INILAH.COM, Jakarta - Ada dilema yang dihadapi Ketua
Majelis Syuro Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra kalau
mengikuti konvensi Partai Demokrat. Apa itu?
Yusril Ihza
menunggu keputusan akhir dari Partai Demokrat mengenai penawaran
konvensi yang ditawarkan Susilo Bambang Yudhoyono. Intinya, terkait
keputusan akhir Partai Demokrat. Karena sebelumnya Demokrat meminta
Yusril nonaktif dari partai sendiri dan kalau terpilih harus keluar dari
PBB , lalu jadi kader Demokrat.
Sebelumnya, karena berbagai
pertimbangan, Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan menyatakan
tidak akan ikut konvensi itu. Bahkan Anies juga menolak menjadi salah
satu anggota komite konvensi penjaringan Capres Partai Demokrat yang
berjumlah 18 orang.
Konvensi yang diselenggarakan Partai Demokrat
dalam menjaring calon presiden dari luar internal diharapkan tidak ada
kepalsuan dan kepura-puraan dengan tujuan semu yakni agar Partai
Demokrat kelihatan sangat demokratis.
Selain konvensi harus
dilakukan secara transparan, Partai Demokrat juga harus mampu
memanfaatkan konvensi ini agar tidak hanya menguntungkan satu pihak
saja. Demokrat harus membangun trust (kepercayaan), konvensi harus
difikirkan formulanya seperti apa, sehingga tidak ada dusta, tidak
bersifat memaksa atau terpaksa.
Dalam kaitan konvensi, Yursil
mengaku sangat keberatan dengan keputusan itu, sehingga menurutnya harus
ada perbaikan tanpa harus memaksakan kehendak untuk menjadi kader
Partai Demokrat.
Maunya Yusril, ia ikut saja Konvensi Demokrat,
tapi tidak usah jadi kader Demokrat karena yang dicari pemimpin yang
mendapat dukungan rakyat dan Partai Demokrat mencalonkannya.
Menurutnya
jika Partai Demokrat tetap memberikan kebijakan kepada yang ikut
konvensi dan harus meninggalkan partainya maka kecil kemungkinan
tokoh-tokoh akan mau ikut. Dengan kata lain, Yusril mungkin mengikuti
jejak Anies Baswedan: membatalkan diri ikut konvensi daripada galau dan
risau, apalagi segalanya masih belum pasti. [berbagai sumber]
