INILAH.COM, Jakarta - Sekertaris Jenderal (Sekjen) Persatuan
Pergerakan Indonesia (PPI) Gede Pasek Suardika hanya tertawa ketika
ditanya soal istilah Ruhutisme. Katanya, mirip seperti ajang stand up comedy.
Istilah ini diungkapkan oleh pengamat politik asal Universitas Indonesia Boni Hargens. Istilah ini akan diajukan ke Dewan Bahasa.
"Ya, bagi saya itu seperti stand up comedy. Untuk sekedar lucu-lucuan," ujar mantan Ketua Komisi III DPR, di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Senin (10/2/2014).
Boni menjelaskan, Ruhutisme terinspirasi dari sikap Juru Bicara Partai Demokrat (PD) Ruhut Sitompul. Boni juga sempat berselisih dengan Ruhut akibat sebutan politisi kulit hitam yang dianggap rasis. Kasus ini masih ditangani Polda Metro Jaya.
"Ruhut sering bicara atas nama partainya. Artinya, pimpinan partainya tahu, sistemnya ada. Karena itu kita perlu abadikan sikap berpolitik Ruhut dengan istilah Ruhutisme,” jelas Boni.
Dia menjelaskan, Ruhutisme adalah sistem berpikir yang kacau atau ngawur. Tidak didasarkan pada penalaran silogistis, yang tak berbasis data akurat.
“Secara tendensius, menyerang lawan bicara secara personal dalam sebuah diskusi atau diskursus/perbantahan publik, dan bahkan menyerang lawan bicara secara irasional dengan menghina identitas ras dan etnik yang bersangkutan,” jelasnya. [gus]
Istilah ini diungkapkan oleh pengamat politik asal Universitas Indonesia Boni Hargens. Istilah ini akan diajukan ke Dewan Bahasa.
"Ya, bagi saya itu seperti stand up comedy. Untuk sekedar lucu-lucuan," ujar mantan Ketua Komisi III DPR, di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Senin (10/2/2014).
Boni menjelaskan, Ruhutisme terinspirasi dari sikap Juru Bicara Partai Demokrat (PD) Ruhut Sitompul. Boni juga sempat berselisih dengan Ruhut akibat sebutan politisi kulit hitam yang dianggap rasis. Kasus ini masih ditangani Polda Metro Jaya.
"Ruhut sering bicara atas nama partainya. Artinya, pimpinan partainya tahu, sistemnya ada. Karena itu kita perlu abadikan sikap berpolitik Ruhut dengan istilah Ruhutisme,” jelas Boni.
Dia menjelaskan, Ruhutisme adalah sistem berpikir yang kacau atau ngawur. Tidak didasarkan pada penalaran silogistis, yang tak berbasis data akurat.
“Secara tendensius, menyerang lawan bicara secara personal dalam sebuah diskusi atau diskursus/perbantahan publik, dan bahkan menyerang lawan bicara secara irasional dengan menghina identitas ras dan etnik yang bersangkutan,” jelasnya. [gus]
