada yang mau dan dibolehkan, tapi ada yang mau tidak dibolehkan, ya tidak terjadi konvensi, atau dibolehkan tapi gak berani maju kan tidak terjadi juga," ujarnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (1/8/2013).
Jumhur mengaku sampai dengan saat ini belum menerima undangan konvensi dari Partai Demokrat, dan dirinya juga belum tahu apakah nantinya peserta konvensi akan melalui pendaftaran terbuka atau lewat mekanisme undangan.
"Katanya terbuka, tapi belum ada tata cara keikutsertaannya. Saya rasa jauh lebih ideal terbuka. Tapi kalau diundang ya tidak salah kalau yang diundang katakankah yang menyatakan diri berminat. Kalau yang menyatakan berminat, potensial menang, dan masih netral tapi tidak diundang saya rasa akan kurang indah kalau akhirnya cuma milih-milih," jelasnya.
"Tapi feeling saya akan terbuka, ya baik diundang maupun pendaftaran terbuka intinya bisa memuaskan banyak kalangan," tambahnya.
Beberapa waktu terakhir, nama Jumhur memang ramai disebut-sebut akan maju sebagai Capres. Jumhur pun telah mendapat dukungan dari beberapa elemen buruh, salah satunya adalah Aliansi Nasionalis Indonesia (ANINDO).
"Organisasi buruh itu lebih efektif dan memiliki massa konsisten yang tidak dimiliki oleh kader-kader partai politik. Aspirasi kekuatan besar itu harus diperhatikan dan diakomodir agar menjadi kenyataan," ujar Ketua Umum DPP ANINDO Edwin H Soekawati.
Menurut Edwin, kaum buruh adalah salah satu kekuatan real politik presure. Bahkan ia menyebut kemenangan SBY di Pilpres 2009 lalu, tak lepas dari dukungan buruh kepada SBY. "Sebab solidaritas buruh sangat kuat dan tidak dimiliki oleh partai-partai," ucapnya.[bay]
