INILAH.COM, Jakarta - Pada Ramadan dan Idul Fitri kali
ini, Joko Widodo (Jokowi) sebagai Gubernur DKI blusukan ke tengah
masyarakat ibukota, untuk mendengar langsung suara warganya. Presiden
SBY juga blusukan ke stasiun kereta, terminal bus hingga pelabuhan. Apa
perbedaan dan implikasinya?
Pro-kontra atas blusukan
Jokowi dan SBY ini, cukup bergema serta menimbulkan pro-kontra. Sebagian
warga masyarakat menilai blusukan Jokowi itu orisinal apa adanya.
Sebagian loyalis/penggemar Presiden SBY pun berpendapat SBY melakukan
hal yang sama. Jadi, sama-sama bermaksud baik,
Tentu berbeda kalau
membandingkan lawatan/blusukan SBY dengan blusukan Jokowi selama
Ramadan saat ini dan Lebaran nanti. Dampak dari aksi turun ke bawah oleh
kedua orang tersebut memiliki nilai dan makna yang berbeda.
Pertama,
blusukan Jokowi dipersepsikan rakyat orisinal, otentik dan tulus.
Sementara blusukan SBY masih baru, meski memang sudah turun ke bawah,
namun auranya tidak sedahsyat blusukan Jokowi.
Kedua, Jokowi bisa
blusukan masuk gorong-gorong got berdiameter 70 cm. Ketiga, Jokowi
blusukan dilakukan hampir setiap minggu dengan tujuan menyapa rakyat.
Sementara blusukan SBY masih baru dan justru dibaca rakyat untuk
mendongkrak citra dan kepentingan tertentu.
Keempat, Jokowi
blusukan sebagai bagian dari pekerjaan rutin. SEmentara apa yang
dilakukan Presiden tak bisa lepas dari persepsi publik sebagai sebuah
pencitraan diri karena belum berhasil dalam memecahkan masalah riil
seperti ketidakadilan, marginalisasi ekonomi rakyat, kartelisme dan
oligarkisme.
Para analis melihat, blusukan SBY belum mampu
mengalahkan pamor blusukan Jokowi, malah sering menjadi pertanyaan
publik karena terkesan tak otentik. Blusukan Jokowi tanpa mengenakan
baju dinas namun selalu bisa dikenali. Sementara blusukan SBY dengan
pakaian resmi. ''Itulah repotnya kalau Pak SBY meniru Jokowi dengan
melakukan model blusukan, karena akan dilihat sebagai mengekor, meski
sah saja,'' kata pengamat politik Frans Aba MA.
Yang jelas,
blusukan SBY pun masih bermanfaat meski tidak berdampak sedahsyat
Jokowi. Namun, yang penting adalah SBY harus serius mendengar aspirasi
dan kondisi rakyat kemudian meneruskan aspirasi itu.
Mengingat ini
Ramadan dan Lebaran, kepada Presiden SBY maupun Jokowi jangan sampai
masyarakat ada prasangka buruk, sebab prosesi blusukan kedua sosok itu
sedang berjalan, dengan kelebihan dan kekurangan. Semua itu manusiawi,
dan ada baiknya publik berempati. [berbagai sumber]
