Headlines News :
Home » » Kepatutan ‘Muka Lama’ Mendominasi Caleg

Kepatutan ‘Muka Lama’ Mendominasi Caleg

Written By Unknown on Jumat, 10 Mei 2013 | 07.57

VN.com - PESTA demokrasi pemilu 2014 akan digelar melalui tahapan awal pencalonan anggota legislatif (caleg) yang sudah masuk ke KPU, dan lembaga ini melakukan seleksi administrasi dan kelayakan sesuai ketentuan yang berlaku. Di sini terlihat “muka-muka lama” masih mendominasi caleg yang bakal menarik simpati rakyat kembali untuk kesekian kalinya. Inilah bukti kegagalan kaderisasi yang dilakukan partai politik dalam hal kaderisasi. Banyak kader yang loyal, berbakat dan cerdas telah lama mengabdi di partai, tersisihkan dari daftar caleg, jika tidak memiliki dukungan finansial, nepotisme, kedekatan dengan pimpinan partai. Seharusnya eksistensi partai sebagai institusi politik dan pilar demokrasi ke depan memberikan kesempatan kepada kader-kader partai yang layak namun minim finansial diakomodir melalui mekanisme rekrutmen yang transparan dan terbuka untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.

Menurut analis politik Undana Lorens Sayrani, persoalan parpol di NTT adalah kuatnya oligarki. Dalam skema oligarki, segala proses dalam partai dikendalikan oleh sekelompok orang tertentu saja. Implikasinya adalah sirkulasi dalam partai tidak berjalan karena hampir tak ada ruang bagi kaderisasi, pendidikan politik dan penguatan kapasitas anggota partai mandeg. Kondisi seperti ini yang menyebabkan tetap eksisnya muka-muka lama dalam daftar caleg. Hal ini akan sangat mempengaruhi bahaya eksisnya muka lama menempati kemapanan posisi yang pada batas tertentu bisa menciptakan kerendahan daya responsif anggota legislatif dan minimnya inovatif gagasan atau ide untuk memecahkan masalah serta rendahnya kepekaan terhadap kebutuhan rakyat.

Sebaiknya muka lama boleh tampil hanya maksimal dua periode agar  kaderisasi bisa berjalan baik. Ya, semua itu kita kembalikan kepada parpol yang memiliki kekuasaan, keputusan dan kebijakan sesuai aturannya masing-masing, dan sangat dibutuhkan seorang pimpinan parpol yang berpandangan luas yang bisa menjembatani kaderisasi bisa menyeberangi dan bukan hanya mengantar di sebarang jembatan. Kita sebagai masyarakat ibarat menonton pertandingan sepakbola, meski pemain-pemainnya sudah pada gaek, nafasnya saja sudah terlihat ngos-ngosan dan permainannya juga sudah tidak bisa berkembang karena daya juangnya sudah sampai batas akhir, namun tetap menjadi pemain karena belum siap terkena  sindrom bila menjadi masyarakat biasa.

Kepintaran Rakyat Memilih

Penentuan akhir dari sebuah pemilihan ada di tangan rakyat. Maka sebaiknya rakyat mulai pintar untuk memilihnya. “Masyarakat harus tanggap memperhatikan para caleg yang sudah ekspired alias kedaluarsa yang pragmatis, tidak populis dan yang paling utama tidak membawa perubahan yang signifikan bagi masyarakat. Masyarakat yang melalukan seleksi terhadap caleg daur ulang dengan memperhatikan rekam jejak mereka selama menjadi anggota Dewan sebelumnya,” tegas Balkis Soraya Tanof. Karena itu, jika suara rakyat tidak mempan dibeli dan rakyat konsisten terhadap perubahan, maka niscaya caleg muka lama akan tersisih dengan sendirinya. Rakyat jangan mudah diberi janji-janji tanpa mampu dibuktikan. Sebaiknya rakyat lebih teliti, meski bicara atas nama kesukuan tapi bukti nyata yang sudah dilakukan dalam realitasnya apa? Melihat kondisi nyata di masyarakat apa saja yang sudah diperbuat anggota Dewan pada dapilnya. Di sinilah pentingnya rakyat menyikapi caleg-caleg yang bakal berjuang mengambil hati rakyat untuk memilihnya.

Kepatutan caleg muka lama akan dipertaruhkan kepada rakyat yang berhak menentukan, sebab suara rakyat memiliki kapasitas untuk memutuskannya. Ambisius itu manusiawi, dimiliki oleh setiap manusia yang memiliki kapasitas yang mendukungnya. Kepatutan tidak akan turun selama tidak ada yang menurunkannya. Lalu siapa yang berhak menurunkannya? Jawabannya tidak lain kecuali rakyat. Sekali lagi, ternyata rakyat memiliki kekuasaan tertinggi, namun sering dipertanyakan tentang ketulusan rakyat dalam memilih. Pilihan rakyat apa sesuai hati nuraninya yang tidak bisa dibeli? Mari kita sebagai rakyat mulai sadar diri dan bercermin kepada beningnya hati dan jernihnya pikiran dengan mengedepankan ketulusan yang menaruhkan harapan membawa perubahan ke depan yang lebih baik. Jangan gadaikan hati nurani yang mengatasnamakan ketulusan yang jujur dan ikhlas, hanya dengan materi yang tidak berarti. Sebab, negeri ini butuh pemikir, pejuang dan penggerak perubahan demi keadilan serta kemakmuran rakyat. Jika memang caleg muka lama ternyata membawa perubahan yang signifikan dan dapat dirasakan dan dinikmati oleh rakyat, maka jangan apriori untuk memilihnya. Tidak ada yang salah dengan caleg muka lama. Yang salah jika caleg muka lama tersebut tidak bisa memberi perubahan yang lebih baik yang benar-benar dirasakan rakyat. Meski caleg muka lama berganti baju baru jika motivasinya tetap, ya tidak berarti apa-apa bagi rakyat yang memilihnya.

Lama vs Baru

Sudah pasti caleg muka lama akan menempati urutan teratas dalam daftar caleg. Sedangkan caleg muka baru mendapat nomor buntut. Namun jangan khawatir dengan nomor buntut asal bisa mengolahnya menjadi “sop buntut” yang enak didengar, nyaman ditemani, peduli pada suara rakyat yang lapar dan berani bertindak demi tuntutan kemajuan daerah yang diwakili. Niscaya rakyat akan memilihnya dengan hati penuh harapan untuk perubahan ke depan yang lebih baik. Caleg muka baru harus berani menyerang lebih gencar untuk menggoalkan impian rakyat yang selama ini didambakan. Ibarat permainan sepakbola, caleg muka baru ini masih fresh daya juangnya dan syukur-syukur idealis berjuang dengan inovasi baru yang lebih nyata dinikmati rakyat di dapilnya. Jangan sampai caleg muka baru pun melupakan turun gunung ke dapilnya untuk menyapa rakyat dan observasi wilayah lalu dipetakan tingkatan kondisi dalam perkembangan masa kini, untuk selanjutnya mencari solusi yang terbaik bagi kemajuan rakyat. Ternyata semua caleg, baik muka lama maupun muka baru masih menjadi harapan yang realitasnya masih menunggu waktu. Namun sebagai rakyat lebih baik menaruh harapan positif daripada tidak berharap sama sekali akan merugi kelak.

Selamat bertarung wahai caleg muka lama vs muka baru. Semoga bisa menjadi pemenang dalam meraih suara rakyat dengan cara–cara yang terhormat sehingga terpilih pun menjadi anggota Dewan yang terhormat. Sebab, selama ini lembaga Dewan sebagai lembaga terhormat tetapi orang-orang yang ada di dalam lembaga terhormat itu sering dipertanyakan kehormatannya. Tidak bisa dipungkiri anggota dewan tersangkut korupsi meski ada yang bersih tapi entah berapa persen yang bersih. Sebab belum ada lembaga survei yang meneliti dan berani memberi jaminan. Sebab jaminan itu hanya bisa dikatakan oleh para anggora Dewan itu sendiri, dengan berkata atas nama kejujuran, ketulusan dan tanggung jawab atas nama nurani. Semoga melalui Pemilu Legislatif 2014 nanti, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baik di pusat maupun di daerah diisi oleh anggota-anggota legislatif yang bersih, jujur, tulus dan berani berjuang menegakkan keadilan, serta kemakmuran rakyat yang sudah lama dirindukan.
Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI