REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi VII DPR RI M. Nur
Yasin dari Fraksi PKB mengatakan harga bahan bakar minyak (BBM) memang
harus naik. Terdapat beberapa alasan harga BBM harus naik.
Menurutnya, subsidi BBM saat ini sudah terlalu besar sehingga harga
BBM menjadi murah. Murahnya harga BBM menjadi objek yang menguntungkan
bagi para penyelundup.
"Mereka menjual BBM ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan
Thailand. Harga BBM Rp 4.500 per liter dijual ke luar negeri bisa
menjadi Rp 8.000 per liter," kata Nur Yasin di Jakarta, Ahad, (12/5).
Keuntungan yang diraih para penyelundup BBM, ujar Nur Yasin, bisa
mencapai triliunan. Namun, pihak kepolisian susah menangkap para
penyelundup tersebut. Kalaupun ditangkap, para penyelundup menyodori
uang hingga akhirnya banyak penegak hukum yang tak berkutik.
Nur Yasin mengatakan karena murahnya harga BBM, maka Bahan Bakar
Nabati (BBN) tidak bisa berkembang di pasaran. Sebab harga BBN jauh
lebih mahal dari pada BBN. Pun, Bahan Bakar Gas (BBG) tidak berkembang
karena harganya lebih mahal dari BBM.
Meski setuju harga BBM naik, Nur Yasin menegaskan tidak setuju adanya
pemberian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Sebab pemberian
BLSM ini hanya mendidik masyarakat menjadi pengemis.
Nur Yasin menyarankan penyaluran BLSM, sebaiknya dibuat dalam skema
proyek padat karya. Misalnya saja, warga yang menganggur dan tak punya
uang diberi pekerjaan untuk membersihkan gorong-gorong lalu diberi upah
sebesar Rp 75 ribu sekali kerja. Sehingga untuk mendapatkan BLSM tidak
gratis.
| Reporter : Dyah Ratna Meta Novia |
| Redaktur : Citra Listya Rini |
