INILAH.COM, Jakarta - Momentum Idul Fitri sangat relevan
bagi para pemimpin untuk introspeksi dan bercermin diri. Adalah sangat
baik bila seorang pemimpin meminta maaf kepada rakyatnya di tengah
momentum Idul Fitri ini karena dia toh manusia biasa yang bisa khilaf
dan salah.
Selain Presiden SBY dan Prabowo dari Gerindra,
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, misalnya, menyatakan dalam merayakan
Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriah, seorang pemimpin juga perlu meminta
maaf kepada rakyatnya. "Apapun yang namanya pemimpin itu pasti ada
salahnya. Banyak kekeliruannya, mungkin dalam membuat kebijakan, mungkin
dalam memutuskan sesuatu," kata Jokowi, Kamis (8/8/2013) ini.
Para
analis menilai, tipikal pemimpin dengan integritas, rasa tanggung jawab
dan kepribadian kuat akan responsif atas derita rakyat sehingga tak
segan-segan meminta maaf kepada rakyat jika dirinya merasa berbuat
salah.
Menurut Wiliam James psikolog Harvard yang terkenal pada
abad 19, kepribadian yang kuat dan mantap dimulai sejak dewasa muda dan
ini akan menjadi ciri yang khas dari orang tersebut. Kepribadian adalah
pola pikiran, sikap, perasaan dan perilaku yang unik dari seseorang yang
menetap dan membuat orang ini spesial serta tidak ada yang seperti
dirinya. “Good personality” (kepribadian yang baik) adalah kepribadian
yang menyenangkan dan menarik bagi orang lain, yang membuat orang lain
merasa nyaman berada di dekatnya.
Para pemimpin yang bertanggung
jawab dan kompeten umumnya memilih menjadi diri sendiri. “Jadilah diri
sendiri yang otentik dan teruslah berkembang menjadi lebih baik,” ungkap
Mario Teguh, seorang motivator.
Dengan menjadi diri sendiri maka
keunikan membuat semakin percaya diri. Kepribadian semakin menarik,
apalagi ditambah dengan integritas dan sikap yang positif dalam berbagai
hal.
Oleh karena itu, Jokowi pun merasa integritas dan kompetensi
itu harus terus dijaga sehingga dirinya perlu
meminta maaf kepada
rakyat Jakarta dengan menghampiri rakyat bukan dihampiri rakyat. "Karena
yang banyak salah pemimpinnya, jadi ya kami yang datang minta maaf
dong, bukan rakyatnya yang ke kami,"
tegas Joko Widodo.
Pada
Lebaran hari pertama ini, SBY melakukan open house di istana, demikian
halnya para petinggi negara lainnya. Sementara Jokowi mendatangi
kampong-kampung di DKI Jakarta sebagai simbol permintaan maafnya kepada
warga Jakarta.
Momentum Idul Fitri adalah saat yang tepat bagi
pemimpin untuk meminta maaf, dan jangan ragu atau takut untuk itu. Para
pemimpin yang bijak dan baik, akan memperbaiki kualitas kinerja dan
kepemimpinannya setelah Idul Fitri berlalu, bukan sebaliknya. Tanggung
jawab mereka akan diadili di dunia dan di akhirat oleh Yang Maha Kuasa
sebagai pertanggungan jawab manusia di hadapan sang Khalik, bukan?
[berbagai sumber]
