INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah Singapura protes kepada
Indonesia. Negara tetangga terdekat itu, tidak berkenan atas sikap
Indonesia yang memberi nama "Usman Harun" pada sebuah kapal perang milik
TNI-AL. Selain protes, Singapura juga melarang kapal perang dimaksud
masuk ke perairan Singapura.
Sikap Singapura ini cukup
mengejutkan. Karena rakyat Indonesia sendiri, nyaris tak ada yang tahu
kalau TNI-AL sudah mengabadikan nama Usman dan Harun, dua anggota
marinir Indonesia yang dihukum gantung Singapura hampir 50 tahun lalu.
Mengejutkan,
sebab bangsa Indonesia sendiri sudah lupa atau telah melupakan sejarah
kelabu yang ditulis dalam buku yang membahas hubungan
Singapura-Indonesia. Dan yang lebih mengejutkan lagi, protes Singapura
menunjukkan betapa hebat cara kerja agen intelejennya. Intel Singapura,
mampu mendeteksi infomasi mendetil seperti ini, menunjukkan negara kota
itu memiliki jaringan informan yang luas di Indonesia.
Namun
selain mengejutkan, hal yang tidak kalah penting dari protes tersebut,
mencari tahu apa yang menyebabkan Singapura secara tiba-tiba melayangkan
protes?
Soalnya penamaan "Usman Harun" tidak mengesankan,
Indonesia sedang melecehkan Singapura. Selain di Indonesia banyak orang
yang bernama Usman dan Harun, disatukannya dua nama itu, semakin
menunjukkan TNI-AL tidak memiliki niat membangunkan memori pahit bagi
Singapura.
Di luar itu jika sejarah eksekusi Singapura atas Usman
dan Harun diungkit kembali, protes ini dari sisi Indonesia, bisa
dibilang sebagai sebuah kekeliruan fatal. Walaupun eksekusi itu ditulis
dengan darah sebagai pengganti tinta, dalam sebuah buku berbingkai besi,
tapi buku dan lembaran ceritera itu, sudah hampir lima dekade ditutup.
Sejarah
kelabu yang ada dalam ceritera kedua negara, sudah lama di-delete,
dihapus atau terhapus. Dan pen-delete-an, penghapusan serta penutupan
itu dilakukan atas kesepakatan bersama. Atas niat baik kedua bangsa.
Adalah
Lee Kwan Yeuw, selaku pendiri negara Singapura (founding father)
sekaligus Perdana Menteri yang "meminta maaf" kepada Jenderal Soeharto
(almarhum), Presiden RI, pada era itu. Kendati demikian permintaan maaf
itu, dilakukan Lee sebagai pemimpin yang bertanggung jawab serta
diterima oleh Soeharto secara bermartabat.
Caranya, Lee Kwan Yeuw
melakukan tabur bunga di pusara Usman dan Harun di tempat peristirahatan
mereka yang terakhir, Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Kalibata,
Jakarta. Lee Kwan Yeuw melakukannya, saat berkunjung ke Indonesia.
Kunjungan itu secara khusus dirancang kedua negara untuk menyembuhkan
sebuah luka, dan memulai sebuah babak kehidupan baru.
Tabur bunga
Lee Kwan Yeuw di makam dua prajurit, bukan persoalan mudah atau
pekerjaan yang gampang. Hanya pemimpin yang berjiwa besar yang mampu
melakukannya. Karena kematian dua prajurit Indonesia di tiang gantungan
Singapura, terjadi antara lain karena persetujuannya sebagai pemimpin
Singapura.
Jadi Lee harus berkorban. Tapi karena niatnya untuk
memperbaiki hubungan Jakarta-Singapura yang retak, sebagai pra-syarat
yang diajukan Indonesia, maka pekerjaan sulit tersebut dilakukannya.
Sejak
penutupan buku kasus itu, hubungan RI-Singapura di berbagai bidang,
mengalami peningkatan positif dan signifikan. Sekalipun di sana-sini ada
saja ketidak puasan yang muncul, tetapi hal itu secara cepat dapat
diatasi. Kuncinya hanya satu. Pemimpin kedua negara, sama-sama
menganggap penting, perlunya dibangun sebuah hubungan bertetangga yang
baik dan saling menghormati.
Secara fundamental, hubungan
RI-Singapura kemudian mengalami perubahan, pasca-terjadinya pergantian
pimpinan nasional di Indonesia. Turunnya Jenderal Soeharto dari panggung
kekuasaan di 1998, pemimpin RI yang nota bene merupakan satu generasi
dengan Lee Kwan Yeuw, telah melahirkan sebuah kekosongan sekaligus
kepincangan.
Di dua negara tak ada lagi pemimpin yang komunikatif,
seperti Soeharto-Lee Kwan Yeuw. Kekosongan dialog yang ditinggalkan
Soeharto-Lee, tidak segera diisi oleh generasi penerus di kedua negara.
Singapura menjadi tetangga dekat tetapi jauh di hati, Indonesia menjadi
negara besar di depan mata yang tidak nampak jelas di elit bahkan bangsa
Singapura.
Turunnya Soeharto yang diikuti oleh krisis multi
dimensi, berbanding terbalik dengan Singapura yang masih punya Lee Kwan
Yeuw. Sekalipun Lee tak lagi memimpin Singapura secara de jure, tetapi
kehadirannya tetap menjadi faktor penentu bagi perkembangan pesat
Singapura.
Negara pulau ini menjadi sebuah negara termaju di Asia
Tenggara, di saat Indonesia menjadi negara yang paling terpuruk akibat
krisis moneter yang menerpa kawasan ini. Singapura menjadi contoh bagi
sebuah kesuksesan, sedang Indonesia sebagai model atas sebuah kegagalan.
Indonesia
terus terlilit oleh krisis, bahkan kelompok pesimistis beranggapan,
Indonesia sedang bermetamorfosa menjadi sebuah negara gagal. Indonesia
juga gagal melahirkan pemimpin yang mampu mengatasi krisis multi
dimensi.
Label negatif tentang Indonesia terus bertambah. Dicap
sebagai salah satu negara terkorup di Asia, sementara Singapura dicatat
sebagai negara yang paling bersih dari praktek korupsi. Alhasil, terjadi
kehidupan yang paradoksal antara Indonesia dan Singapura. Jurang
pemisah antara kedua negara semakin lebar.
Disadari atau tidak,
diucapkan atau tidak, faktor-faktor yang disebutkan tadi, telah mengubah
cara pandang Singapura terhadap Indonesia. Indonesia di mata Singapura,
bukan lagi sebuah negara yang bisa diajak berunding dalam kesetaraan.
Kompleksitas permasalahan yang dihadapi para pemimpin Indonesia, menjadi
kendala tersendiri bagi Singapura-bila hendak melakukan perundingan.
Disamping
itu, kriris politik Indonesia yang cenderung segala sesuatu tidak ada
yang pasti, mirip dengan Cuaca London yang dapat berubah sewaktu-waktu,
telah melahirkan pemimpin yang kurang direspek oleh rakyatnya sendiri.
Krisis
ini ditangkap oleh Singapura. Indonesia punya pemimpin tapi rakyatnya
merasa tidak ada yang memimpin mereka. Akibatnya Singapura pun makin
berani merecoki Indonesia.
Singapura tidak lagi segan meneriaki
atau mempermalukan Indonesia. Teriakannya bahkan sudah seperti suara
pengkhotbah yang berbicara di lapangan terbuka yang menggunakan alat
pengeras suara.
Protes kali ini hanya salah satu dari sikap yang
tidak mengenakkan Indonesia. Kebakaran hutan, lalu asap dari Indonesia
menutupi Singapura, oleh Singapura dianggap sebagai perbuatan Indonesia
yang tidak patut. Singapura tidak mau mengerti bahwa kebakaran hutan
yang menimbulkan asap, terjadi karena faktor alam. Singapura menuding,
hal itu akibat dari perbuatan manusia (Indonesia).
Cara Singapura
memprotes Indonesia, tidak lagi terukur. Jawaban Indonesia bahwa
kebakaran hutan yang menghasilkan asap, bukanlah perbuatan yang
disengaja oleh Singapura tidak dianggap sebagai jawaban yang tidak
menjawab pertanyaannya.
Bagi Singapura, pemerintah Indonesia tidak
punya kredibilitas dan akuntabilitas. Padahal kebakaran hutan di musim
panas, oleh faktor alam, juga terjadi setiap tahun di Australia, Amerika
Serikat dan Eropa. Perbedaannya asap dari negara-negara di atas tidak
sampai merambah sampai ke Singapura.
Oleh sebab itu protes
Singapura dalam penamaan kapal perang TNI-AL, tidak bisa dilihat secara
parsial. Protes itu terkait dengan telah berubahnya tingkat kesetaraan
antara kedua negara. Bahkan kalau belakangan Singapura sudah mulai
selektif terhadap tokoh-tokoh Indonesia yang ingin masuk ke negaranya,
hal itu juga tidak berdiri sendiri.
Singapura sangat sadar.
kelemahan Indonesia saat ini sudah demikian menggunung. Tak ubahnya
dengan pohon raksasa tua yang tegak berdiri, tapi akar-akarnya sudah
terkena erosi.
Akibatnya, bagi Singapura protes soal penamaan
"Usman Harun", bukan sesuatu yang janggal. Melainkan terkait dengan
martabat dan identitas sebuah bangsa. Bahwasanya Indonesia menafsirkan
secara keliru, hal tersebut bukan lah sesuatu yang harus dipikirkan oleh
Singapura apalagi menjadi tanggung jawabnya.
Untuk menjadi sebuah
negara yang diperhitungkan, pemimpin memang harus punya sikap. Inilah
yang diperlihatkan Singapura. Sikap seperti inilah yang tidak dimiliki
pemimpin Indonesia sekarang ini. [mdr]
