INILAHCOM, Jakarta - Nama Ratu Atut Chosiyah SE memang sangat
kesohor. Ia adalah Gubernur Banten yang diduga paling korup. Karena cap
itu pula, anak TB Chasan Sohib, pengusaha-jawara Banten itu, berurusan
dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Atut diduga terlibat banyak
kasus penilepan uang negara melalui proyek-proyek pembangunan yang
dibiayai APBD provinsi itu.
Yang tidak kesohor adalah
siapa mentor politik Atut hingga tampil jadi penguasa di Banten, lalu
kemudian berubah menjadi ‘monster’ yang ditakuti oleh siapapun yang
menganggap uang sebagai Tuhan. Ketika Banten masih menjadi bagian dari
Provinsi Jawa Barat, Atut adalah hanya anak jawara yang memiliki
perusahaan bernama CV Sinar Ciomas. Perusahaan kontraktor jembatan dan
jalan.
Ketika menduduki bangku SMA kelas dua, Atut sempat
menghilang, entah kemana. Ada yang bilang diungsikan ke Sukabumi. Ada
juga yang bilang hijrah ke Bandung. Gosip yang berkembang pada waktu
itu, Atut sudah menikah dan hamil. Wallahu’alam, hanya Atut dan
keluarganya yang tahu mengapa pada sekitar 1980-an itu Atut menghilang
dari Serang. Dan, kemudian muncul lagi sudah punya anak sebagai istri
Hikmat Tomet (almarhum, red)
Pada saat Banten dikukuhkan sebagai
provinsi, nama Atut belum muncul. Gubernur Banten pertama adalah Drs H
Hakamuddin Djamal, MSi. Ia Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Banten periode
2002-2005. Hakam mulai menjabat pada 17 November 2000. Kemudian
digantikan Djoko Munandar sebagai gubernur terpilih pada 11 Januari
2002.
Nama Atut muncul agak mengejutkan banyak kalangan tokoh
politik Banten pada waktu itu seperti Eky Syahruddin (almarhum), Triana
Sam’un, dan Mochtar Mandala yang aktif memperjuangkan pemisahan Banten
dari Provinsi Jawa Barat. Pasalnya, nama Atut muncul dan langsung
bersanding dengan Djoko Munandar sebagai wakil gubernur.
Siapa
arsitek di balik melesatnya nama Atut di pentas politik Provinsi Banten?
Ya dialah Hakamuddin Djamal. Lelaki asal Makassar yang kini menduduki
Komisaris PT Angkasa Pura I. Selama periode 2000-2002, Hakam intens
bergaul dengan Chasan Sohib. Hampir tiap sore pada hari kerja, Chasan
Sobih rajin nyambangi ruang kerja Hakamuddin.
Pada malam hari, tak
jarang Atut menemani Hakamuddin bernyanyi di ruang karaoke. Hakamuddin
yang saat itu staf ahli Mendagri memang dikenal piawai dalam mengatur
strategi. Hakam juga pandai mengader Atut sebagai calon gubernur.
Sebagai catatan, selain suka bernyanyi Hakamuddin juga punya hobi
mengoleksi mobil-mobil mewah. Mirip dengan hobi TB Chaeri Wardana alias
Wawan, adik kandung Atut yang juga mendekam di ruang tahanan lembaga
antirasuah itu.
Mengapa Hakamuddin merancang dan memasangkan Atut
dengan DjokoMunandar, politisi PPP? Kok tidak dengan Triana Syam’un atau
tokoh Banten yang lain? Inilah cerdiknya Hakamuddin sebagai mentor
politik. Hakamuddin pasti tahu persis Djoko Munandar memiliki kelemahan
finansial. Tetapi memiliki jumlah kursi yang memadai di DPRD Provinsi.
Lalu, Atut yang membawa bendera Partai Golkar memiliki uang. Golkar
sendiri pada waktu itu sedang terpuruk kena imbas Reformasi 1998.
Seperti
sudah dirancang, Djoko Munandar hanya jadi Gubernur Banten tiga tahun.
Djoko yang dilantik pada 11 Januari 2002, dinonaktifkan pada 10 Oktober
2005 karena tersangkut kasus korupsi. Djoko menjadi tahanan Kejaksaan
Tinggi Banten. Dan, Atut pun naik menjadi Plt Gubernur Banten 2005-2007.
Pada
Pemilukada 2008, Atut terpilih sebagai Guberur Banten periode
2008-2012. Pada Pemilukada 2012, Atut yang berpasangan dengan Rano Karno
(PDI Perjuangan) terpilih lagi. Dan, seperti mengikuti jejak
DjokoMunadar, Atut pun masuk tanahan KPK dalam kasus korupsi. Bedanya,
Atut tak langsung non aktif dari jabatan Gubernur Banten.
