Headlines News :
Home » » Taktik PPP di Tengah Defisit Peminat

Taktik PPP di Tengah Defisit Peminat

Written By Unknown on Rabu, 12 Februari 2014 | 08.39

INILAH.COM, Jakarta - Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II PPP akhirnya mengusung tujuh kandidat calon presiden. Rencana deklarasi calon presiden tunggal dari PPP pun urung dilakukan.

Tujuh nama bakal calon presiden dari PPP telah disebut di publik. Satu dari kader internal yakni Suryadharma Ali yang juga Ketua Umum DPP PPP, enam lainnya dari luar kader partai berlambang kabah. Ada nama mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pendiri dan mantan Ketua Mahkamah Konstittusi Jimly Ashiddiqie, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, mantan menteri pemberdayaan perempuan Khofifah Indarparawansa, Gubernur DKI Joko Widodo, dan Bupati Kutai Timur Irsan Noor.

Nama yang sebelumnya santer disebut oleh PPP yakni mantan Ketua MK Mahfud MD secara mengejutkan tidak muncul di ajang Mukernas yang digelar di Bandung tersebut. Padahal, nama pria asal Madura itu menguat saat Mukernas I PPP di Lirboyo Kediri Jatim.

Sumber INILAH.COM di internal PPP yang turut serta hadir dalam rapat Mukernas II PPP mengungkapkan ihwal tidak munculnya nama Mahfud MD. "Mahfud dicoret karena dia gencar kampanye untuk PKB. Berbeda dengan Jusuf Kalla yang sifatnya pasif. Makanya nama Mahfud dicoret. Ini soal fatsoen politik," ungkap sumber tersebut di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Senin (10/2/2014).

Langkah PPP menyebut tujuh tokoh sebagai kandidat capres dalam Pilpres 2014 mendatang memang cukup mengejutkan. Karena sebelumnya, santer beredar, Mukernas II PPP guna mengukuhkan Sang Ketua Umum Suryadharma Ali. Maka tidak heran bila sejumlah atribut Mukernas II PPP di Bandung, identifikasi nama menteri agama tersebut cukup marak. Seperti "SDA untuk Indonesia".

Penyebutan sejumlah nama capres PPP dalam ajang Mukernas II PPP ini rupanya dibaca oleh para tokoh yang namanya disebut dalam rangka kepentingan elektoral semata. Seperti yang diungkapkan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin yang menyebut PPP pada akhirnya hanya akan mengusung nama Suryadharma Ali saja. "Paling-paling ketua umumnya sendiri (yang dicapreskan) jika ada peluang nomor 1 atau nomor 2 (capres/cawapres). Oleh karena itu saya biasa-biasa saja," kata Din.

Penyebutan nama-nama capres oleh PPP jika ditelisik lebih lanjut memang merepresentasikan berbagai unsur kelompok, khususnya kelompok Islam. Seperti Din Syamsuddin mewakili Muhammadiyah, Khofifah Indar Parawansa mewakili NU/Muslimat, Jimly Ashiddiqie mewakili kelompok cendekiawan Islam.

Tokoh lainnya seperti Joko Widodo, yang belakangan berada di urutan puncak dari berbagai hasil riset, juga tak luput disebut. Yang mengejutkan, nama Irsan Noor, yang semula tidak pernah muncul, justru menyodok. Ia kini menjadi peserta konvensi rakyat yang digagas KH Salahuddin Wahid. Namanya sempat mencuat di konvensi Partai Demokrat, namun belakangan Ketua Asosiasi Kepala Daerah se-Indonesia ini tak diundang oleh DPP Partai Demokrat.

Bila melihat perolehan suara PPP dalam Pemilu selama era reformasi ini ini, partai warisan era Orde Baru ini terus mengalami penurunan. Seperti saat Pemilu 1999 partai yang mulanya berlambang bintang ini meraih suara 10,72 persen, Pemilu 2004 turun menjadi 8,15 persen dan Pemilu 2009 turun hingga 5,32 persen.

Penyebutan enam nama di luar Suryadharma Ali merupakan pilihan politik cerdas di tengah defisit dukungan elektoral. Penyebutan nama-nama tersebut dimaksudkan agar pasar suara PPP akan meluas tidak hanya ceruk suara PPP saja.

Hasil Mukernas II PPP ini bisa dinilai sebagai sebuah langkah maju bila dibandingkan partai lain seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang bergumul di nama Rhoma Irama, Jusuf Kalla dan Mahfud MD saja. [mdr]
Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI