INILAH.COM, Bandung - PPP harus mengulang lagi reformasi 1998 kalau ingin ada capres dari partai Islam, terutama dari PPP.
Begitu dikatakan pengamat politik UIN Syarief Hidayatullah Jakarta Bahtiar Effendy dalam acara Forum Diskusi INILAH Demokrasi bertema "Peluang Capres Parpol Islam Dalam Kancah Pemilihan Presiden 2014" bertempat di INILAH Graha Pesim, Bandung, Minggu (9/2/2014).
"Harus mengulang dulu reformasi itu," katanya.
Bahtiar menjelaskan, posisi partai Islam terutama PPP sebenarnya sangat besar. Tapi sayangnya tidak muncul.
Diawal reformasi, cerita Bahtiar, dilangsungkan pemilu 1999. PDI Perjuangan menang, tapi Presidennya adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Peran poros tengah saat itu, katanya, begitu kuat. Sehingga Gus Dur dari PKB bisa jadi Presiden. Padahal, poros tengah yang punya ide dan gagasan adalah Ketum PPP saat itu Hamzah Haz. "Tapi mungkin 99 nasib Hamzah Haz masih buruk," katanya. Karena hanya menjadi Wakil Presiden, itupun era Megawati setelah Gus Dur lengser.
"Yang peroleh buah dari pikiran Hamzah Haz itu adalah Abdurrahman Wahid, Amin Rais dan Akbar Tanjung," katanya. [ton]
Begitu dikatakan pengamat politik UIN Syarief Hidayatullah Jakarta Bahtiar Effendy dalam acara Forum Diskusi INILAH Demokrasi bertema "Peluang Capres Parpol Islam Dalam Kancah Pemilihan Presiden 2014" bertempat di INILAH Graha Pesim, Bandung, Minggu (9/2/2014).
"Harus mengulang dulu reformasi itu," katanya.
Bahtiar menjelaskan, posisi partai Islam terutama PPP sebenarnya sangat besar. Tapi sayangnya tidak muncul.
Diawal reformasi, cerita Bahtiar, dilangsungkan pemilu 1999. PDI Perjuangan menang, tapi Presidennya adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Peran poros tengah saat itu, katanya, begitu kuat. Sehingga Gus Dur dari PKB bisa jadi Presiden. Padahal, poros tengah yang punya ide dan gagasan adalah Ketum PPP saat itu Hamzah Haz. "Tapi mungkin 99 nasib Hamzah Haz masih buruk," katanya. Karena hanya menjadi Wakil Presiden, itupun era Megawati setelah Gus Dur lengser.
"Yang peroleh buah dari pikiran Hamzah Haz itu adalah Abdurrahman Wahid, Amin Rais dan Akbar Tanjung," katanya. [ton]
