INILAH.COM, Jakarta - Pernyataan anggota Dewan Pembina Partai
Demokrat Hayono Isman terkait pelaksanaan konvensi capres Partai
Demokrat disebabkan karena partai itu kehilangan sosok Anas Urbaningrum
menuai kritikan.
Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Marzuki Alie membantah konvensi capres Partai Demokrat digelar karena kehilangan sosok potensial seperti Anas Urbaningrum.
"Saya kurang sependapat, konvensi ini justru memberi ruang demokrasi bagi kader untuk menunjukkan kesiapannya ke publik bahwa Partai Demokrat punya capres yang bisa diandalkan. Selama ini kader bersifat pasif, ewuh pakewuh, karena semuanya menunggu titah SBY sebagai ikon Partai Demokrat," ujar Marzuki di Jakarta, Sabtu (3/8/2013).
Dia mengatakan wacana konvensi Partai Demokrat sudah ada sejak Anas menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Namun pada waktu itu seluruh kader masih pasif soal wacana tersebut.
"Beberapa kali SBY meminta kader untuk berkampanye, tapi tidak direspon oleh kader. Makanya ruang ini dibuka agar kader tidak ragu-ragu untuk menyatakan kesiapannya untuk menjad presiden," imbuhnya.
Marzuki menilai Anas Urbaningrum sebagai kader muda Demokrat yang potensial. Namun hal itu belum bisa menjadi ukuran untuk menjadikannya sebagai salah satu kandidat capres.
"Muda bukan ukuran untuk siap menjadi presiden, tapi muda dengan track record yang membuktikan kapasitas, kompetensi, karakter, integritas yang kita usung sebagai capres," terangnya.
Marzuki menegaskan posisi Anas yang menjadi Ketua Umum Partai Demokrat pada waktu itu tidak menjadi jaminan akan dimajukan sebagai capres Partai Demokrat.
"Persoalannya belum lazim di Indonesia ini yang bukan ketum diberi ruang oleh ketumnya untuk maju sebagai capres, biasanya ruang itu dipakai sendiri oleh ketumnya," imbuhnya.
Meski begitu, Marzuki mengakui realisasi konvensi Partai Demokrat dipaksakan karena sebelumnya konvensi terbuka ini tidak masuk dalam agenda politik Demokrat.
"Suatu keterpaksaan artinya dilaksanakan tanpa rencana. Semua sadar di Partai Demokrat cukup banyak kader, tapi apakah kader ini bisa diterima masyarakat, maka konvensi ini ujiannya," ujarnya.
Sebagaimana diberitakan, Anas terpilih menjadi ketua umum Demokrat dalam kongres yang digelar pertengahan 2010. Kini, ia berstatus sebagai tersangka kasus proyek pembangunan kompleks olahraga di Hambalang, Jawa Barat, sejak Februari lalu. [rok]
Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Marzuki Alie membantah konvensi capres Partai Demokrat digelar karena kehilangan sosok potensial seperti Anas Urbaningrum.
"Saya kurang sependapat, konvensi ini justru memberi ruang demokrasi bagi kader untuk menunjukkan kesiapannya ke publik bahwa Partai Demokrat punya capres yang bisa diandalkan. Selama ini kader bersifat pasif, ewuh pakewuh, karena semuanya menunggu titah SBY sebagai ikon Partai Demokrat," ujar Marzuki di Jakarta, Sabtu (3/8/2013).
Dia mengatakan wacana konvensi Partai Demokrat sudah ada sejak Anas menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Namun pada waktu itu seluruh kader masih pasif soal wacana tersebut.
"Beberapa kali SBY meminta kader untuk berkampanye, tapi tidak direspon oleh kader. Makanya ruang ini dibuka agar kader tidak ragu-ragu untuk menyatakan kesiapannya untuk menjad presiden," imbuhnya.
Marzuki menilai Anas Urbaningrum sebagai kader muda Demokrat yang potensial. Namun hal itu belum bisa menjadi ukuran untuk menjadikannya sebagai salah satu kandidat capres.
"Muda bukan ukuran untuk siap menjadi presiden, tapi muda dengan track record yang membuktikan kapasitas, kompetensi, karakter, integritas yang kita usung sebagai capres," terangnya.
Marzuki menegaskan posisi Anas yang menjadi Ketua Umum Partai Demokrat pada waktu itu tidak menjadi jaminan akan dimajukan sebagai capres Partai Demokrat.
"Persoalannya belum lazim di Indonesia ini yang bukan ketum diberi ruang oleh ketumnya untuk maju sebagai capres, biasanya ruang itu dipakai sendiri oleh ketumnya," imbuhnya.
Meski begitu, Marzuki mengakui realisasi konvensi Partai Demokrat dipaksakan karena sebelumnya konvensi terbuka ini tidak masuk dalam agenda politik Demokrat.
"Suatu keterpaksaan artinya dilaksanakan tanpa rencana. Semua sadar di Partai Demokrat cukup banyak kader, tapi apakah kader ini bisa diterima masyarakat, maka konvensi ini ujiannya," ujarnya.
Sebagaimana diberitakan, Anas terpilih menjadi ketua umum Demokrat dalam kongres yang digelar pertengahan 2010. Kini, ia berstatus sebagai tersangka kasus proyek pembangunan kompleks olahraga di Hambalang, Jawa Barat, sejak Februari lalu. [rok]
