Headlines News :
Home » » Kalian Sudah Bebas!

Kalian Sudah Bebas!

Written By Unknown on Rabu, 19 Februari 2014 | 12.00

REVOLUSI tanpa setetes darah. Itulah peristiwa perebutan kembali kota Mekkah, yang lebih dikenal dengan Fathu Makkah. Sama sekali tidak terlihat sebagai sebuah kesan bagaimana perlakuan kasar dan penyiksaan kaum kafir Quraisy Mekah terhadap Nabi.

Mereka merencanakan untuk mengeksekusi Nabi di tengah malam. Karena itu kediaman Nabi sudah dipagar betis oleh pasukan elit kafir Quraisy. Untung Nabi beserta Abu Bakar bisa lolos dari pagar betis itu ata sizin Allah.

Di dalam rumah Sayidina Ali mengecoh mereka dengan tidur di tempat tidur Nabi dan menggunakan selimutnya. Mereka menyangka Nabi masih tertidur. Saat mereka akan mengeksekusi Nabi dan membuka selimut itu, alangkah kagetnya kalau yang ada dalam selimut itu bukan Nabi melainkan Ali.

Mereka lalu menyebar mencari dan memburu Nabi. Untung mereka tidak sampai memasuki tempat persembunyian Nabi di dalam gua Tsaur, karena mereka yakin tidak ada siapa-siapa di dalam gua. Sarang laba-laba masih utuh menutipi gua, di tambah burung-burung masih bertahan mengerami telur di atas sarangnya di mulut goa itu. Sementara lubang atas gua itu masih tertutup rapi tangkai pohon tanpa ada bekas manusia melewatinya.

Akhirnya keluarga Nabi dan umat Islam Mekah melakukan eksodus besar-besaran ke Yathrib yang belakangan diganti menjadi Madinah oleh Nabi. Selama di Madina, Nabi membangun kekuatan konsolidasi umat di samping menggalakkan syiar ke kabilah dan suku bangsa, sampai ke negeri tetangga. Setelah merasa cukup kuat, Nabi mengatur strategi untuk merebut kota Mekkah.

Nabi memilih penyerangan malam di Bulan Ramadhan. Ia membagi tiga pasukannya sebagai taktik. Satu kelompok lewat bukit, satu kelompok lewat lembah, dan kelompok lain di jalur normal. Abi Sufyan, pimpinan kaum Kafir Quraisy, tidak menyangka pasukan Rasulullah berjumlah besar dan telah mengatur taktik yang canggih. Ia mengira pasukan Rasulullah hanya yang lewat jalan normal. Ternyata pada saat yang tepat pasukan bukit dan pasukan lembah berjumpa di perbatasan kota Mekah.

Kaum kafir Quraisy Mekah sangat ketakutan. Mereka menunggu diri mereka dieksekusi sebagaimana layaknya tradisi perang kabilah, yang kalah laki-lakinya dibunuh dan perempuannya dijadikan budak bersama anak-anaknya.

Alangkah kagetnya mereka setelah Nabi meneriakkan”Antumthulaqa’ (kalian semua sudah bebas!). “Siapa yang masuk ke dalam pekerangan Ka’bah aman, masuk ke rumah Abi Sufyan aman, dan masuk ke dalam rumah dan mengunci rumah juga aman”.

Akhirnya Abi Sufyan bersama pembesar Quraisy menyerah dan bersedia mengikuti petunjuk Nabi. Selanjutnya Nabi meminta kepada para pimpinan pasukannya untuk menyatakan: “Al-yaum yaumal-marhamah” (Hari ini hari kasih sayang).

Salah seorang sahabat Nabi berteriak: al-yau yaumul malhamah (hari ini adalah hari pertumpahan darah). Penduduk Mekah kembali ketakutan lalu Abi Sufyan protes, kenapa menjadi hari pertumpahan darah padahal tadi diumumkan hari kasih sayang dan hari pengampunan.

Nabi menjawab, tidak begitu maksudnya. Sahabat itu cadel, tidak bisa menyebut huruf ra, sehingga huruf ra diucapkan dengan la. Maka jadinya al-yaum yaul al-marhamah (hari ini hari kasih sayang) diucapkan al-yaum yaumal-malhamah (hari ini hari pertumpahan darah). Setelah itu Nabi meminta sahabat tadi berhenti bicara dan mengikuti persepakatan.

Penyelesaian Fathu Makkah sangat manusiawi dan menyalahi tradisi perang Arab. Hari itu betul-betul tidak ada balas dendam. Revolusi tanpa setetes darah. Revolusi tanpa balas dendam. revolusi dengan biaya murah, dan revolusi yang melahirkan keutuhan serta kedamaian monumental. Itulah revolusi Nabi. Dunia tercengang menyaksikan kearifan seorangNabi Muhammad. Akhirnya kawasan itu serta merta menjadi muslim tanpa unsur paksaan sedikitpun. [mdr]
Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI