Canberra - Perdana Menteri (PM) Australia Julia Gillard
membuat kejutan dengan mengumumkan jadwal pemilihan umum (pemilu)
Australia yang akan digelar pada 14 September mendatang. Pengumuman ini
tercatat sebagai pengumuman tercepat, yang juga berarti masa kampanye
terlama dalam sejarah politik Australia.
Biasanya, warga Australia baru mengetahui jadwal pelaksanaan pemilu sekitar beberapa minggu sebelum pemilu. Namun kali ini, ada tenggat waktu selama 8 bulan sebelum pemilu Australia digelar.
PM dari Partai Buruh Australia ini menyatakan, alasan dirinya mengumumkan jadwal pemilu sangat awal, yakni demi memberi 'bentuk dan aturan' bagi pelaksanaan pemilu Australia tahun ini.
"Saya melakukan ini tidak demi menetapkan masa kampanye terlama di negara ini, namun sebaliknya. Seharusnya cukup jelas bagi semuanya, kapan waktu yang tepat untuk bekerja dalam pemerintahan dan kapan waktu yang tepat untuk berkampanye," ujar PM Gillard kepada National Press Club di Canberra, Australia seperti dilansir The Telegraph, Rabu (30/1/2013).
Pengumuman jadwal ini mau tak mau memaksa jadwal final liga utama sepakbola setempat dimundurkan. Namun di sisi lain, jadwal pemilu yang jatuh pada hari Sabtu (14/9) ini akan bertabrakan dengan hari raya paling sakral bagi kaum Yahudi, yakni Yom Kippur.
Dengan adanya pengumuman ini, maka kelak parlemen Australia akan dibubarkan pada 12 Agustus agar pemilu bisa digelar kemudian.
Dalam pernyataanya, Gillard menambahkan, pengumuman jadwal pemilu lebih awal ini akan membantu setiap pihak, baik individu maupun pengusaha dan investor untuk menyusun rencana ke depan.
"Ini akan memberikan bentuk dan aturan yang tepat dalam tahun ini dan memungkinkan untuk dilakukannya kampanye yang matang dan tenang, bukannya kampanye yang terburu-buru," tandasnya.
Biasanya, warga Australia baru mengetahui jadwal pelaksanaan pemilu sekitar beberapa minggu sebelum pemilu. Namun kali ini, ada tenggat waktu selama 8 bulan sebelum pemilu Australia digelar.
PM dari Partai Buruh Australia ini menyatakan, alasan dirinya mengumumkan jadwal pemilu sangat awal, yakni demi memberi 'bentuk dan aturan' bagi pelaksanaan pemilu Australia tahun ini.
"Saya melakukan ini tidak demi menetapkan masa kampanye terlama di negara ini, namun sebaliknya. Seharusnya cukup jelas bagi semuanya, kapan waktu yang tepat untuk bekerja dalam pemerintahan dan kapan waktu yang tepat untuk berkampanye," ujar PM Gillard kepada National Press Club di Canberra, Australia seperti dilansir The Telegraph, Rabu (30/1/2013).
Pengumuman jadwal ini mau tak mau memaksa jadwal final liga utama sepakbola setempat dimundurkan. Namun di sisi lain, jadwal pemilu yang jatuh pada hari Sabtu (14/9) ini akan bertabrakan dengan hari raya paling sakral bagi kaum Yahudi, yakni Yom Kippur.
Dengan adanya pengumuman ini, maka kelak parlemen Australia akan dibubarkan pada 12 Agustus agar pemilu bisa digelar kemudian.
Dalam pernyataanya, Gillard menambahkan, pengumuman jadwal pemilu lebih awal ini akan membantu setiap pihak, baik individu maupun pengusaha dan investor untuk menyusun rencana ke depan.
"Ini akan memberikan bentuk dan aturan yang tepat dalam tahun ini dan memungkinkan untuk dilakukannya kampanye yang matang dan tenang, bukannya kampanye yang terburu-buru," tandasnya.
