Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto, duetnya dengan pengusaha Hary
Tanoesoedibjo, merupakan langkah yang paling baik, bahkan di mata
masyarakat. Sebab, kata Wiranto, dirinya ingin memberikan keyakinan
kepada masyarakat bahwa Indonesia bisa bersatu dengan mencontohkan
perbedaan yang ada antara dirinya dan Hary Tanoe.
"Pak Hary Tanoe yang beda etnik dan beda profesi dan beda generasi saya ingin memberikan satu contoh bukan hanya akan tapi sudah seyogyanya Indonesia ini tidak terkotak-kotak lagi antaretnik karena kita membutuhkan kebersamaan," kata Wiranto di Gedung DPR, Jumat 19 Juli 2013.
Bahkan, dengan pendeklarasian ini, kata Wiranto, banyak masyarakat yang memberikan aspirasi. "Saya gembira kalau melihat survei yang dua minggu baru kami deklarasikan sudah cukup naik secara signifikan," ujar dia.
Kalah atau menang, kata Wiranto, adalah soal yang kedua. Sebab, yang paling penting, setidaknya partainya bisa membangun budaya baru dengan mendeklarasikan pasangan capres dan cawapres lebih awal.
Biasanya, kata Wiranto, setelah selesai pemilihan legislatif, baru partai politik memilih-milih pasangan capres dan cawapres. Sementara pada saat pilih-pilih pasangan itu, ada negosiasi dan pembagian jatah menteri. Orientasi seperti itulah, kata Wiranto, yang harus ditinggalkan. Sebab, UUD 1945 juga sudah menyatakan presiden dan wapres diusulkan parpol atau gabungan parpol.
"Kalau UUD katakan seperti itu kami menafsirkan kami secara lebih awal mendeklarasikan pasangan kami dengan harapan kami masyarakat bisa menilai lebih awal bukan hanya promosi kami saling mengisi dan bekerjasama," ujar dia.
"Pak Hary Tanoe yang beda etnik dan beda profesi dan beda generasi saya ingin memberikan satu contoh bukan hanya akan tapi sudah seyogyanya Indonesia ini tidak terkotak-kotak lagi antaretnik karena kita membutuhkan kebersamaan," kata Wiranto di Gedung DPR, Jumat 19 Juli 2013.
Bahkan, dengan pendeklarasian ini, kata Wiranto, banyak masyarakat yang memberikan aspirasi. "Saya gembira kalau melihat survei yang dua minggu baru kami deklarasikan sudah cukup naik secara signifikan," ujar dia.
Kalah atau menang, kata Wiranto, adalah soal yang kedua. Sebab, yang paling penting, setidaknya partainya bisa membangun budaya baru dengan mendeklarasikan pasangan capres dan cawapres lebih awal.
Biasanya, kata Wiranto, setelah selesai pemilihan legislatif, baru partai politik memilih-milih pasangan capres dan cawapres. Sementara pada saat pilih-pilih pasangan itu, ada negosiasi dan pembagian jatah menteri. Orientasi seperti itulah, kata Wiranto, yang harus ditinggalkan. Sebab, UUD 1945 juga sudah menyatakan presiden dan wapres diusulkan parpol atau gabungan parpol.
"Kalau UUD katakan seperti itu kami menafsirkan kami secara lebih awal mendeklarasikan pasangan kami dengan harapan kami masyarakat bisa menilai lebih awal bukan hanya promosi kami saling mengisi dan bekerjasama," ujar dia.
