Headlines News :
Home » » Dilema Politik Bakal Berlanjut di PDIP

Dilema Politik Bakal Berlanjut di PDIP

Written By Unknown on Kamis, 20 Februari 2014 | 09.00

INILAHCOM, Jakarta - Tak bisa disangkal bahwa PDI Perjuangan menghadapi dilema politik dan konflik kepentingan antara mengajukan Megawati atau Jokowi sebagai capres 2014. Bagaimana kemungkinannya?

Konteks PDIP kini mengingatkan kita pada falsafah politik Jawa Kuno bahwa “Tidak boleh ada Matahari Kembar” dalam politik dan kekuasaan Jawa. Dalam konteks PDIP, ada Megawati dan Jokowi.
Konteks PDIP ini relevan diasosiasikan dengan falsafah Jawa Kuno itu karena jika mengamati konflik demi konflik dalam sejarah para Raja Jawa masa lampau, senantiasa bermula dari lingkaran “dalam” kekuasaan. Dan bukan karena dipicu oleh kekuatan politik luar.

Pertikaian politik, intrik politik dalam tubuh kerajaan seringkali muncul jika tokoh sentral yang berkuasa (Megawati, dalam konteks PDIP ini) dirasa telah berkurang vitalitasnya, dan atau telah muncul tokoh baru (Jokowi) yang menyaingi tokoh sentral yang sedang berkuasa di PDIP. Dengan kata lain, terjadi “matahari kembar”. Dilema politik inilah yang melanda internal PDIP dengan nuansa dan aura yang kuat memancar.

Dalam kaitan ini, Koordinator Nasional Projo Budi Arie Setiadi menilai ada segelintir elite Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang sengaja bermanuver untuk menjegal pencapresan Jokowi. Padahal, respon publik yang kuat mendorong Jokowi maju capres, mustinya mendorong respon positif yang paralel dari PDIP sendiri. Namun apa yang terjadi?

"Segelintir orang di PDI Perjuangan mau mengorbankan peluang emas PDI Perjuangan, hanya karena kepentingan dirinya tidak terakomodasi bila Jokowi menjadi presiden. Mereka ketakutan akan kehilangan peran," jelasnya.

Dilema politik ini melanda PDI Perjuangan dan publik ikut menyaksikannya. Sejauh ini, PDI-P mengaku memasukkan Jokowi dalam skenario menghadapi Pilpres 2014. Skenario pertama, jika mereka berhasil melewati ambang batas pencalonan presiden-wakil presiden, maka sudah ada dua nama di internal yang akan dipasangkan sebagai capres dan cawapres, yakni Megawati Soekarnoputri dan Jokowi.

Skenario kedua, jika suara PDI-P di Pemilu Legislatif 2014 tidak cukup untuk mengusung pasangan capres-cawapres sendiri, maka Jokowi akan dipasangkan dengan cawapres dari partai koalisi. Karena itu, PDI-P baru akan memutuskan pencapresan setelah pileg.

Dalam kaitan ini, Ketua DPP PDI Perjuangan Komaruddin Watubun mengaku khawatir atas sikap orang-orang di sekitar Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang memberi masukan subyektif dalam menetapkan calon presiden 2014.

Publik sungguh berharap tidak ada pihak-pihak yang membuat Megawati berada di posisi terjepit dan dalam posisi di-fait accompli ketika mengambil keputusan untuk memenangkan Pemilu 2014.

Pertanyaannya kemudian, sampai kapan dilema politik dan konflik kepentingan itu berlangsung di kalangan internal PDIP sendiri? Bukankah pemilu legislatif kian mendekat saja? Bagaimana kemudian dengan ‘matahari kembar’ dalam PDIP sendiri?

Publik menanti jawaban dari Megawati dan elite PDIP sendiri. Namun dengan catatan, Megawati tidak dalam posisi dijepit dan di-fait accompli, kiranya. [berbagai sumber]

Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI