Nicolas Maduro, penerus kebijakan sosialis mendiang Presiden Hugo
Chavez, memenangkan pemilu Presiden Venezuela, dengan meraup suara lebih
dari lima puluh persen.
Namun demikian, perolehan suara Maduro dilaporkan hanya berbeda tipis, yaitu kurang dari dua persen, dari kandidat kelompok oposisi, Capriles Henrique.
Sejumlah laporan menyebutkan, Maduro unggul dengan perolehan 50,6 persen suara, sementara Capriles memperoleh 49,1 persen suara.
Perolehan suara Maduro ini jauh lebih rendah jika dibandingkan suara yang diraih mendiang Hugo Chavez dalam pemilu sebelumnya, tidak lama sebelum kematiannya.
Namun demikian, perolehan suara Maduro dilaporkan hanya berbeda tipis, yaitu kurang dari dua persen, dari kandidat kelompok oposisi, Capriles Henrique.
Sejumlah laporan menyebutkan, Maduro unggul dengan perolehan 50,6 persen suara, sementara Capriles memperoleh 49,1 persen suara.
Perolehan suara Maduro ini jauh lebih rendah jika dibandingkan suara yang diraih mendiang Hugo Chavez dalam pemilu sebelumnya, tidak lama sebelum kematiannya.
Hormati kemenangan
Setelah Komisi Pemilihan Umum Venezuela mengumumkan
kemenangannya, Maduro -- yang mengenakan warna bendera Venezuela --
menyerukan agar rakyat bersikap tenang dan meminta pihak oposisi
menghormati hasil penghitungan suara.
Dalam pidatonya, Maduro berjanji untuk melanjutkan kebijakan Chaves yang disebut Revolusi Bolivarian ala Chavez.
Maduro menjadi pejabat sementara Presiden Venezuela setelah Presiden Hugo Chavez meninggal dunia karena kanker pada 5 Maret 2013 lalu.
Dia dijadwalkan akan dilantik pada 19 April nanti, dan akan menjabat sampai Januari 2019 nanti.
Dalam pidatonya, Maduro berjanji untuk melanjutkan kebijakan Chaves yang disebut Revolusi Bolivarian ala Chavez.
Maduro menjadi pejabat sementara Presiden Venezuela setelah Presiden Hugo Chavez meninggal dunia karena kanker pada 5 Maret 2013 lalu.
Dia dijadwalkan akan dilantik pada 19 April nanti, dan akan menjabat sampai Januari 2019 nanti.
