INILAH.COM, Jakarta - Publik mencatat, PDI Perjuangan
dan Demokrat sudah lama berseberangan sejak Presiden SBY berkuasa.
Sehingga, nyaris sulit berkoalisi ibarat kawin paksa. Tapi pragmatisme
politik mungkin mengubah karakter kedua parpol itu jadi lain, mungkin
dalam bentuk koalisi dingin?
Para analis menilai, koalisi
Demokrat dan PDIP justru bisa merusak reputasi trah Soekarno dan PDIP
sendiri. “Koalisi hanya bikin Demokrat untung dan PDIP buntung,” kata
analis politik Cherry Augusta MA, alumnus UGM.
Tentu saja, kerja sama politik atau koalisi selama membawa kebaikan bagi bangsa, tentu saja dimungkinkan oleh PDIP dan Demokrat.
"Tapi
PDIP akan mengalami kesulitan serius menjelaskan kepada masyarakat,
untuk apa mereka memilih jalan oposisi atau di luar pemerintahan selama
10 tahun bila menjalin koalisi dengan Demokrat besutan SBY dalam pemilu
nanti," kata Budi Arie Setiadi, koordinator Nasional PDI Perjuangan.
Sekretaris
Jendral DPP PDIP, Tjahjo Kumolo mempertanyakan ajakan koalisi dari
partai Demokrat. Tjahjo menampik ajakan Wakil Sekretaris Jendral DPP
Partai Demokrat, Ramadhan Pohan yang menyatakan partainya ingin
berkoalisi dengan PDIP. "Ajakannya ke mana, ke siapa? Kok belum ada
pemberitahuan ke saya sebagai sekjen partai," ujar Tjahjo.
Gagasan
koalisi PDI P dan PD, akan menimbulkan pertanyaan besar mengenai ‘apa
sesungguhnya’ kepentingan elite partai. Jika koalisi PDIP dan Demokrat
itu terjadi, maka Pemilu 2014 terkesan hanya menonjolkan pragmatisme dan
oportunisme serta agenda minimalis yang hanya mengejar kepentingan
jangka pendek: uang dan kuasa.
Berbagai kalangan melihat, koalisi
PDIP dan Demokrat bakal semu sebab terlalu sarat kepentingan
transaksional dan pragmatisme. Hal ini sangat membahayakan nasib publik
dan aspirasi rakyat yang menghendaki perubahan. Dosa siapa?
“Padahal
perubahan tidak mungkin terjadi dengan membawa terlalu banyak "bagasi"
lama yang banyak dosa,” kata Budi Arie Setiadi, fungsionaris nasional
PDI Perjuangan. Mau apa lagi,coba? [berbagai sumber]
