Headlines News :
Home » » Perlukah Diplomasi Gebrak Meja Respon SBY Disadap ?

Perlukah Diplomasi Gebrak Meja Respon SBY Disadap ?

Written By Unknown on Selasa, 30 Juli 2013 | 01.49

INILAH.COM, Jakarta - Australia diam-diam sudah lama menyadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tindakan gegabah ini membuat kita terperangah. Pertanda apa?

Berulang kali Australia melukai martabat kita. Sejak era Soekarno, Soeharto sampai hari ini. Bagaimanapun, posisi Indonesia di kancah internasional semakin hari semakin diperhitungkan. Sehingga sangat mungkin ada pihak yang melakukan cara-cara kotor dan merusak hubungan baik yang telah dijalin selama ini. Yang harus dicermati, negara-negara besar lainnya sangat mungkin melakukan praktik kotor yang sama untuk kepentingannya masing-masing.

Penyadapan oleh Australia itu adalah cara frustasi dari sebuah negara tetangga, dan jelas menjatuhkan martabat negara itu sendiri. Setidaknya, dua media Australia Fairfax yang membawahi The Age dan The Sydney Morning Herald pada Jumat (26/7/2013) lalu telah membuat heboh wacana politik yang berkembang di Indonesia.

Hal ini akibat pemberitaan mereka yang menyampaikan bahwa rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah disadap ketika menghadiri KTT G20 yang diselenggarakan di London, Inggris pada April 2009.

Surat Kabar Sydney Morning Herald menyatakan, pemberitaan tersebut hanyalah untuk keuntungan pihak Australia dengan menyebut sebagai “excellent intelligence support” dan “much information” atas informasi yang diberikan Inggris dan AS, khususnya informasi terkait Indonesia (SBY), India (Manmohan Singh) dan Cina (Hu Jintao).

Keuntungan tersebut terutama untuk para diplomat Australia dalam kampanye mendapatkan kursi di Dewan Keamaman (DK) PBB. Sebenarnya tidak disebutkan kekhususan Indonesia, hanya saja pihak Australia menyebutkan “a priority for us, always”.

Sebelumnya, soal penyadapan ini juga dikemukakan beberapa media asing seperti Global Post dalam edisi 16 Juni 2013 yang menyatakan, penyadapan tidak hanya ditargetkan untuk Indonesia, namun semua delegasi yang hadir.

Perdana Menteri Australia Kevin Rudd memperoleh keuntungan atas kegiatan mata-mata itu. Seorang sumber anonim yang dekat dengan Pemerintah Australia, mengungkapkan bahwa pada April 2009, delegasi Australia mendapatkan dukungan informasi intelijen dari Inggris dan Amerika Serikat. PM Kevin Rudd sangat berhasrat untuk memperoleh informasi intelijen, terutama yang menyangkut para pemimpin Asia Pasifik, termasuk di dalamnya Yudhoyono, PM India Manmoham Singh, dan mantan Presiden Cina Hu Jintao.

Merespon hal ini, Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Gede Pasek Suardika mengecam penyadapan pada Presiden SBY yang dilakukan agen intelijen Inggris untuk menguntungkan PM Australia Kevin Rudd. Menurutnya, pemerintah Australia harus meminta maaf karena telah mengkhianati hubungan baik dengan SBY sebagai Presiden Indonesia.

Hal itu jelas tindakan tidak terpuji dan memalukan dari Australia. Australia seharusnya meminta maaf secara terbuka, sebab hal itu benar-benar terjadi. Ini jelas bukti bahwa Jakarta telah dikhianati pemerintah Australia.
Pertanyaannya, dengan sadapan Australia ini, wajarkah istana bersikap low profile begitu saja? Ada baiknya Jakarta merespon dengan model diplomasi mendiang Menlu Ali Alatas, menggebrak meja! [berbagai sumber]
Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI