Headlines News :
Home » » Menyikapi Arogansi Singapura

Menyikapi Arogansi Singapura

Written By Unknown on Selasa, 11 Februari 2014 | 07.52

INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah Singapura protes kepada Indonesia. Negara tetangga terdekat itu, tidak berkenan atas sikap Indonesia yang memberi nama "Usman Harun" pada sebuah kapal perang milik TNI-AL. Selain protes, Singapura juga melarang kapal perang dimaksud masuk ke perairan Singapura.

Sikap Singapura ini cukup mengejutkan. Karena rakyat Indonesia sendiri, nyaris tak ada yang tahu kalau TNI-AL sudah mengabadikan nama Usman dan Harun, dua anggota marinir Indonesia yang dihukum gantung Singapura hampir 50 tahun lalu.

Mengejutkan, sebab bangsa Indonesia sendiri sudah lupa atau telah melupakan sejarah kelabu yang ditulis dalam buku yang membahas hubungan Singapura-Indonesia. Dan yang lebih mengejutkan lagi, protes Singapura menunjukkan betapa hebat cara kerja agen intelejennya. Intel Singapura, mampu mendeteksi infomasi mendetil seperti ini, menunjukkan negara kota itu memiliki jaringan informan yang luas di Indonesia.
Namun selain mengejutkan, hal yang tidak kalah penting dari protes tersebut, mencari tahu apa yang menyebabkan Singapura secara tiba-tiba melayangkan protes?

Soalnya penamaan "Usman Harun" tidak mengesankan, Indonesia sedang melecehkan Singapura. Selain di Indonesia banyak orang yang bernama Usman dan Harun, disatukannya dua nama itu, semakin menunjukkan TNI-AL tidak memiliki niat membangunkan memori pahit bagi Singapura.

Di luar itu jika sejarah eksekusi Singapura atas Usman dan Harun diungkit kembali, protes ini dari sisi Indonesia, bisa dibilang sebagai sebuah kekeliruan fatal. Walaupun eksekusi itu ditulis dengan darah sebagai pengganti tinta, dalam sebuah buku berbingkai besi, tapi buku dan lembaran ceritera itu, sudah hampir lima dekade ditutup.

Sejarah kelabu yang ada dalam ceritera kedua negara, sudah lama di-delete, dihapus atau terhapus. Dan pen-delete-an, penghapusan serta penutupan itu dilakukan atas kesepakatan bersama. Atas niat baik kedua bangsa.

Adalah Lee Kwan Yeuw, selaku pendiri negara Singapura (founding father) sekaligus Perdana Menteri yang "meminta maaf" kepada Jenderal Soeharto (almarhum), Presiden RI, pada era itu. Kendati demikian permintaan maaf itu, dilakukan Lee sebagai pemimpin yang bertanggung jawab serta diterima oleh Soeharto secara bermartabat.

Caranya, Lee Kwan Yeuw melakukan tabur bunga di pusara Usman dan Harun di tempat peristirahatan mereka yang terakhir, Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Kalibata, Jakarta. Lee Kwan Yeuw melakukannya, saat berkunjung ke Indonesia. Kunjungan itu secara khusus dirancang kedua negara untuk menyembuhkan sebuah luka, dan memulai sebuah babak kehidupan baru.

Tabur bunga Lee Kwan Yeuw di makam dua prajurit, bukan persoalan mudah atau pekerjaan yang gampang. Hanya pemimpin yang berjiwa besar yang mampu melakukannya. Karena kematian dua prajurit Indonesia di tiang gantungan Singapura, terjadi antara lain karena persetujuannya sebagai pemimpin Singapura.

Jadi Lee harus berkorban. Tapi karena niatnya untuk memperbaiki hubungan Jakarta-Singapura yang retak, sebagai pra-syarat yang diajukan Indonesia, maka pekerjaan sulit tersebut dilakukannya.
Sejak penutupan buku kasus itu, hubungan RI-Singapura di berbagai bidang, mengalami peningkatan positif dan signifikan. Sekalipun di sana-sini ada saja ketidak puasan yang muncul, tetapi hal itu secara cepat dapat diatasi. Kuncinya hanya satu. Pemimpin kedua negara, sama-sama menganggap penting, perlunya dibangun sebuah hubungan bertetangga yang baik dan saling menghormati.

Secara fundamental, hubungan RI-Singapura kemudian mengalami perubahan, pasca-terjadinya pergantian pimpinan nasional di Indonesia. Turunnya Jenderal Soeharto dari panggung kekuasaan di 1998, pemimpin RI yang nota bene merupakan satu generasi dengan Lee Kwan Yeuw, telah melahirkan sebuah kekosongan sekaligus kepincangan.

Di dua negara tak ada lagi pemimpin yang komunikatif, seperti Soeharto-Lee Kwan Yeuw. Kekosongan dialog yang ditinggalkan Soeharto-Lee, tidak segera diisi oleh generasi penerus di kedua negara. Singapura menjadi tetangga dekat tetapi jauh di hati, Indonesia menjadi negara besar di depan mata yang tidak nampak jelas di elit bahkan bangsa Singapura.

Turunnya Soeharto yang diikuti oleh krisis multi dimensi, berbanding terbalik dengan Singapura yang masih punya Lee Kwan Yeuw. Sekalipun Lee tak lagi memimpin Singapura secara de jure, tetapi kehadirannya tetap menjadi faktor penentu bagi perkembangan pesat Singapura.

Negara pulau ini menjadi sebuah negara termaju di Asia Tenggara, di saat Indonesia menjadi negara yang paling terpuruk akibat krisis moneter yang menerpa kawasan ini. Singapura menjadi contoh bagi sebuah kesuksesan, sedang Indonesia sebagai model atas sebuah kegagalan.

Indonesia terus terlilit oleh krisis, bahkan kelompok pesimistis beranggapan, Indonesia sedang bermetamorfosa menjadi sebuah negara gagal. Indonesia juga gagal melahirkan pemimpin yang mampu mengatasi krisis multi dimensi.

Label negatif tentang Indonesia terus bertambah. Dicap sebagai salah satu negara terkorup di Asia, sementara Singapura dicatat sebagai negara yang paling bersih dari praktek korupsi. Alhasil, terjadi kehidupan yang paradoksal antara Indonesia dan Singapura. Jurang pemisah antara kedua negara semakin lebar.

Disadari atau tidak, diucapkan atau tidak, faktor-faktor yang disebutkan tadi, telah mengubah cara pandang Singapura terhadap Indonesia. Indonesia di mata Singapura, bukan lagi sebuah negara yang bisa diajak berunding dalam kesetaraan. Kompleksitas permasalahan yang dihadapi para pemimpin Indonesia, menjadi kendala tersendiri bagi Singapura-bila hendak melakukan perundingan.

Disamping itu, kriris politik Indonesia yang cenderung segala sesuatu tidak ada yang pasti, mirip dengan Cuaca London yang dapat berubah sewaktu-waktu, telah melahirkan pemimpin yang kurang direspek oleh rakyatnya sendiri.

Krisis ini ditangkap oleh Singapura. Indonesia punya pemimpin tapi rakyatnya merasa tidak ada yang memimpin mereka. Akibatnya Singapura pun makin berani merecoki Indonesia.

Singapura tidak lagi segan meneriaki atau mempermalukan Indonesia. Teriakannya bahkan sudah seperti suara pengkhotbah yang berbicara di lapangan terbuka yang menggunakan alat pengeras suara.

Protes kali ini hanya salah satu dari sikap yang tidak mengenakkan Indonesia. Kebakaran hutan, lalu asap dari Indonesia menutupi Singapura, oleh Singapura dianggap sebagai perbuatan Indonesia yang tidak patut. Singapura tidak mau mengerti bahwa kebakaran hutan yang menimbulkan asap, terjadi karena faktor alam. Singapura menuding, hal itu akibat dari perbuatan manusia (Indonesia).

Cara Singapura memprotes Indonesia, tidak lagi terukur. Jawaban Indonesia bahwa kebakaran hutan yang menghasilkan asap, bukanlah perbuatan yang disengaja oleh Singapura tidak dianggap sebagai jawaban yang tidak menjawab pertanyaannya.

Bagi Singapura, pemerintah Indonesia tidak punya kredibilitas dan akuntabilitas. Padahal kebakaran hutan di musim panas, oleh faktor alam, juga terjadi setiap tahun di Australia, Amerika Serikat dan Eropa. Perbedaannya asap dari negara-negara di atas tidak sampai merambah sampai ke Singapura.

Oleh sebab itu protes Singapura dalam penamaan kapal perang TNI-AL, tidak bisa dilihat secara parsial. Protes itu terkait dengan telah berubahnya tingkat kesetaraan antara kedua negara. Bahkan kalau belakangan Singapura sudah mulai selektif terhadap tokoh-tokoh Indonesia yang ingin masuk ke negaranya, hal itu juga tidak berdiri sendiri.

Singapura sangat sadar. kelemahan Indonesia saat ini sudah demikian menggunung. Tak ubahnya dengan pohon raksasa tua yang tegak berdiri, tapi akar-akarnya sudah terkena erosi.

Akibatnya, bagi Singapura protes soal penamaan "Usman Harun", bukan sesuatu yang janggal. Melainkan terkait dengan martabat dan identitas sebuah bangsa. Bahwasanya Indonesia menafsirkan secara keliru, hal tersebut bukan lah sesuatu yang harus dipikirkan oleh Singapura apalagi menjadi tanggung jawabnya.

Untuk menjadi sebuah negara yang diperhitungkan, pemimpin memang harus punya sikap. Inilah yang diperlihatkan Singapura. Sikap seperti inilah yang tidak dimiliki pemimpin Indonesia sekarang ini. [mdr]
Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI