INILAH.COM, Jakarta - Film "Sang Patriot" dibuat untuk
meluruskan fitnah terhadap Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo
Subianto terkait tragedi kerusuhan 1998.
Sutradara film yang mengisahkan tentang Prabowo itu, Helmi Adam, mengatakan film tersebut guna meluruskan sejarah fitnah berkepanjangan terhadap Prabowo.
"Siapa yang bertanggung jawab pada kerusuhan 1998, jadi ini harus diluruskan," kata Helmi usai pemutaran film Sang Patriot di Kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta, Kamis (13/2/2014).
Menurutnya, dalam film tersebut telah jelas disebutkan bahwa yang paling bertanggungjawab pada tragedi 1998. Saat itu Wiranto selaku Panglima TNI saat itu meminta kepada Prabowo untuk hadir di Malang, Jawa Timur.
"Panglima meminta agar Pak Prabowo untuk menyaksikan pasukan reaksi cepat di Malang. 14 Mei 1998 itu momen penting," jelas Helmi.
"Dalam film itu sebenarnya sudah jelas (orang yang bertanggungjawab) ketika terjadi peristiwa itu ada permintaan agar petinggi TNI kumpul di Malang," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Badan Komunikasi Partai Gerindra yang juga berperan sebagai produser Fadli Zon menjelaskan saat peristiwa kerusuhan 1998, Prabowo sempat menghubungi Wiranto untuk menginformasikan bahwa kondisi Jakarta dalam kondisi darurat.
"Saat itu Pak Prabowo sudah telepon Pak Wiranto yang saat itu sebagai Panglima bahwa kondisi Jakarta dalam kondisi genting," kata Fadli dalam penjelasannya di film itu. [rok]
Sutradara film yang mengisahkan tentang Prabowo itu, Helmi Adam, mengatakan film tersebut guna meluruskan sejarah fitnah berkepanjangan terhadap Prabowo.
"Siapa yang bertanggung jawab pada kerusuhan 1998, jadi ini harus diluruskan," kata Helmi usai pemutaran film Sang Patriot di Kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta, Kamis (13/2/2014).
Menurutnya, dalam film tersebut telah jelas disebutkan bahwa yang paling bertanggungjawab pada tragedi 1998. Saat itu Wiranto selaku Panglima TNI saat itu meminta kepada Prabowo untuk hadir di Malang, Jawa Timur.
"Panglima meminta agar Pak Prabowo untuk menyaksikan pasukan reaksi cepat di Malang. 14 Mei 1998 itu momen penting," jelas Helmi.
"Dalam film itu sebenarnya sudah jelas (orang yang bertanggungjawab) ketika terjadi peristiwa itu ada permintaan agar petinggi TNI kumpul di Malang," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Badan Komunikasi Partai Gerindra yang juga berperan sebagai produser Fadli Zon menjelaskan saat peristiwa kerusuhan 1998, Prabowo sempat menghubungi Wiranto untuk menginformasikan bahwa kondisi Jakarta dalam kondisi darurat.
"Saat itu Pak Prabowo sudah telepon Pak Wiranto yang saat itu sebagai Panglima bahwa kondisi Jakarta dalam kondisi genting," kata Fadli dalam penjelasannya di film itu. [rok]
