VN.com - PESTA demokrasi pemilu 2014
akan digelar melalui tahapan awal pencalonan anggota legislatif (caleg)
yang sudah masuk ke KPU, dan lembaga ini melakukan seleksi administrasi
dan kelayakan sesuai ketentuan yang berlaku. Di sini terlihat
“muka-muka lama” masih mendominasi caleg yang bakal menarik simpati
rakyat kembali untuk kesekian kalinya. Inilah bukti kegagalan kaderisasi
yang dilakukan partai politik dalam hal kaderisasi. Banyak kader yang
loyal, berbakat dan cerdas telah lama mengabdi di partai, tersisihkan
dari daftar caleg, jika tidak memiliki dukungan finansial, nepotisme,
kedekatan dengan pimpinan partai. Seharusnya eksistensi partai sebagai
institusi politik dan pilar demokrasi ke depan memberikan kesempatan
kepada kader-kader partai yang layak namun minim finansial diakomodir
melalui mekanisme rekrutmen yang transparan dan terbuka untuk memberikan
pendidikan politik kepada masyarakat.
Menurut analis politik Undana Lorens
Sayrani, persoalan parpol di NTT adalah kuatnya oligarki. Dalam skema
oligarki, segala proses dalam partai dikendalikan oleh sekelompok orang
tertentu saja. Implikasinya adalah sirkulasi dalam partai tidak berjalan
karena hampir tak ada ruang bagi kaderisasi, pendidikan politik dan
penguatan kapasitas anggota partai mandeg. Kondisi seperti ini yang
menyebabkan tetap eksisnya muka-muka lama dalam daftar caleg. Hal ini
akan sangat mempengaruhi bahaya eksisnya muka lama menempati kemapanan
posisi yang pada batas tertentu bisa menciptakan kerendahan daya
responsif anggota legislatif dan minimnya inovatif gagasan atau ide
untuk memecahkan masalah serta rendahnya kepekaan terhadap kebutuhan
rakyat.
Sebaiknya muka lama boleh tampil hanya
maksimal dua periode agar kaderisasi bisa berjalan baik. Ya, semua itu
kita kembalikan kepada parpol yang memiliki kekuasaan, keputusan dan
kebijakan sesuai aturannya masing-masing, dan sangat dibutuhkan seorang
pimpinan parpol yang berpandangan luas yang bisa menjembatani kaderisasi
bisa menyeberangi dan bukan hanya mengantar di sebarang jembatan. Kita
sebagai masyarakat ibarat menonton pertandingan sepakbola, meski
pemain-pemainnya sudah pada gaek, nafasnya saja sudah terlihat
ngos-ngosan dan permainannya juga sudah tidak bisa berkembang karena
daya juangnya sudah sampai batas akhir, namun tetap menjadi pemain
karena belum siap terkena sindrom bila menjadi masyarakat biasa.
Kepintaran Rakyat Memilih
Penentuan akhir dari sebuah pemilihan ada
di tangan rakyat. Maka sebaiknya rakyat mulai pintar untuk memilihnya.
“Masyarakat harus tanggap memperhatikan para caleg yang sudah ekspired
alias kedaluarsa yang pragmatis, tidak populis dan yang paling utama
tidak membawa perubahan yang signifikan bagi masyarakat. Masyarakat yang
melalukan seleksi terhadap caleg daur ulang dengan memperhatikan rekam
jejak mereka selama menjadi anggota Dewan sebelumnya,” tegas Balkis
Soraya Tanof. Karena itu, jika suara rakyat tidak mempan dibeli dan
rakyat konsisten terhadap perubahan, maka niscaya caleg muka lama akan
tersisih dengan sendirinya. Rakyat jangan mudah diberi janji-janji tanpa
mampu dibuktikan. Sebaiknya rakyat lebih teliti, meski bicara atas nama
kesukuan tapi bukti nyata yang sudah dilakukan dalam realitasnya apa?
Melihat kondisi nyata di masyarakat apa saja yang sudah diperbuat
anggota Dewan pada dapilnya. Di sinilah pentingnya rakyat menyikapi
caleg-caleg yang bakal berjuang mengambil hati rakyat untuk memilihnya.
Kepatutan caleg muka lama akan
dipertaruhkan kepada rakyat yang berhak menentukan, sebab suara rakyat
memiliki kapasitas untuk memutuskannya. Ambisius itu manusiawi, dimiliki
oleh setiap manusia yang memiliki kapasitas yang mendukungnya.
Kepatutan tidak akan turun selama tidak ada yang menurunkannya. Lalu
siapa yang berhak menurunkannya? Jawabannya tidak lain kecuali rakyat.
Sekali lagi, ternyata rakyat memiliki kekuasaan tertinggi, namun sering
dipertanyakan tentang ketulusan rakyat dalam memilih. Pilihan rakyat apa
sesuai hati nuraninya yang tidak bisa dibeli? Mari kita sebagai rakyat
mulai sadar diri dan bercermin kepada beningnya hati dan jernihnya
pikiran dengan mengedepankan ketulusan yang menaruhkan harapan membawa
perubahan ke depan yang lebih baik. Jangan gadaikan hati nurani yang
mengatasnamakan ketulusan yang jujur dan ikhlas, hanya dengan materi
yang tidak berarti. Sebab, negeri ini butuh pemikir, pejuang dan
penggerak perubahan demi keadilan serta kemakmuran rakyat. Jika memang
caleg muka lama ternyata membawa perubahan yang signifikan dan dapat
dirasakan dan dinikmati oleh rakyat, maka jangan apriori untuk
memilihnya. Tidak ada yang salah dengan caleg muka lama. Yang salah jika
caleg muka lama tersebut tidak bisa memberi perubahan yang lebih baik
yang benar-benar dirasakan rakyat. Meski caleg muka lama berganti baju
baru jika motivasinya tetap, ya tidak berarti apa-apa bagi rakyat yang
memilihnya.
Lama vs Baru
Sudah pasti caleg muka lama akan
menempati urutan teratas dalam daftar caleg. Sedangkan caleg muka baru
mendapat nomor buntut. Namun jangan khawatir dengan nomor buntut asal
bisa mengolahnya menjadi “sop buntut” yang enak didengar, nyaman
ditemani, peduli pada suara rakyat yang lapar dan berani bertindak demi
tuntutan kemajuan daerah yang diwakili. Niscaya rakyat akan memilihnya
dengan hati penuh harapan untuk perubahan ke depan yang lebih baik.
Caleg muka baru harus berani menyerang lebih gencar untuk menggoalkan
impian rakyat yang selama ini didambakan. Ibarat permainan sepakbola,
caleg muka baru ini masih fresh daya juangnya dan syukur-syukur idealis
berjuang dengan inovasi baru yang lebih nyata dinikmati rakyat di
dapilnya. Jangan sampai caleg muka baru pun melupakan turun gunung ke
dapilnya untuk menyapa rakyat dan observasi wilayah lalu dipetakan
tingkatan kondisi dalam perkembangan masa kini, untuk selanjutnya
mencari solusi yang terbaik bagi kemajuan rakyat. Ternyata semua caleg,
baik muka lama maupun muka baru masih menjadi harapan yang realitasnya
masih menunggu waktu. Namun sebagai rakyat lebih baik menaruh harapan
positif daripada tidak berharap sama sekali akan merugi kelak.
Selamat bertarung wahai caleg muka lama
vs muka baru. Semoga bisa menjadi pemenang dalam meraih suara rakyat
dengan cara–cara yang terhormat sehingga terpilih pun menjadi anggota
Dewan yang terhormat. Sebab, selama ini lembaga Dewan sebagai lembaga
terhormat tetapi orang-orang yang ada di dalam lembaga terhormat itu
sering dipertanyakan kehormatannya. Tidak bisa dipungkiri anggota dewan
tersangkut korupsi meski ada yang bersih tapi entah berapa persen yang
bersih. Sebab belum ada lembaga survei yang meneliti dan berani memberi
jaminan. Sebab jaminan itu hanya bisa dikatakan oleh para anggora Dewan
itu sendiri, dengan berkata atas nama kejujuran, ketulusan dan tanggung
jawab atas nama nurani. Semoga melalui Pemilu Legislatif 2014 nanti,
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baik di pusat maupun di daerah diisi oleh
anggota-anggota legislatif yang bersih, jujur, tulus dan berani berjuang
menegakkan keadilan, serta kemakmuran rakyat yang sudah lama
dirindukan.
