INILAH.COM, Jakarta – Publik menginginkan pemimpin yang
bergaul dengan mereka di ruang nyata, bukan aktor politik di panggung
tinggi. Wajar tokoh seperti Jokowi yang dinanti.
Sekali
lagi sebuah hasil survei seharusnya kian membuat para politisi tahu
diri. Berdasarkan hasil survei PolcoMM Institute yang dilansir Ahad
(9/2/2014) lalu, publik menyatakan tidak mempercayai partai politik.
Faktor utama yang menyebabkan melorotnya kepercayaan itu tak lain
banyaknya kader parpol yang terlibat korupsi.
“Sekitar 58, 2
persen responden menyatakan tidak percaya lagi partai politik,” kata
Direktur Eksekutif PolcoMM Institute, Heri Budianto. Heri menjamin hasil
survei itu kredibel.
Ditanya tentang kecenderungan publik
tersebut, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, yang
hadir pada pemaparan tersebut mengatakan, hasil survei Laboratorium
Psikologi Politik UI Desember lalu pun mengisyaratkan hasil serupa.
“Rakyat menginginkan calon presiden yang punya integritas moral dan tidak digelayuti pengusaha,” kata Hamdi.
Dalam
penilaian publik, calon dari parpol alpa memiliki itu semua. Lebih jauh
bahkan Hamdi menegaskan bahwa calon presiden dari partai politik,
seperti Megawati Sukarnoputri, Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie,
ditolak publik karena diaanggap tidak menginspirasi. Sebaliknya,
nama-nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Wali Kota Surabaya Tri
Rismaharani, dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, justru mendapat
dukungan.
“Orang-orang baik belum tentu lahir dari partai politik,” kata dia. Figur dari parpol sendiri banyak yang dianggap cukup baik. “Namun numpang ngekos,” kata Hamdi, tanpa merinci lebih lanjut.
“Orang-orang baik belum tentu lahir dari partai politik,” kata dia. Figur dari parpol sendiri banyak yang dianggap cukup baik. “Namun numpang ngekos,” kata Hamdi, tanpa merinci lebih lanjut.
Merosotnya
kepercayaan publik kepada parpol dan para kadernya itu memang bukan
fenomena baru. Kecenderungan tersebut sudah berjalan lama, bahkan mulai
terasa sejak lima tahun pertama reformasi. Persoalannya, dengan kian
terbukanya berbagai kasus korupsi yang melibatkan parpol—tak kecuali
parpol berlandaskan agama, citra buruk parpol itu seolah mendapatkan
validasi. Ada kesan sangat serius di masyarakat yang bisa ditengarai
dari percakapan di ruang publik bahwa kader parpol nyaris identik dengan
laku koruptif.
Padahal, tentu saja tidak demikian. Para founding fathers bangsa ini tahu benar bahwa kekuasaan itu bukan privilege, melainkan justru tanggung jawab.
“Leiden is lijden,”
kata Mr Kasman Singodimejo, salah satu pimpinan nasional era
kemerdekaan. “Memimpin, adalah jalan yang menderita.” Diktum itu terasa
bumi dengan langit dihadapkan dengan realitas kekuasaan saat ini.
Bukankah kini kuasa identik dengan hidup mewah dan keberlimpahan harta?
Sikap hidup Mr Kasman, Agus Salim dan kawan-kawan masa itu, kini begitu
langka.
Yang tak terhitung banyaknya justru para pengikut Papa
Nick, alias Niccolo Machiavelli, si penghalal segala cara. Machiavelli
percaya, para politisi adalah mereka yang mengombinasi keluhuran sifat
manusia dan kebiadaban hewan demi menjamin langgengnya kekuasaan. Karena
itu, wajar bila dalam terma Papa Nick sikap penuh pura-pura menjadi hal
biasa. Pura-pura jujur, pura-pura transparan, pura-pura demokratis.
Singkatnya, politik adalah arena pertunjukan seni hipokrisi tingkat
tinggi.
Akibatnya lumrah saja bila sampai saat ini kita seringkali
dipimpin para pejabat yang tak jarang penjahat. Para pelakon yang
merasa dunia sekadar panggung sandiwara tanpa dampak pada khalayak.
Mereka yang menjungkir balik pandangan pemikir Hannah Arendt tentang “A theatre is the political art, part excellence.”
Barangkali
juga sikap tak acuh publik kepada para politisi itu karena puluhan
tahun mereka lebih percaya Iwan Fals yang berteriak lewat ’Sumbang’. “Setan-setan politik yang datang mencekik. Walau di masa paceklik, tetap mencekik...”Mereka
merasa, politisi tak lebih dari gergasi, anggota Dewan tak ubahnya
mambang. Mereka tak lagi mau dipimpin para mambang, karena itu lobang
keluarnya, via parpol, mereka tutup.
Benar, kian dekat Pemilu,
para politisi pun keluar dengan gincu dan madu. Tetapi kita pun mafhum,
sebagaimana ucapan bijak Aristoteles,”Bukan seekor burung layang-layang,
atau sepotong hari cerah yang membikin musim semi.” Bukan sikap saat
ini yang bisa jadi bukti, tetapi karakter yang telah menjadi perilaku
yang menjadi ciri. [dsy]
