Headlines News :
Home » » (Calon) Presiden Wajib Ubah Paradigma

(Calon) Presiden Wajib Ubah Paradigma

Written By Unknown on Senin, 12 Agustus 2013 | 13.58

INILAH.COM, Jakarta - Menjelang Pilpres 2014, sejumlah sosok yang menganggap diri mereka mampu menjadi Presiden RI lima tahun ke depan, sudah mulai mewacanakan visi dan misi masing-masing. Ada yang cukup jelas, tapi ada yang masih kabur atau baru sekadar sebuah jargon maupun copy-paste (penjiplakan).

Pemilu Presiden akan digelar Juli 2014, tapi hingga Agustus 2013, masih banyak bertanya siapa sebetulnya Capres yang paling pas menggantikan SBY. Bahkan ada persepsi, semua calon yang disebut-sebut dan telah menampakkan diri saat ini merupakan orang-orang yang masuk kategori terbaik di antara yang terburuk (the best amongst the worst).

Persepsi tersebut terbentuk karena dari visi dan misinya, para calon tdak atau belum ada yang memberikan porsi besar terhadap kebijakan internasional. Memberi kesan para Capres bukan berkategori negarawan. Capres yang ada, hanya besar dalam semangat, tetapi sempit dalam wawasan.

Padahal semua kejadian di Indonesia, semua persoalan yang dihadapi bangsa di dalam negeri, tidak lepas dari pengaruh perubahan dunia. Interdependensi Indonesia dengan negara-negara di dunia, tak terhindarkan. Naiknya harga daging impor merupakan salah satu contoh konkrit. Sehingga ke depan seorang Presiden RI tidak cukup hanya dengan takaran yang ada saat sekarang.

Masalah HAM yang bagi negara sahabat sudah sangat penting, di Indonesia baru dilihat sebagai sebuah budaya baru yang muncul akibat terjadinya reformasi 1998. Penegakkan HAM hampir sama beratnya dengan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup.

Lingkungan sehat sulit dimengerti karena ada pemahaman, lingkungan yang bersih, masih terlalu mahal bagi bangsa Indonesia. Padahal seorang Capres 2014, seharusnya sudah lebih siap, lebih berwawasan, setelah belajar dari para Presiden sebelumnya.

Capres 2014 harus mampu menawarkan sebuah konsep yang dapat menjawab segala tantangan dan persoalan besar. Semua tantangan Indonesia berada di depan mata. Tantangan itu berupa kemampuan rezim baru dalam menghadapi perubahan dunia akibat terjadinya perubahan dalam konstalasi politik dan ekonomi dunia. Indonesia harus keluar sebagai pemenang dari persaingan itu. Bukan sebaliknya, pecundang !

Kehadiran BRICS, perkumpulan lima negara yang terdiri atas Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan jelas mengganggu perkumpulan G-7 (Group of Seven) yang terdiri atas Amerika Serika Serikat, Kanada, Jepang, Inggeris, Jerman, Prancis dan Italy.

Oleh sebab itu BRICS harus menjadi bagian dari agenda (pemimpin) Indonesia. Sikap Indonesia terhadap BRICS tidak boleh tanpa kejelasan. BRICS bukanlah sebuah Gerakan Non-Blok (GNB). Sehingga sebagai anggota GNB, posisi itulah yang jadi pilihan Indonesia.

Salah satu agenda BRICS adalah menghapus dolar Amerika Serikat sebagai mata uang dunia (internasional). BRICS juga ingin meniadakan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), dua lembaga keuangan internasional yang berpusat di Washington. Oleh sementara kalangan IMF dan Bank Dunia disebut sebagai penyebar virus kemiskinan.

Bayangkan Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang tak terbatas, setelah menggunakan konsep dan teori serta bantuan IMF dan Bank Dunia - bukannya menjadi negara maju. Tapi sebuah negara yang memiliki rakyat miskin, lebih besar dari total penduduk Malaysia.

Apa antisipasi Indonesia bila dolar digantikan oleh salah satu mata uang BRICS? Bagaimana Indonesia menyelesaikan utang-utang luar negeri, jika Bank Dunia dan IMF yang dikenal sebagai "komisioner", benar-benar dihapus. Perlukah Indonesia bergabung dengan BRICS atau apa untung ruginya bagi Indonesia atas kehadiran konsorsium baru itu, jika tanpa harus menjadi anggota?

Salah satu kekuatan BRICS terletak pada jumlah penduduk. Dengan dua anggotanya saja: China (1,3 miliar orang) dan India (1 miliar), perkumpulan baru ini dari segi pasar, sudah tak tertandingi oleh G-7. Tanpa kita sadari, besarnya jumlah penduduk, kini dijadikan sebagai alat pemukul ataupun bargaining. Persoalan Indonesia, bagaimana memanfaatkan ledakan penduduk untuk posisi yang lebih baik. Ini tugas seorang Presiden 2014.

Jelasnya, peta dunia politik dan ekonomi telah mengalami perubahan secara drastis dan fundamental. Perubahan teranyar lainnya terjadi di Korea Selatan. Negara ini sampai 1998, hanya dikenal sebagai Negeri Ginseng. Sebagai eksportir obat herbal, Korea Selatan tidak pernah diperhitungkan. Korea Selatan masih dianggap sebagai negara yang setara dengan Singapura bahkan Thailand.

Tapi sejatinya sejak lima tahun terakhir ini, Korea Selatan mengalami perubahan dan pertumbuhan yang cukup dahsyat. Korea Selatan sudah mengungguli Jepang. Keunggulan Korea Selatan atas Jepang, bisa dilihat dari kehadiran produk elektronik dan otomotif, plus budaya. Samsung misalnya, telah mengalahkan Sonny (Jepang) di hampir semua lini. Atau Hyundai yang sudah menyaingi Honda dan Nissan.

Di dunia musik pop, K-Pop atau penyanyi-penyanyi muda Korea Selatan telah mampu menembus pertahanan musik Barat, sesuatu yang tidak pernah terjadi di masa jayanya Jepang. K-Pop tidak kalah dengan Westlife ataupun New Kids On The Block.

Dalam olahraga golf, sebuah cabang yang menyediakan hadiah uang yang relatif terbesar di antara semua cabang olahraga, memiliki jumlah pegolf Korea Selatan yang cukup banyak. Pegolf Korea Selatan yang berkiprah di PGA (Professional Golf Association), jauh lebih banyak dibanding Jepang. Demikian pula pegolf Korea Selatan yang memenangi kejuaraan bergengsi dalam 5 tahun terakhir ini, telah melampaui prestasi Jepang.

Ironisnya perubahan atau berubahnya persaingan Korea Selaran dan Jepang, hingga saat ini, di Indoneia belum dilihat sebagai sebuah perubahan yang penting.

Lalu demokrasi ala Korea Selatan di bawah Presiden yang baru saat ini, menunjukkan bakal terjadinya rekonsiliasi dengan Korea Utara. Tapi Indonesia sepertinya tidak bergeming dengan perubahan di semenanjung Korea itu.

Di luar Asia, para calon pemimpin Indonesia agaknya masih terus memperhitungkan kedigdayaan Amerika Serikat dan Eropa. Padahal ketahanan dan kekuatan ekonomi dua blok negara di atas, sudah menurun jauh.
Amerika Serikat berhasil menempatkan "wonder general"-nya SBY sebagai pemimpin nasional. Lantas apa hasil dan faedahnya bagi rakyat Indonesia ?

Fakta ini semestinya menyadarkan kepada para Capres agar mereka segera mengubah paradigma tentang bagaimana menghadapi "campur tangan" dan pengaruh AS. Buang jauh-jauh segala momok yang bernada bahwa Amerika Serikat masih mampu memakmurkan Indonesia, seperti halnya yang dilakukannya di pemerintahan Jenderal Soeharto.

Kepentingan Amerika Serikat di Indonesia, tidak lagi sama dengan 50 tahun lalu. Di era Perang Dingin, sebagai pemimpin negara anti komunis, Amerika Serikat berkepentingan agar Indonesia tidak jatuh ke tangan atau pengaruh komunis.

Oleh sebab itu dengan perubahan yang ada calon Presiden RI pun tidak cukup dengan hanya bermodalkan konsep usang. Paradigma seorang Capres yang akan memimpin Indonesia mulai 20 Oktober 2014 kalau mungkin seorang yang "nothing to lose".

Ia harus mampu meyakinkan semua bangsa di dunia bahwa keberhasilan Indonesia menjadi sebuah negara maju, merupakan sebuah hak azasi yang paling fundamental. Keberhasilan Indonesia menjadi sebuah negara maju, akan ikut menciptakan kesejahteraan bangsa-bangsa lain.

Oleh sebab itu negara asing tidak punya hak untuk melarang dan menghalang-halangi Indonesia menjadi negara maju. Dalam rangka itu, negara-negara asing yang melakukan investasi di Indonesia, harus punya tanggung jawab seperti sebuah perusahaan multi nasional yang punya program CSR (Customer Social Responsibility). Sekian persen keuntungannya harus ditinggal di Indonesia.

Negara atau perusahaan asing yang tidak setuju Indonesia menjadi sebuah negara maju harus dibatasi ruang geraknya. Bahkan asing yang tidak mau berbagi, bila perlu dinasionalisasi! Calon Presiden RI harus punya strategi mengembalikan martabat Indonesia. [mdr]

Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI