Headlines News :
Home » » Jangan dari Lobang Setan

Jangan dari Lobang Setan

Written By Unknown on Selasa, 11 Februari 2014 | 08.42

INILAH.COM, Jakarta – Publik menginginkan pemimpin yang bergaul dengan mereka di ruang nyata, bukan aktor politik di panggung tinggi. Wajar tokoh seperti Jokowi yang dinanti.

Sekali lagi sebuah hasil survei seharusnya kian membuat para politisi tahu diri. Berdasarkan hasil survei PolcoMM Institute yang dilansir Ahad (9/2/2014) lalu, publik menyatakan tidak mempercayai partai politik. Faktor utama yang menyebabkan melorotnya kepercayaan itu tak lain banyaknya kader parpol yang terlibat korupsi.

“Sekitar 58, 2 persen responden menyatakan tidak percaya lagi partai politik,” kata Direktur Eksekutif PolcoMM Institute, Heri Budianto. Heri menjamin hasil survei itu kredibel.
Ditanya tentang kecenderungan publik tersebut, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, yang hadir pada pemaparan tersebut mengatakan, hasil survei Laboratorium Psikologi Politik UI Desember lalu pun mengisyaratkan hasil serupa.

“Rakyat menginginkan calon presiden yang punya integritas moral dan tidak digelayuti pengusaha,” kata Hamdi.

Dalam penilaian publik, calon dari parpol alpa memiliki itu semua. Lebih jauh bahkan Hamdi menegaskan bahwa calon presiden dari partai politik, seperti Megawati Sukarnoputri, Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie, ditolak publik karena diaanggap tidak menginspirasi. Sebaliknya, nama-nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani, dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, justru mendapat dukungan.

“Orang-orang baik belum tentu lahir dari partai politik,” kata dia. Figur dari parpol sendiri banyak yang dianggap cukup baik. “Namun numpang ngekos,” kata Hamdi, tanpa merinci lebih lanjut.

Merosotnya kepercayaan publik kepada parpol dan para kadernya itu memang bukan fenomena baru. Kecenderungan tersebut sudah berjalan lama, bahkan mulai terasa sejak lima tahun pertama reformasi. Persoalannya, dengan kian terbukanya berbagai kasus korupsi yang melibatkan parpol—tak kecuali parpol berlandaskan agama, citra buruk parpol itu seolah mendapatkan validasi. Ada kesan sangat serius di masyarakat yang bisa ditengarai dari percakapan di ruang publik bahwa kader parpol nyaris identik dengan laku koruptif.

Padahal, tentu saja tidak demikian. Para founding fathers bangsa ini tahu benar bahwa kekuasaan itu bukan privilege, melainkan justru tanggung jawab.

Leiden is lijden,” kata Mr Kasman Singodimejo, salah satu pimpinan nasional era kemerdekaan. “Memimpin, adalah jalan yang menderita.” Diktum itu terasa bumi dengan langit dihadapkan dengan realitas kekuasaan saat ini. Bukankah kini kuasa identik dengan hidup mewah dan keberlimpahan harta? Sikap hidup Mr Kasman, Agus Salim dan kawan-kawan masa itu, kini begitu langka.

Yang tak terhitung banyaknya justru para pengikut Papa Nick, alias Niccolo Machiavelli, si penghalal segala cara. Machiavelli percaya, para politisi adalah mereka yang mengombinasi keluhuran sifat manusia dan kebiadaban hewan demi menjamin langgengnya kekuasaan. Karena itu, wajar bila dalam terma Papa Nick sikap penuh pura-pura menjadi hal biasa. Pura-pura jujur, pura-pura transparan, pura-pura demokratis. Singkatnya, politik adalah arena pertunjukan seni hipokrisi tingkat tinggi.

Akibatnya lumrah saja bila sampai saat ini kita seringkali dipimpin para pejabat yang tak jarang penjahat. Para pelakon yang merasa dunia sekadar panggung sandiwara tanpa dampak pada khalayak. Mereka yang menjungkir balik pandangan pemikir Hannah Arendt tentang “A theatre is the political art, part excellence.”

Barangkali juga sikap tak acuh publik kepada para politisi itu karena puluhan tahun mereka lebih percaya Iwan Fals yang berteriak lewat ’Sumbang’. “Setan-setan politik yang datang mencekik. Walau di masa paceklik, tetap mencekik...”Mereka merasa, politisi tak lebih dari gergasi, anggota Dewan tak ubahnya mambang. Mereka tak lagi mau dipimpin para mambang, karena itu lobang keluarnya, via parpol, mereka tutup.

Benar, kian dekat Pemilu, para politisi pun keluar dengan gincu dan madu. Tetapi kita pun mafhum, sebagaimana ucapan bijak Aristoteles,”Bukan seekor burung layang-layang, atau sepotong hari cerah yang membikin musim semi.” Bukan sikap saat ini yang bisa jadi bukti, tetapi karakter yang telah menjadi perilaku yang menjadi ciri. [dsy]
Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI