INILAH.COM, Jakarta - Warga Jakarta dan sekitarnya pada
Rabu (5/2/2014) pagi mengalami persoalan krusial yakni kemacetan yang
merata hampir di berbagai titik masuk Kota Jakarta. Kesemrawutan
transportasi Jakarta mengalami titik ekstrem di saat genangan berada di
mana-mana.
Istana kebanjiran. Itulah yang terjadi pada
Rabu (5/2/2014). Salah satu simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang berada di ring 1 tak bisa diselamatkan dari genangan air Ibu kota.
Kondisi itu juga terjadi di berbagai titik strategis lainnya seperti di
bundaran patung kuda Jl MH Thamrin Jakarta Pusat, serta sejumlah titik
strategis menuju pusat kota. Situasi ini mirip dengan banjir 2013, saat
Jokowi masih tiga bulan menjabat
Gubernur DKI Jakarta. Setahun lebih ia
menjabat, keadaannya tidak jauh beda.
Selain itu, akibat banjir di
berbagai titik, moda andalan warga Jakarta dan sekitarnya seperti KRL,
juga kena imbasnya. Penumpang relasi Bogor-Jakarta menjadi korban akibat
gangguan kereta. Stasiun Jakarta Kota, untuk beberapa saat juga tidak
bisa dilalui kereta api. Di jejaring media sosial keluhan para warga
Jakarta tumpah ruah. Hal yang sama dari status di BlackBerry Messenger
yang bernada keluh kesah. Jakarta telah menyiksa warganya.
Gubernur
DKI Jakarta Jokowi berdalih, banjir di sejumlah titik termasuk kompleks
Istana Negara disebabkan curah hujan yang tinggi. Ia mencontohkan,
akibatnya daerah yang sebelumnya tidak banjir, kini menjadi banjir.
"Karena hujannya deres banget, cuaca ekstrem," kilah Jokowi, Rabu
(5/2/2014).
Ia pun percaya diri membandingkan kondisi Jakarta pada
2013 dengan saat ini. Ia mengklaim, titik banjir pada 2014 ini
berkurang dibandingkan 2013 lalu. Ia mencontohkan keadaan Jalan Sudirman
dan Jalan Thamrin yang saat ini tidak lagi banjir seperti pada 2013
lalu.
Berbagai program yang ditawarkan Jokowi saat masa kampanye
dalam Pilkada 2012 lalu tak ubahnya seperti jimat untuk memenangkan
kontestasi pilkada. Seperti saat itu untuk mengatasi banjir di Jakarta
di antaranya pembangunan kampung deret dan normalisasi kali.
Yang
muncul usai dilantik sebagai Gubernur, Jokowi mewacanakan membuat
sodetan kali Ciliwung serta deep tunnel hingga setahun berlalu tak jelas
juntrungannya. Meski saat itu, publik kagum dengan aksi Jokowi masuk
gorong-gorong di Jalan MH Thamrin.
Kini, berbagai janji solusi
mengatasi banjir belum jelas hasil konkretnya bagi masyarakat. Yang
terjadi justru kemacetan dan banjir yang menjadi menu harian warga
Ibukota dan sekitarnya. Kini, tampaknya jimat Jokowi untuk Jakarta Baru
belum bertuah. [mdr]
