Headlines News :
Home » » Fitra Mengkritik Jokowi dengan Terburu Nafsu

Fitra Mengkritik Jokowi dengan Terburu Nafsu

Written By Unknown on Selasa, 23 Juli 2013 | 16.52

Jokowi hanya mementingkan dirinya sendiri, hanya blusukan, bukan memberantas korupsi. Blusukan Jokowi hanya untuk popularitasnya saja, cuma buat pencitraan saja. Ini terlihat dari tingginya anggaran untuk blusukan yang mencapai Rp 26 milyar. Itulah kalimat tuduhan yang dilontarkan Direktur Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Ucok Sky Kadaffi  yang dilontarkan pada acara diskusi bilangan Cikini, Jakarta, Jumat 19/7/2013.


Mengkritik terhadap pemimpin itu bagus jika diniatkan untuk mengingatkan. Ciri-ciri kritik yang mengingatkan itu tentu tidak terburu-buru berasumsi, tetapi meminta penjelasan terlebih dahulu mengapa terjadi ketidakwajaran terhadap obyek yang dikritik.

Tapi tuduhan yang dilakukan  Fitra terhadap Gubernur dan Wakil Gubernur DKI terlampau cepat disampaikan sebelum mendapatkan penjelasan dan perincian secara detail dari aparat Pemda DKI atau penjelasan langsung dari Gubernur dan Wakil Gubernur.

Akhirnya tuduhan tersebut terpublikasi ke media massa. Kita lihat semua media massa baik cetak maupun elektronik, semua berpacu menyantap berita yang nampak miring dan belum jelas kebenarannya tersebut. Karena sebagaimana kita tahu, semboyan rata-rata awak media adalah bad news is good news. Berita keburukan Jokowi, orang nomor satu di DKI tentu menjadi santapan yang luar biasa lezat bagi media.

Seharusnya sebelum menuduh, Fitra terlebih dahulu melakukan kroscek seperti layaknya audit untuk mencari tahu letak penyalahgunaan anggaran tersebut, dan di pos mana yang terjadi pembengkakan pemakaian yang tidak wajar. Apakah dinikmati pribadi Jokowi dan Ahok, ditransfer ke rekening pribadi atau dihambur-hamburkan untuk kegiatan yang tidak relevan dan cenderung bersenang-senang? Mengapa tidak ditunjukkan pos-pos mana yang terjadi penyimpangan, sekalian saja dibuka di media kalau memang ada penyalahgunaan.

Sayangnya, Fitra hanya menilai secara kulit luarnya saja, bahwa anggaran Dana Operasional tahun 2013 lebih besar dibanding tahun 2012 sewaktu Fauzi Bowo memimpin. Cara membandingkannya hanya sebatas angka yang dibagi per hari sehingga muncul Rp 26,6 milyar sementara Fauzi Bowo hanya Rp 17 Milyar per tahun. Padahal yang disampaikan ini adalah anggaran, bukan realisasi. Jokowi sendiri menjawab bahwa realisasinya bisa jadi tidak sampai sepertiganya. Dan realisasi itu tidak dijelaskan oleh Fitra, agar masyarakat bisa membaca lebih jelas bukan dari kulitnya saja.

Di samping itu, sudah menjadi kewajaran apabila setiap Provinsi dianggarkan dana operasional sebesar 0,15 % dari APBD, apalagi di Pemda DKI hanya menganggarkan 0,1 % saja. Dan itu adalah semacam dana taktis, dan yang menurut Ahok itulah dana-dana yang bisa cepat dicairkan bila dalam keadaan darurat seperti terjadi gangguan keamanan, kebakaran, keluhan warga masyarakat akibat kekurangan sembako, tidak mendapatkan biaya pendidikan seperti uang SPP, dsb. Dana ini bisa dimanfaatkan untuk apa saja sebenarnya, bahkan mungkin untuk hal-hal pribadi. Tapi nyatanya, dana tersebut di tangan Jokowi Ahok bukan digunakan untuk pribadi tapi untuk menyantuni warga yang kekurangan dan untuk kebutuhan sosial lainnya.

Maka dari itu, jika memang Fitra bermaksud baik untuk mengkritik langkah Jokowi, hendaknya disampaikan dengan data-data yang lengkap tidak sekedar melihat angka global dan langsung membuat asumsi sendiri. Kalau terburu nafsu seperti ini, tentu ada nafsu-nafsu yang membuatnya tak bisa berpikir jernih. Kritik seperti ini tentu didasari oleh ketidaksenangan terhadap sosok Jokowi, atau mungkin juga karena situasi politik menjelang Pilpres 2014 yang mana hasil survey Jokowi selalu menakutkan pihak-pihak yang merasa menjadi kompetitor.  Padahal Jokowi sendiri tak nampak atau kalo dibilang mencalonkan tak begitu agresif menawar-nawarkan dirinya menjadi capres, bahkan beliau menjawab tidak memikirkan pencalonannya menjadi Capres 2014 karena ingin konsentrasi sebagai Gubernur DKI.

Kalau sudah seperti ini, saya tidak yakin tindakan Fitra melempar isu pelanggaran penggunaan anggaran ke media massa adalah murni kritik yang obyektif dan membangun. Model tuduhan LSM ini sarat dengan kepentingan. Kalau memang obyektif, tentu Fitra bisa menjelaskan di mana letak pelanggaran anggaran tersebut dengan gamblang. Itulah kritik yang didasari nafsu. Entah nafsu apa.. hanya Tuhan dan Fitra sendiri yang tahu, kita semua hanya bisa menebak kebiasaan-kebiasaan LSM yang bekerja berdasarkan pesan sponsor.
Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI