INILAH.COM, Jakarta - Musyawarah Kerja Nasional
(Mukernas) II PPP akhirnya mengusung tujuh kandidat calon presiden.
Rencana deklarasi calon presiden tunggal dari PPP pun urung dilakukan.
Tujuh
nama bakal calon presiden dari PPP telah disebut di publik. Satu dari
kader internal yakni Suryadharma Ali yang juga Ketua Umum DPP PPP, enam
lainnya dari luar kader partai berlambang kabah. Ada nama mantan Wakil
Presiden Jusuf Kalla, pendiri dan mantan Ketua Mahkamah Konstittusi
Jimly Ashiddiqie, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, mantan
menteri pemberdayaan perempuan Khofifah Indarparawansa, Gubernur DKI
Joko Widodo, dan Bupati Kutai Timur Irsan Noor.
Nama yang
sebelumnya santer disebut oleh PPP yakni mantan Ketua MK Mahfud MD
secara mengejutkan tidak muncul di ajang Mukernas yang digelar di
Bandung tersebut. Padahal, nama pria asal Madura itu menguat saat
Mukernas I PPP di Lirboyo Kediri Jatim.
Sumber INILAH.COM di
internal PPP yang turut serta hadir dalam rapat Mukernas II PPP
mengungkapkan ihwal tidak munculnya nama Mahfud MD. "Mahfud dicoret
karena dia gencar kampanye untuk PKB. Berbeda dengan Jusuf Kalla yang
sifatnya pasif. Makanya nama Mahfud dicoret. Ini soal fatsoen politik,"
ungkap sumber tersebut di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta,
Senin (10/2/2014).
Langkah PPP menyebut tujuh tokoh sebagai
kandidat capres dalam Pilpres 2014 mendatang memang cukup mengejutkan.
Karena sebelumnya, santer beredar, Mukernas II PPP guna mengukuhkan Sang
Ketua Umum Suryadharma Ali. Maka tidak heran bila sejumlah atribut
Mukernas II PPP di Bandung, identifikasi nama menteri agama tersebut
cukup marak. Seperti "SDA untuk Indonesia".
Penyebutan sejumlah
nama capres PPP dalam ajang Mukernas II PPP ini rupanya dibaca oleh para
tokoh yang namanya disebut dalam rangka kepentingan elektoral semata.
Seperti yang diungkapkan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin yang
menyebut PPP pada akhirnya hanya akan mengusung nama Suryadharma Ali
saja. "Paling-paling ketua umumnya sendiri (yang dicapreskan) jika ada
peluang nomor 1 atau nomor 2 (capres/cawapres). Oleh karena itu saya
biasa-biasa saja," kata Din.
Penyebutan nama-nama capres oleh PPP
jika ditelisik lebih lanjut memang merepresentasikan berbagai unsur
kelompok, khususnya kelompok Islam. Seperti Din Syamsuddin mewakili
Muhammadiyah, Khofifah Indar Parawansa mewakili NU/Muslimat, Jimly
Ashiddiqie mewakili kelompok cendekiawan Islam.
Tokoh lainnya
seperti Joko Widodo, yang belakangan berada di urutan puncak dari
berbagai hasil riset, juga tak luput disebut. Yang mengejutkan, nama
Irsan Noor, yang semula tidak pernah muncul, justru menyodok. Ia kini
menjadi peserta konvensi rakyat yang digagas KH Salahuddin Wahid.
Namanya sempat mencuat di konvensi Partai Demokrat, namun belakangan
Ketua Asosiasi Kepala Daerah se-Indonesia ini tak diundang oleh DPP
Partai Demokrat.
Bila melihat perolehan suara PPP dalam Pemilu
selama era reformasi ini ini, partai warisan era Orde Baru ini terus
mengalami penurunan. Seperti saat Pemilu 1999 partai yang mulanya
berlambang bintang ini meraih suara 10,72 persen, Pemilu 2004 turun
menjadi 8,15 persen dan Pemilu 2009 turun hingga 5,32 persen.
Penyebutan
enam nama di luar Suryadharma Ali merupakan pilihan politik cerdas di
tengah defisit dukungan elektoral. Penyebutan nama-nama tersebut
dimaksudkan agar pasar suara PPP akan meluas tidak hanya ceruk suara PPP
saja.
Hasil Mukernas II PPP ini bisa dinilai sebagai sebuah
langkah maju bila dibandingkan partai lain seperti Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB) yang bergumul di nama Rhoma Irama, Jusuf Kalla dan Mahfud
MD saja. [mdr]
