Headlines News :
Home » » Bebaskan Pulau Popole dari Keluarga Ratu Atut

Bebaskan Pulau Popole dari Keluarga Ratu Atut

Written By Unknown on Rabu, 19 Februari 2014 | 23.41

INILAHCOM, Jakarta - Seharusnya, siapapun aparat penegak hukum yang mewakili negara tak perlu ragu mengambil alih Pulau Popole dan Pulau Liwungan dari penguasaan keluarga besar Ratu Atut Chosiyah.

Dua pulau itu jelas-jelas milik negara yang tak bisa begitu saja diperjual belikan. Bahkan aparat kepolisian dan kejaksaan di Kabupaten Pandeglang harus segera menangkap pihak-pihak yang terlibat dalam proses pemindahan hak pulau tersebut ke tangan TB Chasan Sochib, ayah Ratu Atut.

Pulau Popole adalah pulau kecil yang terletak di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Sementara Pulau Liwungan terletak di Kecamatan Panimbang, yang jaraknya cukup dekat dari Labuan. Bahkan jarak Pulau Popole ke Pulau Liwungan jauh lebih dekat lagi.

Sebelum dicaplok mendiang ayahanda Ratu Atut, Chasan Sochib, dua pulau tersebut merupakan tempat rekreasi rakyat Kabupaten Pandeglang. Setiap akhir pekan penduduk setempat bersantai bersama keluarga di Pantai Laba, pantai yang sekaligus menjadi dermaga penyeberangan ke Pulau Popole. Para wisatawan lokal ini menyewa perahu nelayan sekadar untuk memutari Pulau popole lalu singgah di pulau itu untuk memetik buah kelapa muda.

Dulu, di Pantai Laba hidup kegiatan ekonomi rakyat. Para nelayan memiliki pendapatan tambahan dengan menyewakan perahu. Para pedagang kaki lima, bisa meraup keuntungan lebih karena mereka bisa melayani berbagai kebutuhan para turis lokal. Begitu juga pengangguran setempat, bisa mendapat penghasilan tambahan dengan mengelola lahan parkir dadakan.

Jika Idul Fitri tiba, Pulau Popole merupakan tempat merayakan hari kemenangan dan kebahagiaan warga setempat. Jumlah pengunjung selalu membludak, karena yang datang bukan hanya warga Labuan dan sekitarnya, tetapi warga dari berbagai kota di Wilayah Banten.

Bagi wisatawan lokal yang gemar memancing, Pulau Popole adalah tempat mancing favorit. Di perairan pulau ini terdapat ikan-ikan yang sangat menyenangkan jika dipancing seperti ikan barakuda, si baramudi, ikan pari, kerapu, dan ikan-ikan besar lainnya.

Pada hari-hari biasa, Pulau Popole tempat para petani dan nelayan mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Para petani datang ke pulau ini untuk memungut buah dan daun melinjo atau kelapa yang memang tumbuh subur di pulau seluas 35 hektar ini. Sementara nelayan menjaring ikan atau memancing.

Kini, setelah 10 tahun lalu Pulau Popole dicaplok Chasan Sochib, kegembiraan dan mata pencaharian rakyat miskin pun sirna. Pulau Popole menjadi pulau terlarang bagi warga masyarakat umum. Pulau itu hanya bisa dikunjungi keluarga besar Gubernur Banten Atut Chosiyah dan kroni-kroninya.

Mengapa berpuluh-puluh tahun ditindas dan diintimidasi Chasan Sochib tak ada warga Banten yang melakukan perlawanan? Bukankah sejarah mencacat bahwa orang Banten yang religius itu tak mudah dianeksasi, jangankan oleh orang perorang, oleh tentara Belanda pun Banten tak pernah berhasil ditaklukan secara total? Jawabannya sederhana. Sebagian besar orang Banten yang berpengaruh kelihatannya sudah mengganti Tuhan mereka dengan uang.

Itu sebabnya mereka gampang tunduk pada Chasan Sochib. Sebab, siapapun yang berusaha menghalang-halangi keinginan Chasan Sochib selalu ditundukkan dengan tiga cara. Pertama, dibeli dengan uang. Kedua, dikirimi jawara bergolok. Ketiga, ini gosipnya: ‘dikirimi mantera lewat para pembaca mantera’. Coba cek kebenarannya, berapa jaksa dan polisi penyidik yang muntah darah ketika mencoba mengungkit kesalahan yang dilakukan Chasan Sochib, jawara kebal hukum!

Tampaknya, khusus untuk menaklukan orang-orang Labuan yang dulu sejarahnya anti Chasan Sochib, ayahanda Atut ini memperistri Hj Ratu Haerani, putri tokoh jawara di Tarogong, Labuan. Ratu Haerani kini Wakil Bupati Pandeglang.

Sudah saatnya para tokoh Banten menebus dosa atas kesalahan membiarkan Chasan Sochib merajalela, tak terkendali. Caranya, ajak penegak hukum mengambil alih pulau-pulau yang dikuasai keluarga Atut, lalu kembalikan kepada negara agar kembali bisa dinikmati rakyat miskin di Banten!

Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI