INILAH.COM, Jakarta - Australia diam-diam sudah lama
menyadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tindakan gegabah ini
membuat kita terperangah. Pertanda apa?
Berulang kali
Australia melukai martabat kita. Sejak era Soekarno, Soeharto sampai
hari ini. Bagaimanapun, posisi Indonesia di kancah internasional semakin
hari semakin diperhitungkan. Sehingga sangat mungkin ada pihak yang
melakukan cara-cara kotor dan merusak hubungan baik yang telah dijalin
selama ini. Yang harus dicermati, negara-negara besar lainnya sangat
mungkin melakukan praktik kotor yang sama untuk kepentingannya
masing-masing.
Penyadapan oleh Australia itu adalah cara frustasi
dari sebuah negara tetangga, dan jelas menjatuhkan martabat negara itu
sendiri. Setidaknya, dua media Australia Fairfax yang membawahi The Age
dan The Sydney Morning Herald pada Jumat (26/7/2013) lalu telah membuat
heboh wacana politik yang berkembang di Indonesia.
Hal ini akibat
pemberitaan mereka yang menyampaikan bahwa rombongan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) telah disadap ketika menghadiri KTT G20 yang
diselenggarakan di London, Inggris pada April 2009.
Surat Kabar
Sydney Morning Herald menyatakan, pemberitaan tersebut hanyalah untuk
keuntungan pihak Australia dengan menyebut sebagai “excellent
intelligence support” dan “much information” atas informasi yang
diberikan Inggris dan AS, khususnya informasi terkait Indonesia (SBY),
India (Manmohan Singh) dan Cina (Hu Jintao).
Keuntungan tersebut
terutama untuk para diplomat Australia dalam kampanye mendapatkan kursi
di Dewan Keamaman (DK) PBB. Sebenarnya tidak disebutkan kekhususan
Indonesia, hanya saja pihak Australia menyebutkan “a priority for us,
always”.
Sebelumnya, soal penyadapan ini juga dikemukakan beberapa
media asing seperti Global Post dalam edisi 16 Juni 2013 yang
menyatakan, penyadapan tidak hanya ditargetkan untuk Indonesia, namun
semua delegasi yang hadir.
Perdana Menteri Australia Kevin Rudd
memperoleh keuntungan atas kegiatan mata-mata itu. Seorang sumber anonim
yang dekat dengan Pemerintah Australia, mengungkapkan bahwa pada April
2009, delegasi Australia mendapatkan dukungan informasi intelijen dari
Inggris dan Amerika Serikat. PM Kevin Rudd sangat berhasrat untuk
memperoleh informasi intelijen, terutama yang menyangkut para pemimpin
Asia Pasifik, termasuk di dalamnya Yudhoyono, PM India Manmoham Singh,
dan mantan Presiden Cina Hu Jintao.
Merespon hal ini, Ketua Komisi
III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Gede Pasek Suardika mengecam
penyadapan pada Presiden SBY yang dilakukan agen intelijen Inggris untuk
menguntungkan PM Australia Kevin Rudd. Menurutnya, pemerintah Australia
harus meminta maaf karena telah mengkhianati hubungan baik dengan SBY
sebagai Presiden Indonesia.
Hal itu jelas tindakan tidak terpuji
dan memalukan dari Australia. Australia seharusnya meminta maaf secara
terbuka, sebab hal itu benar-benar terjadi. Ini jelas bukti bahwa
Jakarta telah dikhianati pemerintah Australia.
Pertanyaannya,
dengan sadapan Australia ini, wajarkah istana bersikap low profile
begitu saja? Ada baiknya Jakarta merespon dengan model diplomasi
mendiang Menlu Ali Alatas, menggebrak meja! [berbagai sumber]
