REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ani Yudhoyono secara mengejutkan
mengunguli Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo dalam tingkat
pengenalan (awareness) dalam survei Lembaga Focus Survey Indonesia (FSI). Ani, Megawati, dan Jokowi masuk dalam 20 nama yang layak menjadi capres.
"Hal mengejutkan tokoh muda yang sangat dikenal oleh masyarakat adalah Jumhur Hidayat dengan tingkat awareness mencapai
87 persen, di atas Gita Wiryawan, Mahfud MD, Yusril Ihza Mahendra, Din
Syamsuddin, Marzuki Alie, Surya Paloh, Sri Mulyani, dan Pramono
Edhie," kata Direktur FSI Nelly Rossa Juliana, di Jakarta, Jumat (2/8).
Untuk tingkat pengenalan (awareness) ke-20 nama tokoh
nasional yang layak menjadi capres adalah Ani Yudhoyono (99 persen),
Megawati Soekarnoputri (99,50 persen), Jokowi (97,30 persen), Basuki
Tjahaja P alias Ahok (97,30 persen), Prabowo Subianto (96,20 persen),
Sutiyoso (93,90 persen), Jusuf Kalla (91,40 persen), Aburizal Bakrie
(90,50 persen), Sri Sultan Hamengku Buwono X (90,30 persen), Wiranto
(87,40 persen), dan Moh Jumhur Hidayat (87,30 persen).
Selebihnya, sederet nama seperti Yusril Ihza Mahendra, Mahfud MD,
Din Syamsuddin, Sri Mulyani, Gita Wiryawan, Marzuki Alie, Surya Paloh,
dan Pramono Anung, mendapat prosentase perolehan suara di bawah Jumhur.
FSI menyelenggarakan survei itu dari 10-28 Juli lalu di 21 provinsi
yakni di Aceh, Sumut, Riau, Sumsel, Lampung, di seluruh provinsi di
Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulsel, Sulut, Kalbar, Kaltim, Kalsel, Maluku,
dan Papua terhadap 10.000 sampel responden yang memiliki hak pilih
dalam pemilu yang tersebar di 200 kabupaten/kota dalam 420 kecamatan
pada 5.000 kelurahan/desa.
Survei menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan toleransi kesalahan (margin of error)
2,5 persen pada tingkat kepercayaan 98 persen. "Responden menanggapi
20 nama tokoh yang kami sodorkan ke setiap respondon. Ke-20 nama itu
kami kumpulkan terlebih dahulu dengan berbagai pertimbangan popularitas
dan kiprahnya yang tercermin pada pemberitaan masing-masing tokoh,"
katanya.
Terkait dengan tokoh yang mampu menyelesaikan persoalan nasional,
nama Jumhur muncul lagi dengan prosentase yang tinggi bersama Prabowo
Subianto dan Megawati Soekarnoputri.
"Jumhur menjadi tokoh muda yang dianggap masyarakat dapat
menyelesaikan persoalan nasional karena dia merupakan pejabat negara
yang sangat baik dalam mengelola instansi yang dipimpinnya. Hal ini
tercermin dengan makin tertatanya perlindungan TKI, tidak adanya
korupsi di instansinya. Selain itu Jumhur mantan aktivis buruh yang
sangat dikenal di kalangan buruh yang dipastikan akan berpihak pada
rakyat kecil," kata Nelly.
Respondennya juga disodorkan pertanyaan siapa yang akan mereka pilih
bila Pemilu Presiden dilakukan hari ini. Pada peringkat pertama,
sebanyak 27,40 persen responden memilih Prabowo Subianto sedangkan
Megawati hanya 12,7 persen.
Tingkat keterpilihan Jokowi mencapai
11,3 persen, Wiranto 8,4 persen, Moh Jumhur Hidayat 6,3 persen
mengalahkan Hatta Rajasa 5,8 persen, Aburizal Bakrie 4,9 persen.
Jumhur Hidayat, katanya, bisa menjadi penarik suara bagi partai
politik jika jauh sebelum pemilu Jumhur dijadikan salah satu kandidat
calon presiden atau cawapres. Sementara 12 partai politik peserta
Pemilu 2014 pilihan responden adalah Gerindra 21,2 persen; PDI
Perjuangan 19,7 persen; Golkar 17,1 persen; Partai Demokrat 9,4 persen;
Hanura 7,9 persen; PKB 5,7 persen; PPP 5,1 persen; NasDem 4,3 persen;
PAN 3,8 persen; PKS 2,9 persen; PKPI 1,6 persen; dan PBB 1,3 persen.
Nelly mengaku lembaga surveinya independen dan membiayai sendiri
kegiatan survei tersebut tanpa sokongan dana dari salah satu calon atau
partai tertentu. "Begitu adanya yang kami peroleh dari responden,
semua bisa dibuktikan, tidak ada pesanan tertentu dari pihak manapun.
Kami sangat independen, dan sudah berpengalaman melakukan survei untuk
Pilkada DKI Jakarta, NTT, dan beberapa daerah lain yang ternyata
terbukti dengan calon yang menjadi pemenangnya," kata Nelly.
| Redaktur : Karta Raharja Ucu |
| Sumber : Antara |
