Headlines News :
Home » » Konvensi Demokrat Tak Bisa Lepas dari Kritik Tajam

Konvensi Demokrat Tak Bisa Lepas dari Kritik Tajam

Written By Unknown on Selasa, 06 Agustus 2013 | 02.26

INILAH.COM, Jakarta – Konvensi Partai Demokrat (PD) menimbulkan apresiasi sekaligus kritik karena berbagai faktor yang mengitarinya. Apa saja?

Pada satu sisi, Konvensi Partai Demokrat diapresiasi sepanjang hal itu dilakukan secara terbuka, kredibel, jujur,adil dan obyektif. Namun,di sisi lain, Demokrat dikritik karena menggelar konvensi penjaringan calon presiden (capres) dengan mengundang tokoh independen dan melibatkan lembaga survei untuk penentuan pemenangnya yang sulit diterima logika. Konvensi capres ala partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu malah dianggap sebagai cara mempermalukan tokoh-tokoh yang memiliki kapabilitas dan integritas.

Menurut Koordinator Kajian Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia, Girindra Sandino, ada beberapa hal dalam konvensi capres PD yang perlu dicermati. Yang pertama adalah konvensi ini hanya untuk memunculkan dan melempangkan capres yang menjadi putra mahkota Cikeas. Konvensi kemungkinan sebagai jalan masuk putra mahkota. Sebagaimana diberitakan sejumlah media, SBY menyebut sejumlah nama yang akan ikut konvensi, salah satunya mantan Kepala Staf Angkatan Darat Pramono Edhie Wibowo.

Kedua, Mekanisme konvensi yang akan digelar Partai Demokrat diyakini tak akan menghasilkan capres berkualitas karena mengandalkan pembiayaan besar dari peserta, sehingga hanya akan menghasilkan capres berduit.

"Kalau memang ingin mencari pemimpin sebaiknya Demokrat membiayai sepenuhnya dana konvensi. Banyak orang yang jujur dan baik justru malah tidak bisa maju," ujar Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampow

Ketiga, kemungkinan konvensi dilakukan untuk melepaskan pandangan yang selama ini menganggap PD 
menganut praktik partitocrazia. Artinya, sebagai partai PD terus jualan demokrasi tapi pada praktiknya tetap menjadi pemain utama dengan melakukan invasi, intrusi, serta penetrasi di berbagai lembaga negara dan publik.

Dan pandangan tersebut muncul setelah melihat tujuh aturan pokok konvensi yang disampaikan SBY selaku Ketua Majelis Tinggi PD, termasuk soal pembentukan komite konvensi yang terdiri dari tokoh-tokoh independen.

Sejauh ini komite konvensi yang terdiri dari tokoh-tokoh independen itu, merupakan suatu kejanggalan secara akal sehat politik. “Makanya timbul dugaan apakah ini dilakukan ingin melepas partitocrazia?” ujar Girindra di Jakarta, Minggu (4/8).

Catatan keempat, pelaksanaan konvensi kemungkinan juga akan mempermalukan tokoh-tokoh partai politik 
jika nantinya penilaian terhadap para peserta konvensi dilakukan oleh lembaga survei yang belum diketahui 
kredibilitas, integritas maupun independensinya.

Ia mencontohkan beberapa ketika tokoh-tokoh peserta konvensi dengan visi, misi dan rekam jejak yang baik harus mental karena dikalahkan lembaga survei. “Maka di mata publik disadari atau tanpa disadari, tokoh peserta konvensi tersebut akan jatuh reputasi politiknya,” ujar Girindra.

Kelima, -Konvensi yang digelar Partai Demokrat untuk mencari calon presiden yang akan diusung pada Pilpres 2014 dianggap malah membebani partai berlambang bintang mercy itu. Pasalnya, penyelenggaraan agenda sarat dengan permainan beberapa petinggi Demokrat.

"Konvensi itu menaruh kecurigaan dan hanya membebani elektabilitas dan popularitas Demokrat saja," ujar Koordinator Komite Pemilih Indonesia, Jeirry Sumampow,

Catatan keenam, pelaksanaan konvensi dinilai juga sebagai salah satu upaya PD dalam menjaring juru kampanye gratis dan sekaligus ajang kampanye dini. Menurut Girindra, konvensi itu juga sebagai upaya PD memulai kampanye lebih dini dengan membawa para peserta konvensi turun ke bawah selama empat bulan untuk sosialisasi. "Artinya peserta konvensi melakukan semacam juru kampanye gratis partai Demokrat dan curi start dalam kampanye,” ujarnya.

Ketujuh, KIPP juga menganggap janggal pelaksanaan konvensi secara semi-terbuka. Sebab, hal itu mengesankan PD demokratis tapi keputusan akhirnya tetap di tangan SBY. “KIPP juga mencatat konvensi dibuat selain untuk menunjukan seolah-olah demokratis juga merupakan taktik serangan terhadap oligarki parpol. Di samping itu, konvensi juga untuk menjaring sekutu taktis,” katanya. [berbagai sumber]
Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI