TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Setelah yakin dengan rencananya maju sebagai calon presiden 2014-2019, Mahfud MD kini memetakan partai yang akan menjadi kendaraan politiknya.
Pilihan telah mengerucut, antara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atau melalui jalur konvensi yang diadakan Partai Demokrat.
Pada
19 Juli 2013, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menggelar acara
soft launching "MMD Initiative", sebuah lembaga yang didirikannya
sebagai pusat dan sosialisasi gagasan serta kegiatan dirinya menyongsong
waktu pemilihan presiden. Saat itu, Mahfud menyatakan bahwa terminal
politiknya adalah PKB.
Bagi Mahfud, PKB adalah alat politik resmi
Nahdlatul Ulama, dan terminal politiknya. Mahfud sempat menjadi kader
PKB sebelum akhirnya keluar setelah terpilih sebagai Ketua MK. Terkait
konvensi, beberapa waktu lalu putra asli Madura ini belum mengakui
ketertarikannya dengan alasan banyak hal yang ia pertanyakan. Khususnya
mengenai aturan main konvensi.
Namun, pada Jumat (26/7/2013),
Mahfud menyatakan tertarik mengikuti konvensi. Hal itu didasari oleh
sejumlah jaminan yang diberikan kepada peserta konvensi dan diketahui
Mahfud dari surat undangan mengikuti konvensi yang diterimanya dari
Majelis Tinggi Partai Demokrat.
Hal-hal yang membuat Mahfud
tertarik pada konvensi capres Demokrat karena Majelis Tinggi Partai
Demokrat menjamin konvensi dilaksanakan oleh Komite Konvensi yang
independen dan jaminan tak ada kandidat yang dianakemaskan dalam
konvensi tersebut.
Selain itu, Mahfud mengaku tertarik karena
penentu pemenang konvensi bukanlah dari internal Partai Demokrat atau
Komite Konvensi, melainkan hasil survei yang dilakukan oleh sejumlah
lembaga survei pada masyarakat pemilih.
Terakhir, Demokrat juga
menjamin akan difasilitasinya seluruh peserta konvensi saat melakukan
sosialisasi terkait kegiatan konvensi. Namun, Mahfud belum membuat
keputusan jalur mana yang akan dipilihnya untuk maju sebagai calon
presiden. Keputusan finalnya, kata Mahfud, akan disampaikannya sekitar
September 2013 nanti.
"Tidak lama, saya kira sebelum bulan
September harus sudah ada sikap politik yang jelas, pilih apa, ikut
mana, atau tidak ikut apa-apa," kata Mahfud, Jumat (26/7/2013).
Sebagai catatan, Mahfud yakin maju sebagai calon presiden
dengan alasan ingin melayani dan memperbaiki administrasi pemerintahan
yang saat ini ia anggap masih jeblok. Baginya, tokoh-tokoh nasional yang
saat ini telah mendeklarasikan diri atau digadang-gadang menjadi calon
presiden, lambat laun jumlahnya akan menyusut.
Terlebih, setelah
hasil pemilihan legislatif diketahui, ia prediksi akan ada tokoh yang
"gagal nyapres" lantaran partai pengusungnya tak memenuhi presidential
threshold.
Oleh karena itu, Mahfud terus membuka komunikasi dengan
seluruh partai politik peserta pemilu 2014, dan
ormas islam serta
sejumlah pimpinan dan santri di pesantren yang akan menjadi basis
pemilihnya. Mahfud berjanji, akan bertarung sebagai calon presiden dengan cara yang elegan.
Bila
terpilih jadi presiden, kata Mahfud, sasaran utama yang akan ia
perjuangkan adalah menegakkan
hukum. Ia berambisi mewujudkan Indonesia
menggunakan supremasi hukum sebagai panglima baru. Alasannya, di zaman
Bung Karno, panglimanya adalah politik, dan jatuh. Setelah itu masuk era
Orde Baru yang menjadikan ekonomi sebagai panglimanya, dan tetap saja
jatuh.
"Nah sekarang kami tawarkan panglima hukum, semuanya kita
kawal dengan hukum. Karena setelah saya renungkan, semua program sudah
kita miliki, tapi hukumnya ini yang ditegakkan lemah," ujarnya.
Mahfud
juga sempat menyampaikan bahwa dirinya akan mendukung capres lain yang
dianggapnya potensial, mampu membawa perubahan, dan memiliki track
record menjanjikan. Karena niatnya maju sebagai capres hanya untuk
menjadi alternatif dari alternatif calon yang sudah ada. Mahfud yakin,
presiden di 2014 nanti sesuai dengan rencana Tuhan. Ia pun memilih
mengalir, dan tampil sebagai calon presiden yang "seadanya".
Indra Akuntono/ Ingrid DW
