REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hasil akhir pemilu sangat ditentukan
kekuatan parpol, sementara para calon legislatif hanya berpengaruh
terhadap perolehan suara akhir.
Pernyataan itu disampaikan Lembaga
survei Indikator Politik Indonesia (IPI) merilis hasil jajak
pendapatnya tentang perbandingan hasil akhir pemilu yang banyak
ditentukan partai daripada calon legislatifnya.
"Calon
memiliki peran terhadap suara partai tapi kontribusinya sangat kecil
bila dibandingkan dengan kekuatan partai itu sendiri," kata Direktur
Eksekutif IPI, Burhanuddin Muhtadi di Jakarta, Selasa (30/7).
Burhanuddin
mengatakan, para caleg hanya sedikit pengaruhnya terhadap perolehan
suara. Artinya, sebagian besar caleg biasanya mendompleng popularitas
partai. "Hal
itu wajar terjadi karena partai biasanya telah lebih dulu hadir di
tengah masyarakat daripada calegnya. Caleg biasanya tampil ke publik
menjelang pemungutan suara atau saat sudah ditetapkan sebagai figur yang
resmi untuk berkompetisi dalam pemilu," papar Burhanuddin.
IPI mendapati hasil survei pada 2013 konsisten dengan temuan pada waktu menjelang Pemilu 2009. Ia mencontohkan
Puan Maharani yang hanya mendapatkan 18 persen suara dukungan ketika
namanya disodorkan kepada responden tanpa menyertakan institusi parpol.
Angka itu
naik ke 46 persen ketika responden memilih PDI Perjuangan dalam
kuesioner yang tidak menyertakan nama putri Ketua Umum DPP PDI
Perjuangan, Megawati Soekarnoputri itu.
Dukungan naik
menjadi 48 persen dukungan responden, ketika pertanyaan tersebut
mencantumkan nama Puan Maharani dan institusi PDI Perjuangan.
Kuesioner dirancang serupa dengan kertas suara pemilu dan memberikan jaminan kerahasiaan kepada responden. Pada jajak pendapat tahun 2009, perbandingan koefisien calon dengan partai adalah masing-masing 0,195 berbanding 0,876.
Sedangkan
koefisien pada 2013 ada dalam angka 0,157 berbanding 0,962. Pendek kata
koefisien pengaruh partai terhadap raihan suara hasil akhir pemilu lebih
besar dipengaruhi partai politik.
Kesimpulan
jajak pendapat IPI tersebut tidak menunjukkan perubahan berarti karena
peran parpol tetap besar dalam hasil akhir pemilu. Namun, terdapat temuan kasuistik seperti Dede Yusuf sebagai seorang calon dari Partai Demokrat.
Popularitas
mantan bintang film laga tersebut mendapati dukungan publik 41 persen
ketika kuesioner tidak menyertakan institusi PD. Kemudian angka turun
menjadi 16 persen apabila hanya mencantumkan nama PD dan naik menjadi 24
persen setelah kuesioner berisi kombinasi Dede Yusuf dan Partai
Demokrat.
Survei IPI
tersebut dilaksanakan pada April 2013 di 45 daerah pemilihan di Pulau
Jawa, Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Data
didapat dari wawancara tatap muka dengan responden. IPI mengambil 400
orang yang memiliki hak pilih pada 45 dapil sebagai sampel penelitian.
| Redaktur : Karta Raharja Ucu |
| Sumber : Antara |
